
Pagi-pagi sekali Nana sudah di bangunkan oleh om dan tantenya untuk solat subuh. Tentu tak butuh waktu lama untuk membangunkan Nana yang memang tidak tidur semalaman. Nana terus merenung memikirkan bagaimana cara menjelaskan semua pada bapaknya yang begitu lugu dan tak tahu menahu soal dirinya dan kenakalannya.
Hanya menjahit dan mengurus rumah sempit tipe duasatu yang ia huni seorang diri. Semenjak ibunya meninggal dan adiknya meninggal karena kangker, rasanya pukulan itu masih belum sembuh dan belum cukup waktu untuk bisa bangkit dan hidup seperti dulu. Belum lagi sekarang Nana harus memberi tahu bapaknya soal kehamilannya di luar nikah. Betapa kejam dan menyakitkan nya nanti.
"Ayo solat dulu... " ajak tante Yuni.
Nana menurut, tapi tetap saja pikirannya tak tenang. Apa yang nanti akan ia sampaikan benar-benar membuatnya khawatir. Mengingat ia selalu memberi kabar baik, mulai dari lomba cerdas cermat, lomba kiroah, dan juara kelas. Penuh preatasi yang begitu membanggakan dan seolah menjadi oasis di tengah gurun bagi bapaknya sekarang Nana harus menyampaikan berita bahwa ia hamil duluan. Entah ujian atau ganjaran.
Om bram hanya mendiamkan Nana dan enggan sama sekali menatapnya. Hanya tante yuni yang masih baik padanya dan jujur itulah yang nana butuhkan sekarang.
"Sarapan Na... " ajak tante Yuni saat suaminya tengah mandi. "Kamu bawa ke kamar gapapa... " sambungnya.
"I-iya tante... " jawab Nana sungkan.
Tante Yuni langsung memeluk Nana yang tampak begitu tertekan. "Gapapa... Kamu khilaf... " ucapnya menenangkan Nana yang malah membuatnya menangis.
"Aku malu tante... Aku takut... Aku bingung harus gimana... " ucap Nana di sela tangisnya.
"Sst... Sudah... Kita lalui semua satu-satu... Allah itu kalo ngasih cobaan atau ujian atau teguran pasti hambanya sudah di ukur kekuatannya... Kalo ga kuat ga mungkin di timpakan... Dah jangan nangis... " hibur tante Yuni. "Dah sekarang kamu makan dulu ya... Nanti kita ke rumah bapak bareng-bareng... " sambung tante Yuni.
●●●
Usai sarapan dan bersiap pulang, Nana hanya tertunduk diam. Barang-barangnya masih banyak di kontrakan. Sudah dua hari ini ia tak berangkat sekolah dan tak balik ke kontrakan. Hpnya juga tertinggal di kontrakan. Sudahlah Nana begitu pasrah sekarang.
"Assalamu'alaikum... " ucap om Bram begitu sampai rumah pak Janto, bapaknya Nana.
"Wa'alaikumsalam... " jawabnya sambil tergopoh-gopoh keluar membukakan pintu. "Weh... Tumben kesini... Gimana sekolahmu lancar Na? Temenmu di asrama baik kan? " sambut pak Janto lalu menyalimi om Bram dan tante Yuni sambil mempersilahkannya masuk.
Tangan dan kakinya basah, bajunya di gulung. Tampaknya ia sedang bersih-bersih rumah. Wajahnya tampak lelah namun juga ceria menyambut kedatangan Nana, putrinya yang menjadi satu-satunya hiburan dan harapannya saat hati dan tubuh tuanya lelah bekerja. Memandang foto nana yang kerap nana kirim ternyata di cetak. Mulai saat lomba, memperoleh piala, sampai saat ulang tahunnya di rayakan bersama teman-teman kelasnya.
Nana makin tidak tega bila harus menyampaikan soal kehamilannya dan kebenaran kalau ia kumpul kebo bukan ke asrama pada bapaknya. Hati siapa yang tega bila melihat orang tua yang begitu lugu ini di bohongi dan terus di tipu begini.
"Bapak mau rendem cucian dulu, tolong kamu bikin teh Na buat om tante... " pinta pak Janto.
Nana langsung menuruti perintah bapaknya. Om bram dan tante yuni hanya diam, tak tega berkata-kata.
"Maaf ya di tinggal sebentar... Ga kabar-kabar... Jadi ga bisa siap-siap nyajiin apa-apa... " ucap pak Janto lalu masuk lagi ke dalam rumahnya.