My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
part 135 #2



Alif duduk menahan tangis di ruang guru. Kepalanya bocor setelah di lempar kursi temannya. Alif sudah mendapat pertolongan. Hanya saja sekolahan tetap perlu melapor pada orang tua alif.


Teman sekelas alif yang melempar kursi pada alif juga langsung di panggil orang tuanya. Selama menunggu orang tuanya datang alif hanya diam saja sambil terus melihat ke pintu, sementara temannya yang melempar kursi menangis dengan begitu keras. Tangisnya juga makin menjadi-jadi begitu orang tuanya datang.


"Aku tidak sengaja! Alif yang nakal duluan! " jeritnya dengan histeris.


Alif hanya menggeleng dan menatap bingung ke arah temannya yang malah menyalahkannya.


"Aku cuma bermain! Aku tidak salah! Alif yang salah! Dia yang nakal! " jeritnya yang makin menjadi-jadi sambil menuding-nuding alif bahkan akan melemparkan vas bunga di atas meja pada alif juga.


Alif berusaha keras agar tidak ikut menangis saat temannya terus menangis sambil menyalahkannya. "Papa! " panggil alif begitu melihat aji datang.


"Ya allah! Kakak kenapa nak? " tanya aji yang langsung membuat tangis alif pecah.


Aji menatap guru yang sudah siap memutar vidio cctv kelas alif agar masalah tidak meluap kemana-mana. Alif langsung memeluk aji erat-erat, temannya terus saja menangis sambil terus menyalahkan alif.


"Tunggu, sebelum di putar. Aku mau denger penjelasan dari anak-anak... " tahan aji. "Kakak tadi gimana ceritanya? " tanya aji pada alif karena temannya sudah tidak kondusif untuk ditanyai apa lagi menjelaskan kronologi masalahnya.


Alif mengatur nafasnya sambil terus mengganggam tangan aji. Alif menatap aji dan temannya lalu gurunya dengan ragu dan takut untuk bicara.


"Tidak papa... " ucap bu guru menguatkan alif sambil tersenyum.


"Jadi tadi aku makan, aku berbagi sosisku sama Alia, Boni pengen juga. Tapi kalo aku bagi boni juga sosisku habis aku jadi tidak makan. Boni marah-marah. Aku gigit sosisku kecil terus kasih ke boni. Dia marah... "


"Ya udah jelas itu alif yang salah!" potong mama boni sebelum alif selesai menjelaskan. "Harusnya alif kan bagi si boni dulu baru sama alia. Kalo boni minta harusnya juga langsung di kasih aja. Bener itu boni marah! " belanya dengan egois.


"Kan aku benar! " boni merasa bangga mendapat pembelaan dari ibunya.


Aji hanya geleng-geleng kepala mendengar ibu dan anak yang begitu egois ini. Bu guru pun ikut geleng-geleng kepala tak menyangka ada orang tua yang begitu memanjakan anaknya hingga merugikan orang lain.


"Kita lihat vidionya ya... " ucap bu guru sebelum aji buka suara untuk membela alif.


Sepanjang pemutaran vidio kondisi kelas alif. Nampak jelas bila alif hanya berusaha mempertahankan bekal makan siangnya dan sudah cukup berusaha berbagi semampunya pada teman-teman yang lain. Tapi tetap saja mama boni membela anaknya.


"Tapi aku sudah mau bagi... Aku gigit sedikit... Aku tidak salah... " lirih alif dengan sedih.


"Iya papa tau kakak gak salah... Nanti papa tuntut keluarganya boni sama sekolahannya kakak ya biar ga ada yang nakal-nakal lagi... " ucap aji menenangkan Alif.


Mendengar ucapan aji yang berniat membawa masalah anaknya ke jalur hukum membuat mama boni jadi sedikit gentar apa lagi aji tak terlihat bercanda atau hanya sekedar menenangkan emosi putranya saja. Aji benar-benar tampak serius.


"Beri aku tawaran yang seimbang dengan apa yang di alami alif... " tantang aji pada bu guru.


Bu guru hanya diam bingung harus bagaimana, lalu memilih untuk mendatangkan kepala sekolah agar masalah cepat menemukan jalan terang.


"Bapak kabari saya paling lambat nanti sore, saya ga ada waktu buat negosiasi sama orang tuanya boni... " putus aji lalu menggendong alif keluar. "Kakak kelasnya yang mana? Kita ambil tas terus pulang ya... " ucap aji lembut pada alif.


Alif hanya mengangguk sambil terus menatap boni dan mamanya yang masih ada di dalam ruangan.


"Sudah gapapa... Ada papa... " ucap Aji menguatkan alif.


Alif kembali mengangguk lalu berjalan ke kelasnya di ikuti aji.


●●●


Nana masih saja mendekap alif sambil memandangi tubuhnya yang ternyata ada memar-memar juga dengan perasaan sedih. Bagaimana tidak sedih, selama ia membesarkan alif tak pernah sekalipun ia berbuat kasar apalagi sampai fisiknya terluka. Sekarang malah orang lain seenaknya menyakiti putranya.


"Kak... Kakak belajar bela diri mau tidak? " tanya aji agar istrinya juga tidak terlalu sedih, dan rasanya mengajari alif beladiri adalah salah satu solusi atas bulian yang ia alami.


"Beladiri bagaimana? " tanya alif.


Aji terdiam sejenak lalu mengambil ponselnya dan mencarikan vidio online beladiri silat yang sedang bertanding. Alif menontonnya sejenak tapi ia langsung memalingkan wajahnya enggan melihat sabung silat yang di putar aji.


"Kalo ga suka yang ini aja gimana? " tanya aji sambil memutarkan vidio bela diri lain seperti karateka, alif kembali memalingkan wajahnya.


Tak habis akal aji mencari cabang olahraga beladiri lain seperti taekwondo, kapuera, muaythai, sampai boxing dan gulat. Alif tetap saja tidak tertarik.


"Kakak gak harus berkelahi kayak di vidio kalo kakak ga mau. Kakak cuma belajar aja, jadi kalo ada yang nakalin kakak, kakak bisa bela diri... " ucap aji masih saja membujuk.


"Tidak... Dia nakal suka pukul-pukul... Kalo aku juga suka pukul dia... Aku nanti jadi anak nakal juga... Aku jadi sama aja kayak dia... " ucap alif dengan segala pertimbangannya sebagai seorang anak.


"Terus kakak mau gimana kalo di nakalin? " tanya aji heran.


"Ya aku kasih tau jangan nakal gitu... " ucap alif lalu meninggalkan kamar papa mamanya dan memilih berdiam diri di kamar.


"Kak... Tapi kalo kakak bisa bela diri kakak nanti bisa jagain mama sama adek loh... " bujuk aji yang mengintili alif.


"Mama sama adekku baik, ga mungkin ada yang jahatin... " ucap alif final.