
Wulan, yang berpendidikan dan begitu ambisius juga posesif. Aji merasa begitu berdosa pada Wulan, terutama Nana. Tapi Aji kembali berusaha mencari celah untuk tetap menafkahi Nana dan anaknya. Meskipun dalam tekanan dan pengawasan sana-sini. Sampai akhirnya nomor ponsel Nana yang selalu mengiriminya pesan tak pernah aktiv.
Tak satupun pesan di kirim lagi, tak satupun ada panggilan masuk dari Nana. Hanya pesan terakhir yang tetdengat begitu putus asa darinya. Satu pesan terakhir sebelum Nana hilang bersama bapaknya.
...cintaku seperti kencing di jalan, kau buru-buru keluar. Lepaskan semua yang sudah di tahan, lalu pergi setelah puas tanpa mau mengingatku lagi...
Tak ada kabar. Bahkan saat Aji berusaha menanyakan soal aktivitas di atm Nana di bantu ajudan Wulan kala itu juga tak membuahkan hasil. Tak ada pergerakan aktivitas perbankan di rekeningnya. Nananya hilang, hilang bersama anak yang di mintanya untuk mati.
Tiap gadis muda selalu Aji harap itu Nana. Tiap ibu hamil di bayangkannya itu Nana. Tiap bayi, balita, bocah di bayangkan sebagai anaknya. Sampai Aji memilih salah satu panti asuhan dekat rumah om Bram sebagai donatur disana. Berharap kalau Nana meneruskan kehamilannya waktu itu dan membuang bayinya kesana.
Betapa teganya...
●●●
Tak banyak yang bisa Aji lakukan. Hanya berusaha membahagiakan Wulan berharap dengan begitu perasaan bersalahnya terobati. Ibarat tebus dosa. Apalagi mamanya juga sudah tidak di siksa lagi. Sudah di perlakukan dengan baik seperti biasa.
Meskipun tetap saja sekeras apapun usaha yang ia coba untuk menghilangkan rasa bersalahnya, sepertinya sia-sia. Apalagi Aji dan Wulan tak kunjung di percaya untuk memiliki momongan membuat Aji makin berfikir kalau ini karma.
Wulan yang makin sibuk dengan karir politiknya juga sudah memintanya untuk tidak usah ikut terjun ke dunia politik. Bukan hanya karena tak mau Aji capek dan membuat kualitas spermanya memburuk, tapi juga menghindari adanya rumor dinasti politik. Jelas isu itu akan menghancurkan apa yang sudah di bangun Wulan, jelas akan menghambat langkahnya.
Flashback end ~
Siwi mengetuk pintu kamar Aji usai makan malam. Perasaannya tak jenak melihat sikap putranya tadi saat makan malam bersama. Apalagi keluarganya langsung tutup mata seolah tidak ada Nana dan anaknya. Semua menganggapnya bagai debu di atas batu akik, tak penting tak perlu di bahas, tak perlu di perhatikan.
"Mama boleh masuk? " tanya Siwi setelah mengetuk pintu.
Aji membukakan pintu untuk mamanya lalu kembali duduk di tempat tidurnya.
"Udah solat? " tanya Siwi lembut yang tak di jawab Aji. "Kamu kepikiran Nana? " tanya Siwi lagi yang kali ini di jawab dengan anggukan pelan oleh Aji.
"Wulan itu gila Ma, Mama kan tau sendiri gimana dia. Gimana keluarganya, aku khawatir sama anakku, sama Nana juga... Sama bapaknya, keluarganya... " ucap Aji pelan sambil berusaha menahan tangisnya.
Siwi hanya mengangguk dengan lesu, Siwi jelas sedih melihat putranya sedih begini. Pikiran Siwi juga jadi kacau. Ia kembali mempertimbangkan kembali pikirannya untuk bertahan, terlebih saat ia melihat bekas luka di kaki kiri Aji. Teringat jelas di benak Siwi saat nilai rapot Aji anjlok saat SD karena sakit dan Broto tetap memarahinya dan mencambuk kaki kecilnya kala itu hingga luka tak hanya dengan gesper, tapi ia juga mencambuknya dengan pecut yang di belinya oleh-oleh dari Jogja.
Mau berapa lama lagi aku liat anak-anak ku disakiti? Mau sampai kapan aku lihat anakku tertekan? Batin Siwi lalu memeluk Aji yang akhirnya menumpahkan air matanya.