
Nana dan keluarganya menunggu di gazebo pondok, sementara Arif masuk untuk menyelesaikan urusannya. Alif yang ingin tau bagaimana isi dalam pondok ikut dengan Arif. Wajahnya tampak sangat senang dan ceria melihat banyak bangunan arama, kelas dan kantor yang bersih dan kokoh. Wajah terpesona dan penuh kagum tak bisa di sembunyikan Alif yang senang bisa berkunjung di sana.
"Bagus ya, nanti kalo aku dah besar mau bikin kayak gini buat mama... " ucap Alif yang berjalan sambil di gandeng Arif.
"Iya... Amiin... " jawab Arif menanggapi Alif.
Alif hanya diam sesekali berjalan dan melongok melihat-lihat sekeliling lalu kembali duduk di samping Arif. Sesekali Alif juga bertanya dan meminta ijin untuk menyentuh atau masuk ke tempat-tempat yang membuatnya penasaran.
"Masyaallah... Akhirnya datang juga... " sambut gus Ahmad yang baru keluar dari kantor.
"Assalamu'alaikum Gus... " ucap Arif lalu menyalimi gus Ahmad lalu menggendong Alif agar sejajar dengannya. "Salim... " perintah Arif yang di turuti Alif.
"Anaknya siapa ini? " tanya gus Ahmad setelah menyalimi Alif sambil mengelus kepalanya.
"Aku anaknya mama Nana... " jawab Alif.
"Anaknya calon istri saya Gus... " jawab Arif lalu menurunkan Alif.
"Calon istri? Janda? " gus Ahmad cukup terkejut mendengar jawaban Arif. "Kamu ga bikin hamil anak orang kan?! " pekik gus Ahmad sebelum Arif menjawab.
"Astagfirullah... Engga lah! Alif umurnya aja dah mau tiga taun, aku baru setaun di sana, kapan yang sempet ngehamilin..." ucap Arif sebelum timbul salah paham. "Mamanya itu single parent... Tapi bukan janda... Paham lah... " sambung Arif.
●●●
"Aku tidak berharap banyak sama mas Arif, dia baik ke anakku aja aku dah senang... Aku ga mau memaksa dia atau membuat dia masuk terlalu dalam lalu membebankan semuanya ke dia... Aku ga mau dia harus tanggung jawab atas kesalahan yang ga diperbuat... " ucap Nana di depan keluarganya saat menunggu kedatangan Arif.
"Na, jangan pesimis gitu... Seperti apapun kamu, seburuk apapun masa lalumu, kamu ini tetap wanita yang berhak di sayangi, di cintai, dirimu tetap berharga..." ucap tante Yuni berusaha menyemangati dan menguatkan Nana.
Nana hanya diam dan mengangguk pelan. Rasanya ia sudah terlalu pasrah kalau di ajak bicara soal jodoh dan percintaan. Pak Janto dan om Bram juga tak bisa berkomentar. Om Bram khawatir bila berkomentar akan salah bicara, sementara pak Janto sendiri sudah kehabisan kata-kata untuk menyemangati Nana.
Nana langsung mengangguk lalu tersenyum kecil, sementara om dan tantenya hanya diam tanda setuju dengan ucapan pak Janto. Meskipun sebenarnya mereka sangat mengharapkan hubungan Nana akan berjalan baik dan lancar dengan Arif. Paling tidak akan ada figur ayah bagi Alif.
Tapi mau di paksa bagaimanapun itu semua juga akan kembali pada keputusan Nana. Tentu selain rasa trauma memiliki padangan dan terhadap pria yang masih membekas di hati Nana. Banyak keraguan dan rasa pesimis, apalagi dengan kondisi Nana dan Arif saat ini. Lagipula garis jodoh yang tidak bisa di tolak atau di paksakan.
●●●
Alice berjalan-jalan di mall bersama Joe kekasihnya yang sudah di pacarinya sejak awal SMA. Meskipun harus menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi dan jarang berkabar karena kesibukan, tapi keduanya tampak sangat langgeng dan bisa memahami satu sama lain. Alice tampak begitu bahagia dan santai saat bersama Joe.
Tak ada kata-kata ketus yang keluar dari bibir berpoles lip tint itu. Tak ada hentakan kaki yang kesal, wajah yang di tekuk apa lagi sorot mata penuh amarah. Alice tampak begitu bahagia, bahkan Alice tak pernah menunjukkan ekspresi itu di depan orang tuanya, tidak juga saat ia menjadi peraih nilai UN terbaik di kotanya.
Hanya saat bersama Joe ia bisa begitu bahagia dan menikmati kehidupan. Seorang pria keturunan Jawa-Rusia, berwajah indo condong ke bule. Pria yang begitu menyukai musik dan seni. Kakak kelasnya, yang kini mulai menetap di Bali sejak masuk ke kampus seni, dengan jurusan musik.
"Kapan kamu ikut aku? " tanya Joe sambil menggandeng Alice menuju eskalator.
"Mungkin habis UN... " jawab Alice ragu.
Joe hanya mengangguk pelan dengan wajah lesu dan menghela nafasnya dengan berat.
"Kamu tau keluargaku seperti apa kan... "
"Hiduplah dengaku! " potong Joe sebelum Alice menyelesaikan alasan atas keraguannya. "Alice, hiduplah denganku... Hanya ada kita, tidak ada yang melarangmu ini dan itu, tidak ada yang membatasimu, kamu bisa lakukan apa yang kamu mau... " sambung Joe sambil menatap Alice.
"Joe... " Alice kehabisan kata-kata.
"Tidak apa-apa... Aku paham... " ucap Joe lalu melepaskan gandengannya dengan Alice begitu sampai di atas dan langsung melangkah menjauhi Alice.
Alice hanya bisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia tak mau berpisah dengan Joe, tidak. Tidak dengan cara seperti ini. Bahkan bila memang harus berpisah, Alice tetap tidak mau jauh dari Joe.