
Aji hanya diam selama menyetir pulang. Begitu pula dengan Wulan yang hanya diam. Pikiran Aji melayang-layang pada Nana dan Alif yang tadi di temuinya. Anaknya benar-benar tumbuh dengan baik, menggemaskan dan tidak rewel sepertinya. Pasti banyak halangan yang sudah di hadapinya selama ini. Banyak... Pasti.
Bila Aji ingat lagi, saat mengusir Nana dan keluarganya juga hinaan tak lupa dengan fitnahannya yang begitu kejam pada Nana saja sudah begitu menyakitkan. Di tambah lagi eyang dan keluarganya yang tampak merendahkan Nana dan keluarganya yang hanya di bayar uang. Itu pun tidak di ambilnya barang hanya selembar.
Nana terlihat lebih kurus dari sebelumnya, ya paling tidak terakhir bertemu dulu. Banyak hal di pikiran Aji, banyak hal yang ingin Aji tanyakan pada Nana. Aji ingin meminta maaf. Tapi sekarang setidaknya ia tau kalau Nana tidak pergi jauh-jauh ia sudah merasa puas dan senang. Masih ada potensi untuk bertemu Nana dan anaknya.
"Mas... " panggil Wulan memecah keheningan dalam mobil. "Tadi aku ketemu anak kecil namanya Alif... Gemesin banget, sayang ga sempat ku foto... " ucap Wulan.
"Dek, kalo aku punya anak selain dari kamu gimana? " tanya Aji tiba-tiba.
Wulan hanya diam tercekat mendengar ucapan Aji. Matanya terbelalak dan langsung berkaca-kaca. Apa maksud dari suaminya? Apa punya istri baru atau wanita simpanan?
"Coba saja kalau berani... " ucap Wulan. "Kamu harus ingat mas, eyangmu... Bapakmu punya hutang politik ke keluargaku... Ke partainya ayahku... Jadi jangan coba-coba main api... " Wulan langsung memperingatkan dengan tegas.
Aji hanya mengangguk lalu diam. Hal ini yang selalu membuatnya tak berdaya. Menjadi boneka dan kehilangan jati dirinya, bahkan sampai mengorbankan wanita yang di cintainya juga buah cintanya. Kalau saja ia tidak di lahirkan di keluarga kraton tidak juga anak gubernur pasti ia tidak akan terseok-seok begini. Belum lagi jabatan istrinya sebagai anggota dewan daerah dengan karir politik yang mantap. Jelas membuatnya tak dapat berkutik.
"Berhentilah berfikiran buruk kalau tidak mau berada dalam masalah! " ketus Wulan yang makin menegaskan segala kekuasaannya.
Aji hanya diam lalu mengangguk, tanpa ada bantahan atau apapun bentuk perlawanan yang terucap dari mulutnya.
Politik, kekuasaan, harta, jabatan... Huft... Semuanya seperti memakai pesugihan saja... Selalu memakan korban dan meminta tumbal... Batin Aji sambil menatap istrinya.
Tak satupun yang akan menyangka bila istrinya akan bertindak sekejam dan semengekang sekarang. Wajah yang cantik, tutur kata yang lembut dan ya... Bagitu senang bila bersentuhan dengan anak-anak... Tak akan ada yang menyangka bila Wulan bisa mengobrak-abrik tatanan yang ada hanya dengan surat perintah.
Bahkan tak ada yang menyangka bila gedung pasar lama yang ada di pusat kota di bakar habis hanya karena pemkot menyediakan gedung baru tanpa ada pedagang yang mau pindah. Wulan menjadi dalang pembakaran gedung pasar itu dengan memerintahkan anak buahnya. Wulan sendiri begitu santai menatap para pedagang yang koncar-kancir menyelamatkan apa yang bisa di selamatkan sambil berusaha memadamkan api. Pemadam kebakaran juga sengaja di tahannya tunggu sampai satu jam baru di datangkan.
Wulan sendiri begitu pemadam kebakaran datang malah asik bercinta dengan salah satu ajudannya saat Aji tengah dinas keluar negeri. Entah berapa ronde ia semalaman bercinta, rasanya memandang kebakaran itu membuatnya lebih bergelora. Demi kelancaran program kerja kakaknya yang saat itu menjabat sebagai bupati apapun ia lakukan.
●●●
Nana langsung sibuk memasak sementara Alif ikut membantunya dengan menghaluskan garam. Hanya agar Alif tidak ribut mengganggu saja. Sebelum dzuhur masakan Nana sudah jadi, tinggal menunggunya dingin dan siap di bungkus.
"Alif ayo solat... " ajak pak Janto pada Alif untuk ikut solat berjamaah di masjid.
"Oke bos! " jawab Alif ceria lalu mengikuti kakeknya.
Tapi tak selang lama setelah Alif dan kakeknya kemasjid, om Bram dan tante Yuni datang. Ada ayam kremes dengan kremes yang cukup banyak satu ekor, beras, dan uang untuk Alif juga keluarganya.
Nana yang sengaja memasak lebih untuk anak dan bapaknya langsung menyuguhkan nasi gorengnya barusan, lalu membuatkan teh manis.
"Gak usah repot-repot Na, ini buat Alif sama kamu aja... " ucap tante Yuni.
Nana hanya tersenyum malu. Lalu membawa masuk nasi goreng yang tadi di suguhnya.
"Jualanmu lancar? " tanya om Bram.
"Alhamdulillah om, dikit-dikit... Ini tadi juga ada pesenan... " jawab Nana.
"Alif kapan mau TK? " tanya tante Yuni.
"Insyaallah taun depan kalo Alif mau tante... Tapi kayaknya nunggu umur empat aja... " jawab Nana.