My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
part 22



Aji terus berusaha menahan Nana dan mengikutinya, sampai Alif merasa risih dan merasa tidak aman. Nana terus berjalan sambil menggendong Alif agar merasa lebih aman. Alif terus menutupi wajahnya dan berusaha tidak menangis saat Aji terus mengikuti.


"Na! Berhenti! Aku juga punya hak sama anak itu! " ucap Aji yang akhirnya bisa menahan langkah Nana hingga terhenti di depan Indoapril.


Nana menatap tajam Aji yang bisa mengklaim hak atas Alif setelah memfitnah dan berniat menggugurkannya.


"Na... Mari bicara sebentar... " ucap Aji penuh sesal lalu berjongkok di depan Nana dengan wajah yang memelas.


"Dia kenapa Ma? " tanya Alif yang menatap Aji penuh heran.


"Dia bodoh ayo pulang... " jawab Nana dengan kesal lalu melanjutkan langkahnya.


Aji masih saja mengikutinya sambil memanggil-manggil hingga jadi bahan tontonan.


"Heh om pergi saja jangan ikut aku sama mama!" teriak Alif mengusir Aji yang mengikutinya.


"Sudah abaikan saja... " ucap Nana pada Alif sambil terus berjalan.


Aji terus mengikuti sampai ia berlari untuk menghalau Nana langsung di depannya. Alif makin ciut dan tidak merasa aman, begitu pula dengan Nana.


"Kita bicara sebentar... Hanya sebentar... " paksa Aji lalu menarik Nana secara paksa ke sebuah warung mie ayam yang masih sepi. "Pesan tiga mie ayam pakek baso sama es teh! " ucap Aji yang langsung pesan.


Nana di paksa duduk Alif sudah ketakutan dengan orang asing yang memaksa dan menarik-narik mamanya. Alif sudah ingin menangis rasanya tapi ia berusaha menahannya karena ada mamanya yang terua menggendong dan mendekapnya.


"Kamu dah buang aku sama Alif... Jadi ga ada yang perlu di bicarakan... Toh kamu mau gugurin dia... Dia anakku! " hardik Nana dengan tegas sebelum Aji memulai pembicaraan.


"A-aku minta maaf Na... " ucap Aji penuh sesal dengan wajah tertunduk.


"Itu tadi siapa sih ma? " tanya Alif yang tak di jawab Nana yang begitu sedih dan kembali terpukul mengingat masa lalunya yang begitu berat.


"Adek, mama sayang sekali sama adek... Alif jangan pernah ninggalin mama ya... Jadi anak baik ya... " ucap Nana mewanti-wanti putranya. "Mama berusaha keras biar adek bisa sekolah, pinter, soleh... Adek janji ya jangan tinggalin mama... " sambung Nana sambil mencium kening dan pipi Alif lalu kembali mendekapnya.


"Iya adek kan sayang mama... " jawab Alif sambil mengelus pipi Nana.


●●●


"Mas... Dari mana? Tumben bawa mie ayam... " sambut Wulan yang baru menerima tamu.


"Bank... Ya aku beli pengen aja tadi terus kepikiran kamu... Aku bungkus deh... " jawab Aji lalu mengecup pipi Wulan dan sedikit membungkuk untuk menyapa tamunya sambil berjalan masuk.


Aji terus memikirkan soal putranya dan akhirnya ia tau kalau namanya Alif. Aji terus memikirkan soal Nana dan Alif yang ia campakan. Bayangan indah saat masih tinggal bersama Nana kembali muncul dan begitu lekat di pikirannya. Semua kembali terbayang secara jelas.


Ke khawatiran soal Nana dan Alif terus menguak hingga rasanya begitu sesak. Ingin sekali Aji kali ini merasakan pelukan Alif, menggendongnya lalu jalan-jalan bersama sambil menggandeng Nana. Hangat dan harmonis... Nyaman. Nana selalu memberinya rasa nyaman.


Rasa itu tumbuh makin menguat. Rindu yang muncul dan menyayat secara perlahan, merambat naik dan terus membuncah. Ingin memeluk Nana, mendekapnya. Bermain dengan Alif putranya, membayar semua keterlambatan dan menebus kesalahannya.


Membesarkan putranya dengan kehangatan dan penuh cinta. Memberikan nafkah dan fasilitas yang layak, setidaknya tak perlu berpanas-panas dan mengejar angkutan umum.


Aji terus membayangkan betapa Indah hidupnya bila bisa kembali bersama Nana. Menikahinya dan bertanggung jawab atas semua. Mungkin sekarang akan ada masakan yang di buat dengan penuh cinta. Ada tutur kata yang lembut, halus dan menyejukkan sekaligus menyemangatinya tiap down. Ada tangan lembut yang mengusap wajah lesunya tiap pulang kerja lalu mengecup keningnya meskipun sambil berjinjit itupun Aji masih menunduk, lalu ada paha yang duduk bersimpuh sambil bersandar agar ia nyaman berbantalkan paha sambil mencurahkan meruwetan harinya dengan tangan yang selalu mengelus rambutnya.


"Mas... " panggil Wulan memecahkan lamunan Aji dengan angan dan penyesalannya. "Makan yuk... Mienya dah aku siapin... " ajaknya dengan senyum manis yang menghiasi paras ayunya.