My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 31



Wulan melihat motor dan jaket yang terparkir di depan rumah Nana merasa tidak asing. Buru-buru ia menepuk pundak Zull agar menepi. Menunggu hingga motor itu dan entah siapapun yang bertamu itu pergi dulu.


"Tunggu tidak ada orang baru kita kesana... " ucap Wulan sambil mengamati. "Benar itu rumahnya? " tanya Wulan memastikan.


"Iya itu rumahnya... " jawab Zull yakin lalu menunjukkan foto Nana yang menggendong Alif saat di kejar Aji dan foto Nana saat pulang mengaji bersama Alif terakhir kali.


"Astaga! " pekik Wulan teringat wajah Nana dan Alif yang sudah pernah bertemu dengannya dulu. "Dia anaknya mas Aji?!" Wulan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Wulan kembali melihat ke depan, mengamati rumah Nana dengan tangannya yang bergetar menggenggam ponsel milik Zull.


Zull hanya diam, melihat bosnya yang kalut begini. Ini kali pertamanya melihat Wulan bergetar saat menghadapi masalah. Sudah jelas kalau ini sangat mengena bagi Wulan dan bisa di bilang cukup besar kalau sampai seperti ini.


"Pergi kamu! " usir pak Janto dengan kesal sambil melempari Aji dengan apa yang ada. "Kamu tidak ada hak apapun atas anakku juga cucuku! Pergi kamu! Tidak usah kamu datang lagi berusaha merebut cucuku! "


Amarah pria paruh baya itu begitu terasa, antara marah, sedih dan kecewa. Suaranya bergetar menahan tangisnya, tangannya terus memukulkan sapu yang tadi sempat tergantung setelah menyiram Aji dengan air.


"Saya minta maaf Pak... " ucap Aji sambil berusaha melindungi diri dari pukulan sapu itu.


"Tidak perlu! Kamu pergi saja, pergilah seperti saat kamu mengusir kami, tidak usah kamu datang lagi seperti keinginanmu untuk kabur dan memaksa anakku untuk menggugurkan bayinya! " bentak pak Janto sambil mendorong Aji.


"Astaghfirullah... Pak... Sabar... Istighfar... " ucap seorang Arif yang berusaha meredam amarah pak Janto juga meredam keributan agar tidak jadi tontonan atau omongan warga.


"Katamu anakku *****, katamu bayinya belum tentu anakmu bisa jadi anak orang lain. Buat apa kamu datang? " ucap pak Janto kesal sambil membanting sapu di tangannya. "Kamu buang anakku, kamu hina, kamu fitnah di depan keluargamu juga keluarga kami. Kamu coba bayar Nana seperti *******, nenekmu kasih uang buat gugurin cucuku. Dia bukan anakmu! Alif anaknya Nana! " bentak pak Janto menyudahi semuanya lalu masuk dan membanting pintunya di depan Arif juga Aji yang tertunduk.


"Mas sebaiknya pulang saja... Tidak usah kesini lagi, tidak usah ganggu Nana atau Alif dulu... " ucap Arif mengusir Aji sambil menghela nafas.


Aji langsung memakai jaket dan helemnya lalu tancap gas pergi meninggalkan Arif tanpa peduli apa yang ia katakan sebelumnya. Antara kesal, malu, dan menyesal juga sedih tak bisa bertemu Nana dan Alif berkecamuk dalam hati Aji.


Ia hanya ingin memperbaiki semuanya. Menafkahi Nana juga Alif, memberikan kehidupan yang layak. Bahkan bila perlu menikahi Nana. Meskipun itu juga tidak akan mengembalikan semua seperti semula.


"Kita langsung pulang saja, besok kita kesini lagi... " perintah Wulan pada Zull setelah melihat semua yang terjadi di rumah pak Janto barusan.


Wulan merasa apa yang ia dengar dan lihat sudah lebih dari cukup untuk menguatkan dirinya untuk memutuskan bagaimana hubungannya nanti.


"Kamu gapapa? " tanya Zull saat melihat Wulan menitihkan air matanya.


"Sekarang semuanya sudah jelas... Mau bagaimana lagi... Menurutmu apa aku gapapa ?" jawab Wulan dengan mengembalikan pertanyaan Zull.


Zull hanya mengangguk lalu memberikan selembar tisu.


"Aku kecewa..." ucap Wulan menerima tisu dari Zull.


"Sudah... Tidak apa-apa... " Zull menggenggam tangan Wulan.


[maaf part sebelumnya susah hapusnya 🙏 aku up gini aja ya]