
Arif menatap Zulia yang makan dengan begitu banyaknya, sudah hamil tambah makan banyak pula makin bengkaklah tubuhnya. Zulia tak menarik lagi di mata Arif. Sangat berbeda dengan Nana. Dulu saat susah saja Nana bisa merawat diri dengan baik apa lagi sekarang saat menjadi seorang nyonya.
Pernah sekali Arif melihat Nana sedang membeli sayur di tukang sayur yang lewat depan rumahnya. Dengan daster dan rambutnya yang di cepol. Nana masih tampil dengan tubuh yang begitu terjaga, dan sekarang makin terjaga dan terawat. Tapi sayang saat Arif akan menyapa Nana, Aji muncul dan ikut menemani Nana belanja.
Keduanya tampak begitu serasi dan bahagia. Begitu berbeda dengan Arif dan Zulia, bahkan saat ini menjamah Zulia pun Arif sudah tak berselera. Tak hanya tak berselera, bahkan saat Zulia yang meminta dan menawarkan diri Arif sudah sama sekali tak berminat lagi. Sangat jauh berbeda dengan Nana.
Nana yang terasa begitu menggoda dengan kesederhanaannya dan caranya yang apa adanya. Arif terus saja bernostalgia soal Nana. Bila dulu Nana tak memiliki sosial media selain Whatsapp, sekarang Nana memiliki instagram yang di isi kegiatan rumahannya seperti memasak, menyiapkan bekal, liburan keluarga, bercocok tanam yang terus di updatenya.
Melihat postingannya saja sudah cukup membawa Arif kembali berkhayal hidup bersama dengan Nana kembali. Begitu berbeda dengan postingan istrinya yang isinya barang dagangan yang tak kunjung laku.
Nana juga kadang berjualan, iseng berjualan lebih tepatnya. Menjual masakan buatannya yang di jual begitu limited edition, maksimal lima porsi menu. Arif yakin pembelinya pasti hanya keluarga Nana saja, karena memang Nana tak punya teman dekat.
"Kamu ini kapan bisa jadi suami yang berguna mas? Liat suaminya mantanmu itu, rumahnya gede, ada acnya gak panas kayak di sini. Mana kipas anginnya masih di bengkel... " gerutu Zulia yang hampir, ralat, memang tiap hari menjadi sambutan bagi Arif yang baru pulang kerja.
Arif ingin sekali berkata, ini resiko menikah dengannya. Sudah jelas ia seperti apa, masih saja Zulia nekat jatuh Cinta sampai berselingkuh hingga zina. Harusnya sudah tau resikonya. Tapi Arif tak sampai hati untuk mengucapkannya. Bukan tak sampai hati sebenarnya, tapi Arif enggan cekcok dan berlama-lama adu mulut dengan Zulia yang makin lama makin ke kanak-kanakan. Bahkan rasanya menasehati Alif terasa lebih mudah dari pada Zulia yang terus mengeluh ini.
"Aw! Mas dedeknya nendang-nendang... " ucap Zulia mencoba menarik perhatian Arif.
Anak di perut Zulia bagi Arif tak lebih dari seorang anak yang di ciptakan untuk mengikatnya. Untuk merebutnya dari Nana. Bila Arif mengingat kembali bagaimana Zulia menggodanya dengan segala bentuk ketertarikannya, caranya mendesak Arif untuk bercerai, hingga modus-modus yang lain. Ah sungguh membuat Arif menyesal sejadi-jadinya. Melepaskan Nana dan Alif merupakan kesalahan terbesarnya.
Hidup bersama Zulia terasa seperti hidup di neraka. Rumah berantakan, istri bau badan, belum lagi suka mengomel dan mengkritik. Ingin di tinggal tapi sedang hamil. Kalau saja bukan karena hamil dan perintah agama yang melarang untuk meninggalkan wanita hamil. Sudah dapat di pastikan kalau Arif akan pergi, lari sipat kuping meninggalkan Zulia.
Tapi sayang nasi sudah menjadi bubur, Arif tak bisa melakukan apa-apa lagi selain menerima takdir.
.
.
.