My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 66



"Aku kayak nabi Isa ya, cuma punya mama... " ucap Alif pelan mengomentari cerita yang di bacakan Nana.


Nana hanya tersenyum mendengar komentar Alif. "Adek kan punya bapak... " ucap Nana.


"Tapi kata orang-orang bapak bukan papaku, harusnya kan mama sama papa bukan bapak. Kalo bapak sama ibu gitu sebutnya kata temanku... " jelas Alif lalu membenarkan selimutnya.


Nana menghela nafas mendengar ucapan anaknya yang kian hari kian kritis dalam memberikan pertanyaan. Ingin rasanya ia memberi tahu kalau Aji yang di panggil om-om aneh tiap hari oleh Alif adalah papanya.


Tapi Nana tak mau kalau niatnya mengenalkan Alif pada Aji hanya akan menimbulkan masalah baru untuknya. "Adek... Kalo mama menikah boleh tidak? " tanya Nana.


"Menikah itu apa? " tanya Alif bingung.


"Ya kayak sama ustadz nanti sama mama, biar ustadz jadi papanya adek gitu... " jawab Nana yang kebingungan menjelaskan apa itu menikah pada Alif.


"Tidak boleh, kan sudah ada bapak, ada aku juga, nanti rumahku jadi sempit... " jawab Alif.


"Kalo sama om-om aneh? "tanya Nana yang mulai berniat mengenalkan Aji.


"Iyuh! Dia ganggu terus aku tidak suka... " jawab Alif sambil menggelengkan kepalanya.


Nana hanya tersenyum mendengar jawaban Alif. Memang sulit mencari cara yang terbaik mengenalkan Alif dengan ayah biologisnya. Bahkan anak yang di besarkan dengan kedua orang tua lengkap saja belum tentu dekat dengan kedua orangtuanya, apalagi Alif dengan kondisinya yang begini.


"Kalo ternyata papanya adek yang beneran itu om-om aneh gimana? " tanya Nana lagi.


Alif langsung menggeleng cepat, alisnya mengkerut kedua tangannya menutupi telinganya. "Tidak mau ya tidak mau! " tolak Alif lalu memunggungi Nana. Nana hanya tersenyum lalu ikut tiduran sambil memeluk Alif.


Nana hanya diam sambil memeluk Alif yang masih saja memunggunginya. Rasanya mengenalkan Aji akan terasa lebih sulit dari yang Nana bayangkan. "Adek kenapa tidak suka sama om-om aneh?" tanya Nana hati-hati.


"Dia ganggu terus, terus dia aneh juga... Aku tidak suka... " jawab Alif sesenggukan sambil menyeka air matanya sendiri.


"Assalamu'alaikum... " terdengar suara tante Yuni dan om Bram.


"Wa'alaikumsalam... " jawab Nana yang langsung keluar sementara Alif masih diam berusaha diam sambil menyeka air matanya terus.


Di luar pak Janto sudah menyambut sedari tadi. Nana langsung menyalimi om dan tantenya lalu ke dapur membuatkan teh. Usai Nana membuatkan teh dan duduk bersama om tantenya, Alif baru keluar kamar.


"Alif habis bangun tidur ya? " tanya tante Yuni ramah lalu memeluk Alif.


Alif hanya mengangguk lesu dan pasrah saja saat di peluk atau di pangku.


"Sudah makan belum nak? " tanya tante Yuni lagi yang hanya di angguki Alif. "Lagi sakit apa ngambek ini? " tanya tante Yuni lagi sambil mencium pipi Alif dengan gemas.


"Aku tadi sakit, tapi ini aku marah... " jawab Alif menjelaskan perasaannya.


Om Bram yang ikut menyemak percakapan dengan Alif langsung tertawa mendengar jawaban Alif. "Anak kecil kok marah-marah kenapa? " tanyanya ikut penasaran.


"Mama nakal, masak bilang kalo om aneh papaku terus aku ya tidak suka... " jelas Alif dengan ekspresi marahnya yang malah menggemaskan.


Suasana yang tadinya ceria dan berusaha membuat Alif kembali ceria menjadi hening. Semua menatap Nana penuh tanya dan menyudutkan.