
Kalo kamu ikut papa, mamamu juga ikut papa hidupmu pasti bahagia nak... Batin Aji sambil menatap Alif lalu bundanya Lila yang langsung masuk ke dalam rumah. "Alif hari ini mau ngapain? " tanya Aji berusaha menghibur Alif.
Alif hanya menggeleng lesu lalu berjalan pulang sambil menahan tangis.
"Kita pergi makan ke mall kayak kemarin yuk! Nanti main mobil kecil lagi... " ajak Aji sambil mengikuti Alif.
"Tidak usah, aku mau pulang mau mandi... " jawab Alif sedih.
"Om tungguin, habis mandi kita main... Oke? " tawar Aji tak menyerah menghibur Alif hingga sampai depan rumah.
"Tidak, om pulang saja... Da... Da... " usir Alif lalu masuk rumah dan melepas bajunya. "Ayo mandi... " ajak Alif pada pak Janto yang tengah menjahit.
●●●
"Na... Kan Aji itu bapak kandungnya Alif meskipun secara agama Alif ga punya bapak dan ga bisa pakek Bin nama bapaknya, terlepas dari itu Aji kan bapak biologisnya... " ucap Arif sambil menutup lesrering celananya.
Nana hanya menghela nafas, dari hatinya Nana ingin kembali pada Aji. Memberikan keluarga yang sesungguhnya pasa Alif. Tapi tiap ia mengingat bagaimana keluarga Aji yang membencinya dan bagaimana cara Aji memperlakukannya dulu sungguh masih menyakiti hatinya.
Nana mengelap sudut bibirnya dan lagi ia kembali menghela nafas. "Alif itu anakku, aku yang hamil, aku yang melahirkan, menyusui sampai besar kayak sekarang... Aku sendirian... Ga adil kalo orang lain datang tiba-tiba ambil anakku... Aku sayang Alif... " jawab Nana kekeh.
Arif mengecup kening Nana lalu tersenyum. "Yaudah kalo gitu kita sama-sama jadi orang tua Alif... " ucap Arif menahan diri.
"Iya mas... " Nana tersipu.
"Ayo pergi ga enak kalo ada yang liat... " ajak Arif.
Nana nurut-nurut saja mengikuti perintah pria yang hanya menjanjikan cinta padanya itu. Nana terus memikirkan bagaimana kalau Aji membawa Alifnya pergi, apakah Alif akan benar-benar terlindungi? Padahal dulu saja Aji tak bisa mempertahankan dirinya sendiri atas tekanan keluarganya.
Tidak! Tidak usah memikirkan soal mas Aji lagi! Ini godaan soalnya aku mantep di halalin mas Arif. Mas Aji masa laluku, ga usah di pikirin lagi! Batin Nana menguatkan hati sepanjang perjalanan pulang.
"Boleh kalo Alif panggil om, papa... " ucap Aji.
"Papa... " ucap Alif yang membuat Nana membelalakkan mata tak terima dengan apa yang ia dengar. "Papa aku mau lagi boleh tidak? " tanya Alif sambil tersenyum canggung berusaha menutupi rasa senangnya.
"Boleh... Doni juga mau? " jawab Aji sembari menawari Doni juga.
Apa maunya mas Aji ini ?! Batin Nana kesal bukan makin melihat kedekatan Alif yang makin lama makin menjadi-jadi.
"Aku jadi papanya Alif boleh tidak? " tanya Aji ketika Nana dan Arif berhenti menghampirinya.
"Tidak bisa, kan mama mau nikah sama ustadz... " jawab Alif.
Nana dan Arif diam melihat percakapan antara Alif dan ayah biologisnya itu.
"Ya gapapa, mama nikah sama ustadz tapi Alif papanya aku... " tawar Aji.
Alif hanya tersenyum sambil menggeleng. "Hihihi... Ya aneh dong... " tolak Alif.
"Ya gapapa... " jawab Aji meyakinkan Alif.
"Ya nanti rumahku tambah-tambah sempit, ada bapak, ustadz, mama, aku, om aneh... " ucap Alif menjelaskan kondisinya.
Aji terbahak-bahak mendengar jawaban Alif yang mengkhawatirkan rumahnya yang jadi sempit. "Nanti Alif ikut aku biar tidak sempit, mama sama ustadz sama bapak aja... " tawar Aji.
"Mas udah gausah kayak gitu. Dulu kamu ga mau, jangan menjilat ludahmu! " ucap Nana lalu menggendong Alif dan membawanya secara paksa.