
Membesarkan putranya dengan kehangatan dan penuh cinta. Memberikan nafkah dan fasilitas yang layak, setidaknya tak perlu berpanas-panas dan mengejar angkutan umum.
Aji terus membayangkan betapa Indah hidupnya bila bisa kembali bersama Nana. Menikahinya dan bertanggung jawab atas semua. Mungkin sekarang akan ada masakan yang di buat dengan penuh cinta. Ada tutur kata yang lembut, halus dan menyejukkan sekaligus menyemangatinya tiap down. Ada tangan lembut yang mengusap wajah lesunya tiap pulang kerja lalu mengecup keningnya meskipun sambil berjinjit itupun Aji masih menunduk, lalu ada paha yang duduk bersimpuh sambil bersandar agar ia nyaman berbantalkan paha sambil mencurahkan meruwetan harinya dengan tangan yang selalu mengelus rambutnya.
"Mas... " panggil Wulan memecahkan lamunan Aji dengan angan dan penyesalannya. "Makan yuk... Mienya dah aku siapin... " ajaknya dengan senyum manis yang menghiasi paras ayunya.
"Iya... " jawab Aji lalu bangun beranjak dari tempatnya berangan-angan.
"Mas, ternyata ku hitung lagi kamu ini kere sekali ya... Masak penghasilanmu cuma dua lima juta... Ga ada seperempatnya dari penghasilan bunga depositoku... " ucap Wulan yang selalu mengajak membahas soal harta, kalau tidak ya soal jabatan dan partai.
Inilah yang membuat Aji ilfil dan kesal tapi terus coba ia tahan demi eyang dan keluarganya. Hal inilah yang membuat Aji merasa Nana yang terbaik dan seharusnya menjadi pendamping hidupnya.
"Aku bercanda... " ucap Wulan berusaha mencairkan suasana lalu mengecup bibir Aji yang dari tadi diam membisu.
●●●
"Bapak... " panggil Alif yang berjalan pulang dari masjid setelah solat dzuhur bersama pak Janto.
Pak Janto langsung menatapnya dan memperlambat langkah.
"Tadi aku sama mama di kejar orang aneh... Dia tarik mama sama aku terus ikutin terus... " ucap Alif mulai menceritakan apa yang tadi ia alami. "Aku takut sekali terus di gendong mama, mama juga takut terus di paksa duduk gitu terus tadi aku sama mama kabur... " sambung Alif lagi dengan wajahnya yang serius.
Apa jangan-jangan ketemu si Aji lagi? Batin pak Janto penug tanya.
"Tadi harusnya aku bawa senjataku biar dia pergi... Tadi aku dah bilang jangan ikut ! Pergi sana! Dia ngeyel malah ikut terus... " Alif terus bercerita sampai di rumah.
"Na tadi kamu ketemu siapa? " tanya pak Janto begitu masuk rumah dan mendapati Nana yang tengah memasak.
"Anu pak... Tadi ketemu sama mas Aji... " ucap Nana yang membuat pak Janto terperanjat.
Susah payah ia kabur dan pindah rumah demi pergi jauh dari Aji dan keluarganya. Bagaimana bisa sekarang Nana dan Alif yang dulu di buang dan di usir-usir bertemu kembali.
"Kamu pindah saja sama Alif ke rumah om sama tantemu... Kamu kuliah saja di sana... Alif juga biar sekolah di sana... Biar bapak yang di sini... Biar kamu ga di ganggu si borokokok itu lagi... " ucap pak Janto serius dengan berbisik agar Alif tidak mendengarnya.
Nana terdiam penuh pertimbangan. Mulai dari usaha kecilnya yang sudah jalan, tetangga sekitar yang tak tau siapa Nana sebenarnya. Teman-teman Alif nantinya, TPA dan lainnya begitu Nana pikirkan. Belum lagi pak Janto yang makin tua, jelas Nana tak tega meninggalkannya sendiri.
"Terus bapak gimana? " tanya Nana.
"Gampang... Nanti kamarnya yang ada bisa bapak sewain biar ada temen... Kalo ga ya sendiri gapapa... Yang penting kamu ga ketemu sama dia lagi... " jawab pak Janto.
"Biar Nana pikir dulu pak... "