
"Aku capek Ma... Aku mau pergi dari sini... Aku ga tahan... " adu Aji sambil menangis memeluk mamanya. "Aku ga tahan hidup kayak gini... Aku pengen kembali sama Nana sama anakku... " sambungnya.
Siwi hanya diam air matanya ikut mengalir mendengar putranya yang begitu tertekan dan ia tak bisa berbuat apa-apa bagini. "Sstt... Jangan keras-keras nanti eyang sama papa denger... " ucap Siwi sambil mengusap air mata Aji.
Aji hanya mengangguk lalu berusaha menghentikan tangisnya, berusaha tenang dan kembali menguasai dirinya. "Anakku sama Nana sudah besar, cowok, namanya Alif... Aku ketemu dua kali... " ucap Aji pelan lalu tersenyum lembut mengingat pertemuannya dengan Nana dan Alif beberapa waktu lalu.
Siwi ikut tersenyum mendengar ucapan putranya. Sambil menggenggam tangannya dengan erat.
"Sejak aku tau di mana Nana... Rasanya aku mau kembali ke Nana, meninggalkan semuanya... Hidup sederhana, jadi guru bimbel, buka warung... " ucap Aji lalu tertawa kecil.
"Maaf ya... Mama ga banyak bela kamu, bela Nana... Sudah... Istirahat... " ucap Siwi lalu keluar dari kamar Aji.
●●●
Alice hanya diam menguping pembicaraan kakak dan ibunya di depan pintu lalu buru-buru masuk ke kamarnya begitu mendengar langkah kaki mendekat. Di tatapnya kamar bernuansa biru muda dan abu-abu itu. Begitu banyak buku tebal di atas meja belajarnya, juga laci samping tempat tidurnya. Kling!
...aku kirim 500k, pergilah ke mall...
Alice tersenyum melihat pesan dari kakak pertamanya. Hanya kakak-kakaknya yang paling mengerti bagaimana dirinya sekarang. Bahkan meskipun ia sinis pada Aji sekalipun Aji tetap bisa mengerti dirinya.
"Halo? " ucap Alice menelfon kakaknya Mia.
"Hai, ada apa? Uangnya kurang? " saut Mia di ujung sana.
"Mas Aji bermasalah lagi... " ucap Alice lalu menghela nafas.
"Soal?!"
"Terus? " Mia langsung memotong ucapan adiknya.
"Belum tau, besok kalau ada apa-apa lagi ku kabari... " putus Alice. "Nanti ku hubungi lagi !"
Suara pintu kamarnya yang di ketuk membuat Alice cukup panik.
"Ya?! " teriak Alice dari kamar.
"Eyang bikin cumi goreng... " ucap eyang dari luar.
Alice langsung membukakan pintu lalu menerima mangkuk berisi cumi goreng dari eyang. "Aku mau langsung belajar... " ucap Alice tak mengijinkan eyang masuk.
"Iya eyang tau... Semangat! " eyang tersenyum sumringah menyemangati cucunya itu meskipun Alice langsung menutup pintu.
Alice langsung membuka jendela kamarnya dan mematikan pendingin ruangan. Dinyalakan ring light di mejanya lalu mulai membuat konten makan di atas meja belajarnya. Ecila eat! Nama kontennya yang hanya menunjukkan separuh wajahnya, dari hidung ke sampai sebatas dada. Kontennya hanya makan cemilan dan makan sehari-hari, cukup berbeda dari kebanyakan video makan yang tampak rakus dan dalam jumlah banyak. Tidak banyak followersnya hanya sepuluh ribu, itupun ia kerjakan sembunyi-sembunyi dengan ponsel bekas milik Aji.
"Hmm... " Alice mulai makan dan mengacungkan jempolnya menikmati cemilannya.
...Cumi goreng tepung adalah yang terbaik!... tulis Alice dalam captionnya setelah selesai makan dan sedikit mengedit.
Hanya Aji dan kakak-kakaknya yang tau apa yang ia kerjakan. Tentu saja semua diam saling menutupi dan mensuport satu sama lain. Menutupi hobi dan apapun yang mereka sukai atau sayangi. Seperti saat Aji bersama Nana kedua kakaknya juga Alice ikut menutupi. Bahkan saat itu Alice sengaja membully temannya agar orang tuanya juga eyang berhenti menyudutkan Aji.
Aji juga menutupi hobi adiknya itu dan kerap memfasilitasi adiknya untuk bolos bila sudah terlihat suntuk. Aji juga kerap masum kedalam konten milik adiknya tiap kali membolos untuk makan bersama. Meskipun memang sejak ia menghamili Nana, Alice jadi kecewa dan menjauhinya. Terlebih saat ia menyerah untuk melawan dan memilih untuk tidak tanggung jawab.