
Aji terus memperhatikan Nana yang terlelap sambil memeluk Alif yang tidur di tengah. Ingin rasanya Aji membangunkan Nana dan mengajaknya kembali bermain, satu ronde lagi saja. Tapi melihat Nana yang sudah terlelap dan tampak begitu lelah, juga Alif yang ada di tengah-tengah membuat Aji berfikir ulang. Tapi sungguh ia jadi tak jenak sendiri.
"Na... " bisik Aji sambil menyentuh pipi Nana dengan ujung jarinya.
"Hmm... " saut Nana. "Bobo mas... Besok jemput alice... " ucap Nana pelan mengingatkan Aji.
"Ga bisa tidur... Belum ngantuk... " jawab Aji.
"Merem makannya... " jawab Nana memberi saran lalu memunggungi Aji dan Alif.
Duh gimana cara bilangnya ini... Batin Aji makin gusar. "Na... " panggil Aji lagi.
"Hmm... " jawab Nana.
"Mama... Haus... " ucap Alif yang bangun dan langsung duduk.
Aji langsung mengambilkan minum di atas lacinya. Alif kembali terlelap setelah minum.
"Na... Aku pengen... " ucap Aji pada akhirnya.
Nana langsung menatap Aji dengan mata yang terbelalak. "Tadi kan udah... " jawab Nana lalu bangun terduduk.
Aji langsung menarik kasur di bawah tempat tidurnya. "Nolak suami ga baik loh na... " ucap Aji yang selalu mempan bila membawa dalil agama.
"Nanti Alif bangun... " ucap Nana.
"Yaudah mainnya di kamar mandi kalo ga perpustakaan kalo ga mau di sini... " jawab Aji langsung memutuskan.
"D-di sini aja... Tapi jangan keras-keras... " ucap Nana lalu turun dari tempat tidur.
"Aku mau pesen sofa baru ah biar enak sama kamu... " ucap Aji sambil menunggu Nana.
●●●
Pagi-pagi sebelum subuh Nana dan Aji sudah mandi keramas. Aji tampak begitu ceria usai jatahnya terpenuhi, sementara Nana terlihat sedikit kelelahan kualahan menangani suaminya.
Nana langsung menyiapkan sarapan bersama mama mertuanya juga asisten rumah tangganya. Sementara Alif mandi sendiri di awasi Aji.
"Nanti papa pergi keluar negara sebentar, adek jagan mama ya... " ucap Aji sambil memakaikan sragam Alif.
"Iya... Perginya berapa lama? " tanya Alif sambil berdiri di depan cermin untuk di sisir.
"Dua hari aja... Nanti ada aunty Alice, nanti ada dedek kecilnya. Alif nanti jadi kakak... " jawab Aji menjelaskan tentang Alice.
"Aaaaa! Jadi kakak! Jadi kakak! " Alif menjerit-jerit girang sambil melompat-lompat senang.
"Nanti kalo ada adek kecil Alif jagain adek kecilnya juga loh ya? "
"Iya nanti aku ajak main... " Alif begitu antusias.
"Adek... Sarapan yuk terus sekolah... " ajak Nana.
Alif langsung mengikuti mamanya sambil sibuk menceritakan soal Alice yang akan datang dan adik kecil, juga dirinya yang akan di panggil kakak. Alif asik bercerita sampai Broto dan eyang yang menanggap Alice sebagai aib ikut senang akan kehadirannya nanti berkat antusiasme Alif.
"Aku jadi kakak berarti aku sudah besar, aku bisa tidur sendiri... " ucap Alif bangga.
"Boleh... " jawab Aji. "Besok kalo kita pulang ke rumah kita rapiin kamar tamu buat jadi kamarnya kakak alif ya... " ucap Aji yang membuat Alif senang bukan main.
"Aku mau kamarku ada meja belajarnya gitu loh pa... Nanti sama ada buku banyak gitu... " pinta Alif.
"Iya sayang... " jawab Aji senang akhirnya ia bisa menghabiskan banyak waktu dengan Nana.
"Adek eh kakak alif pengen punya adek sendiri ga sih? " tanya Siwi.
"Nanti besok kan adekku datang, adek kecilnya aunty alice... " jawab Alif yang membuat Nana lega.
"Aku ini sesekolahnya sama siapa? " tanya Alif.
"Sama opa, papa mau siap-siap pergi jemput aunty alice... " jawab Aji lalu mengecup pipi Aji.
"Nanti sekolah yang benar ya, jadi anak baik ya... " ucap Nana sambil memasukkan bekal ke tas Alif.
●●●
"Ga bawa baju mas? " tanya Nana yang ikut masuk ke kamar.
Aji hanya menggeleng lalu merentangkan tangan untuk mendapat pelukan. Paham apa yang di inginkan suaminya Nana langsung duduk di pangkuan Aji dan memeluknya.
"Kamu di rumah mama aja ya... Biar alif ada yang jagain juga... " ucap Aji yang di angguki Nana. "Kalo mau kemana-mana bilang, kalo cuma pengen belanja online aja nanti aku yang bayar... " sambung Aji.
Nana langsung mengecup bibir Aji lembut lalu tersenyum. "Mas cuma pergi dua hari... Aku di sini dua hari gapapa... Ga usah panik gitu... "
"Ah kamu na pakek cium segala jadi ga pengen pergi... " kesal Aji lalu menyandarkan kepalanya di dada Nana sekaligus merasakan dua gundukan empuk favoritnya.
Nana hanya tertawa kecil mendengar keluhan aji sambil mengelus rambutnya.
"Aku pengen punya anak lagi, kasih adek buat alif... Satu anak cewek aja... " rengek Aji.
"Gak ah nanti aku hamil di tinggal lagi... " ungkit Nana yang membangkitkan rasa bersalah pada diri Aji yang rasanya tak pernah benar-benar termaafkan.
"Di tinggal gimana? Dulu sama sekarangkan beda... Dulu aku masih bodoh, goblok, tolol. Sekarang aku dah banyak belajar, kita juga dah resmi nikah" aji memamerkan cincin kawinnya. "Ga bakal ku tinggal na... "
Nana hanya menggeleng lalu bangkit dari duduknya. "Aku belum siap... " tolak Nana.
♥
"Belum siap apanya? " tanya Aji tak terima atas penolakan Nana.
"Ya belum siap, aku trauma mas!" tegas Nana. "Udah lah mas, ga usah di bahas sekarang. Aku ga mau ribut di rumah mama... " putus Nana.
"Aku yang bikin kamu trauma? Yaudah aku yang obati traumamu... Aku janji na... Toh kamu bisa liat sekarang kan? Semua terima kamu, ga cuma itu sayang juga ke Alif... Kurang apa ?"
"Kamu ga paham mas, rasanya di tinggal sendirian waktu hamil, melahirkan, membesarkan anak sendirian sesusah apa... "
"Iya itu dulu, sekarang ga bakal ku tinggal. Aku janji na... "
"Aku masih takut, dulu juga kamu bilang gitu... "
"Berhentilah melihat masa lalu. Kita sudah sama-sama belajar dari pengalaman. Sekarang jelas sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Aku sudah jadi suamimu, kamu sudah jadi istriku... Kurang apa lagi? "
Nana hanya menggelengkan kepala tak mau mendengarkan ucapan Aji yang membujuknya. "Aku mau sendirian mas... Sudah jangan di bahas... Aku belum siap... Ku harap kamu paham... "
"Hampir tiap hari kita berhubungan, kalo sampe kamu hamil dan kamu ga siap apa mau kamu gugurin? "
"Astaghfirullah ya ga mungkin lah mas... Kamu ninggalin aku sendirian aja aku tetep terusin... "
"Yaudah aku mau punya anak lagi... "
"Aku belum siap! " bentak Nana akhirnya yang langsung membuat Aji tersadar sudah terlalu banyak menyakiti Nana dan kini banyak menuntut pula. "Aku belum siap... " Nana terisak.
"Aku minta maaf... " Aji langsung memeluk Nana. "Maaf sayangku, istriku, nanaku... Aku minta maaf... " bisik Aji.
Nana hanya diam sambil menyeka air matanya yang berlinangan.
"Nana, Aji... " panggil Siwi dari luar dengan khawatir.
Nana dan Aji hanya diam tak satupun ingin menjawab Siwi agar tak memperkeruh suasana.
"Sudah... Jangan nangis... Aku yang salah... Maaf maksa kamu na... " bisik Aji lalu mengecup bibir Nana dengan lembut. "Aku janji gak maksa kamu lagi... Aku cuma terlalu semangat, aku cuma... Aku pengen... Argh... Na... " jelas Aji terbata-bata dan semrawut.
Nana hanya diam sambil memeluk suaminya erat-erat.
"Aku takut kamu hilang lagi kalo ga hamil anakku... " ucap Aji berusaha menjelaskan dengan tenang.
"Apa aku pernah hilang? Bukannya kamu yang hilang duluan? " tanya Nana.
Aji hanya mengangguk dengan wajah bersalahnya. "Maaf... Aku cuma mau menebus kesalahanku... " bisik Aji lalu mengecup kening Nana.
"Kamu harusnya menebus semuanya ke Alif juga... Bukan cuma aku... " ucap Nana lalu melepaskan pelukannya.