
Nana berkali-kali menyeka air matanya. Tangisnya tak terbendung lagi. Alif terus memeluk Nana sambil mengelus-elus punggungnya, sesekali Alif juga menyeka air mata Nana.
"Mama jangan nangis terus... " ucap Alif sedih.
Arif hanya bisa diam melihat Nana menangis. Ingin pergi sungkan, menetap sejenak pun tak nyaman. Makin banyak lagi pertimbangan Arif sekarang untuk mempersunting Nana setelah apa yang barusan terjadi. Hampir semua kriteria pendamping hidupnya ada pada Nana. Terlepas dari wajah cantik polosnya, juga pembawaannya yang kalem. Nana sudah menjadi idamannya.
"Maaf ya Mas, jadi liat banyak masalah keluargaku gini... " ucap Nana setelah merasa cukup menguasai dirinya dan tenang untuk bicara.
"I-iya... Tidak maslah.... " jawab Arif maklum sambil mengangguk dan tersenyum canggung.
Tadi pasti orang jahat sekali... Mama ga boleh di nakalin dia! Batin Alif yang masih memikirkan soal kedatangan Aji tadi. "Ma, kenapa orang tadi kesini? " tanya Alif.
Nana hanya menggeleng lalu memeluk Alif. "Mama sayang sama adek... " ucap Nana lembut.
"Iya aku tau... " jawab Alif lalu membalas pelukan Nana.
Nana hanya diam, bingung harus menjelaskan bagaimana pada anaknya tentang masalah barusan. Nana belum siap menjelaskan siapa papanya Alif. Nana belum siap menjelaskan semuanya. Apalagi ingatannya saat Aji mengusirnya kala itu kembali berputar.
Ingatan bagaimana Aji yang langsung pergi meninggalkan kontrakan. Aji yang menyuruhnya menggugurkan janinnya waktu itu. Bahkan bagaimana cara Aji memfitnahnya di depan keluarga membuat luka yang cukup dalam bagi Nana. Lagipula selama ini Aji juga tak pernah menghubunginya, jangankan menghubungi membalas pesan yang Nana kirimpun tidak. Mengangkat telepon juga tidak, apalagi mencari dan menanyakan kondisinya saat itu.
Aji hanya datang dan kembali mengingatnya karena tak sengaja berpapasan waktu itu. Mungkin kalau tidak Aji tak pernah mengingatnya, tidak akan mencarinya lagi. Bahkan Aji bisa saja hanya fokus pada perintah keluarganya dan mengejar karir saja tanpa mempedulikannya. Tak mungkin pula Aji dan mamanya datang meminta maaf hingga bersujud kalau saat itu tak bertemu dan tak melihat Alif. Tak mungkin muncul penyesalan dalam benak Aji kalau tak melihat Alif yang lahir dan tumbuh dengan baik begini.
Aku ga boleh jatuh di lubang yang sama... Batin Nana menguatkan dirinya.
"Darimana saja? " tanya Broto menyambut Aji dan Siwi.
"Nonton film... " jawab Siwi lalu memeluk suaminya sementara Aji langsung berjalan masuk ke kamarnya.
Aji langsung melangkah masuk ke atas menuju kamarnya. Sudah tak pernah lagi terlintas di kepalanya soal Wulan atau hubungan rumah tangganya nanti. Bercerai alhamdulillah, bertahan ya sudah. Aji tak mau ambil pusing lagi.
"Aji gimana? " tanya Broto sambil berjalan ke kamar bersama Siwi.
"Ya, biasa masih galau... Sebaiknya setelah ini kita biarkan saja Aji dengan pilihannya Mas... " jawab Siwi sambil menghela nafas.
"Di biarkan gimana? Kan selama ini kita gitu... " selak Broto yang merasa tak bersalah.
Siwi hanya menggeleng lalu megusap wajahnya dengan mata terpejam dan kepala yang tertunduk. "Kita sudah sering bicarakan ini... Kita sudah sering membahas ini... " ucap Siwi lalu bangun dan berjalan masuk ke kamar mandi.
Broto tak mau menanggapi, ia lebih memilih untuk membahas yang lain atau menyibukkan dirinya. Permintaan sederhana istrinya benar-benar terasa sangat berat sekarang. Mungkin bila Siwi memintanya untuk mencuri mahkota Ratu Elizabeth itu lebih mudah daripada permintaan dan tuntutan Siwi.
Sementara itu di kamar Aji tengah merenung memikirkan Nana dan marbot masjid yang ikut campur tadi. Ucapan Arif yang merasa memiliki hak atas Nana dan Alif membakar api cemburu dalam dadanya. Kesal dan penasaran kenapa Arif begitu protektif pada keluarga Nana.
Apa karena marbot itu Nana jadi menolakku? Apa karena marbot itu juga Nana tidak mau mengenalkan Alif padaku? Apa marbot itu juga yang sudah menggeser kedudukanku di hati Nana? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berseliweran di kepala Aji tanpa sempat intropeksi atas apa yang pernah ia perbuat pada Nana sebelumnya.