My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 40



Sepulangnya Aji di rumah ia langsung di sambut eyang lalu di susul papanya yang menunggu di meja makan. Suasana tidak setegang dan sedingin sebelumnya. Sangat hangat bahkan saat Aji masih akur dengan Wulan saja tak pernah seakur ini. Hidangan makan malam juga serba boga bahari, kesukaan Aji. Kerang, kepiting, udang, cumi tersaji berlimpah.


"Ini hari yang berat, pasti kamu perlu banyak tenaga buat ngadepin orang gak bener kayak Wulan... " ucap eyang sambil mengambilkan nasi dan lauk untuk Aji yang duduk sambil menatap mamanya yang tampak masih sibuk menghidangkan ini itu. "Makan yang banyak le... Hari ini sengaja masak banyak biar kamu seneng... " sambung eyang.


Siwi hanya mengangguk menyetujui ucapan eyang, lalu kembali ke dapur untuk membuatkan kentang goreng dan jus permintaan Alice yang tak mau turun. Ia hanya fokus belajar dan belajar, mau masuk UI targetnya.


"Makan, ga usah mikir berat soal Wulan... Biar nanti papa bantu... " ucap Broto dengan baik seperti tak terjadi masalah sebelumnya.


Aji hanya mengangguk lalu mulai makan. Aji berusaha terlihat lahap dan menikmati makanannya, meskipun ia masih kepikiran soal Nana dan Alif. Apa lagi sejak Wulan menyebut-nyebut dan menyangkut pautkan masalah perselingkuhannya dengan Nana.


"Besok aku mau refreshing... Aku mau jalan-jalan... " ucap Aji setelah menyantap makanannya.


"Oh iya gapapa... Nanti biar papa yang urus semuanya... Maaf ya dulu papa maksa kamu buat nikah sama orang kayak Wulan... Papa kira dia ini sudah jadi yang terbaik... Ck! Ga taunya malah gini... Papa minta maaf ya... " ucap Broto dengan lembut sambil sesekali menunduk.


"Tidak masalah Pa... Semua orang punya kesalahan... " jawab Aji maklum.


"Untung belum punya anak... " sambung eyang yang kembali mengambilkan kepiting untuk Aji.


Aji hanya tersenyum getir sambil mengangguk. Gambaran Nana dan Alif kembali terpatri di ingatannya. Ingatan saat ia mengusir Nana dan menolak kehamilannya. Menolak darah dagingnya sendiri, menuduhnya hasil dari orang lain, mengatai wanita yang sudah di gauli dan di rusaknya itu sebagai *******. Aji tertawa sumbang teringat betapa bodohnya ia waktu itu.


Siwi menatap putranya dengan sedih. Tiap kali membahas anak, cucu atau keturunan tetap saja Siwi teringat pada Nana. Teringat bagaimana Aji mengusir Nana dan keluarganya waktu itu. Kalau saja ia lebih tegas dan kuat untuk memberontak waktu itu, mungkin tidak akan begini ceritanya.


Flash back~


Aji terus murung dan membatasi diri. Banyak yang tak bisa di jelaskan pada Nana atau keluarganya yang benar-benar rakyat biasa itu. Om Bram juga hanya polantas biasa, jabatannya juga tak kunjung berganti, tidak naik, stag di situ-situ saja. Tidak ikut pendidikan atau berkawan dengan para politikus, minimal organisatoris lah. Ya hanya polisi saja. Mentok-mentok di undang SD-nya dulu untuk memberi penyuluhan pada para siswa-siswi soal keselamatan berkendara atau jadi pembina pramuka, latihan baris berbaris.


Tak ada orang yang tepat untuk membicarakan soal masalahnya. Aji tak mau lari, tak juga mau selak. Tapi kalau ia kekeh pada Nana hidupnya bisa hancur. Kalau hanya ia mungkin Aji bisa tahan, tapi bagaimana dengan keluarga Nana? Apa mungkin Aji setega itu menyengsarakan semuanya? Belum lagi mamanya yang akan terus di hajar dan di perlakukan lebih buruk lagi.


Hanya kabur, lalu menolak Nana dan mengusirnya kala itu sebagai pilihan paling tepat bagi Aji. Semua aman, semua nyaman, semua tenang. Nana dengan keluarganya, Siwi aman dari kekerasan yang di alaminya, dan Aji? Tentu saja menikahi wanita pilihan keluarganya.


Wulan, yang berpendidikan dan begitu ambisius juga posesif. Aji merasa begitu berdosa pada Wulan, terutama Nana. Tapi Aji kembali berusaha mencari celah untuk tetap menafkahi Nana dan anaknya. Meskipun dalam tekanan dan pengawasan sana-sini. Sampai akhirnya nomor ponsel Nana yang selalu mengiriminya pesan tak pernah aktiv.


Tak satupun pesan di kirim lagi, tak satupun ada panggilan masuk dari Nana. Hanya pesan terakhir yang tetdengat begitu putus asa darinya. Satu pesan terakhir sebelum Nana hilang bersama bapaknya.


...cintaku seperti kencing di jalan, kau buru-buru keluar. Lepaskan semua yang sudah di tahan, lalu pergi setelah puas tanpa mau mengingatku lagi...


Tak ada kabar. Bahkan saat Aji berusaha menanyakan soal aktivitas di atm Nana di bantu ajudan Wulan kala itu juga tak membuahkan hasil. Tak ada pergerakan aktivitas perbankan di rekeningnya. Nananya hilang, hilang bersama anak yang di mintanya untuk mati.


Tiap gadis muda selalu Aji harap itu Nana. Tiap ibu hamil di bayangkannya itu Nana. Tiap bayi, balita, bocah di bayangkan sebagai anaknya. Sampai Aji memilih salah satu panti asuhan dekat rumah om Bram sebagai donatur disana. Berharap kalau Nana meneruskan kehamilannya waktu itu dan membuang bayinya kesana.


Betapa teganya...