My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 67



Nana hanya diam sambil memeluk Alif yang masih saja memunggunginya. Rasanya mengenalkan Aji akan terasa lebih sulit dari yang Nana bayangkan. "Adek kenapa tidak suka sama om-om aneh?" tanya Nana hati-hati.


"Dia ganggu terus, terus dia aneh juga... Aku tidak suka... " jawab Alif sesenggukan sambil menyeka air matanya sendiri.


"Assalamu'alaikum... " terdengar suara tante Yuni dan om Bram.


"Wa'alaikumsalam... " jawab Nana yang langsung keluar sementara Alif masih diam berusaha diam sambil menyeka air matanya terus.


Di luar pak Janto sudah menyambut sedari tadi. Nana langsung menyalimi om dan tantenya lalu ke dapur membuatkan teh. Usai Nana membuatkan teh dan duduk bersama om tantenya, Alif baru keluar kamar.


"Alif habis bangun tidur ya? " tanya tante Yuni ramah lalu memeluk Alif.


Alif hanya mengangguk lesu dan pasrah saja saat di peluk atau di pangku.


"Sudah makan belum nak? " tanya tante Yuni lagi yang hanya di angguki Alif. "Lagi sakit apa ngambek ini? " tanya tante Yuni lagi sambil mencium pipi Alif dengan gemas.


"Aku tadi sakit, tapi ini aku marah... " jawab Alif menjelaskan perasaannya.


Om Bram yang ikut menyemak percakapan dengan Alif langsung tertawa mendengar jawaban Alif. "Anak kecil kok marah-marah kenapa? " tanyanya ikut penasaran.


"Mama nakal, masak bilang kalo om aneh papaku terus aku ya tidak suka... " jelas Alif dengan ekspresi marahnya yang malah menggemaskan.


Suasana yang tadinya ceria dan berusaha membuat Alif kembali ceria menjadi hening. Semua menatap Nana penuh tanya dan menyudutkan.


"Na, nanti di obrolin... Kamu fokus aja sama ujianmu... " ucap om Bram sambil menahan emosinya. Bagaimana tidak emosi, setelah semua yang di lakukan Aji dan keluarganya pada Nana bisa-bisanya Nana malah berniat mengenalkan Alif pada Aji.


"Adek mau main di dalam mobil ga? " tanya tante Yuni pada Alif sambil menggendongnya keluar rumah karena paham akan situasi yang memanas.


"Na, bapak paham kamu maunya gimana... Kita boleh memaafkan tapi bukan berarti melupakan apa yang sudah di lakukan Aji dan keluarganya ke kita..." ucap pak Janto dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bapakmu benar Na, Alif perlu tau siapa


bapaknya tapi ga usah di paksakan... Om kira om sudah cukup yakin buat kasih kepercayaan ke kamu... " ucap om Bram yang mulai mengungkapkan kekecewaannya pada Nana.


Nana hanya diam tertunduk. Bila terus di minta mengingat masalalu jelas ia tak ingin kembali dengan Aji. Tapi bila Nana ingat bagaimana manis dan indahnya saat menjalin kasih dengan Aji, tak dapat ia pungkiri juga kalau ia rindu ingin kembali.


●●●


Dengan berat hati Aji pergi bersama Alice sesuai perintah Broto. Siwi juga meminta anak-anaknya untuk nurut saja dari pada berdebat di rumah sakit. Selain itu ada banyak hal pula yang ingin Aji tanyakan pada Alice.


"Kamu dah ngapain aja sama pacarmu? " tanya Aji yang duduk bersebelahan dengan Alice di perjalanan menuju rumah Joe.


"Gak ngapa-ngapain, ya cuma tidur bareng, makan, nonton TV kegiatan keluarga... Ada orang tuanya juga di rumah... Kamu berharap apa? " jelas Alice sambil berusaha menyembunyikan sesuatu.


"Jangan nyoba bohong. Jangan sampai kamu hamil, repot... " ucap Aji to the poin. "Kamu mau ML boleh, terserah asal jangan hamil tanpa suami... " tegas Aji mengingatkan adiknya.


Alice hanya menelan ludah sambil menganggukkan, yak bisa lagi ia membantah atau bohong bila sudah begini. "H-hanya dua kali semalam..." lirih Alice sambil menundukkan kepalanya.


"Hah?!! " Aji kaget bukan main mendengar pengakuan Alice. "Dua kali?! T-tapi baru tadi malam kan?! " Aji tergagap tak percaya.


Alice menggeleng air matanya mulai mengalir begitu saja. "Tiap mama gak ngeh... " Alice memperjelas.


Refleks tangan Aji terangkat siap menampar Alice, tapi saat ia melihat wajah Alice yang berurai airmata saat itu pula Aji teringat pada Nana. Tangannya perlahan terkepal, seolah tertahan. Berkali-kali Aji mengadu kepalannya sendiri dengan apapun yang bisa di pukul selain Alice.