
Jelas kembali terjadi keributan di rumah pak Janto. Bahkan sampai warga datang berkerumun menyaksikan. Tapi sebelum semakin parah Nana langsung menhambil jalan tengah untuk membawa masuk Aji dan ibunya juga Arif yang ada disana lalu menutup pintu.
"Eh! Kamu orang aneh yang jahat terus ikutin aku sama mama kan?! " pekik Alif lalu mengambil paralonnya dan memukuli Aji sekuat tenaganya. "Cepat pergi! Aku tidak suka kamu! Mamaku juga! " usir Alif sambil terus memukul sementara Aji hanya diam menerima tiap pukulan dari anaknya.
Mata Aji berkaca-kaca menatap Nana dan putranya. Keduanya mampu menjalani hidup dengan baik bahkan tanpa ia dampingi. Aji langsung bersujud meminta maaf pada Nana. Berkali-kali di ucapkannya maaf sambil menciumi kaki Nana.
Alif bersembunyi di balik mamanya terlalu takut dan bingung dengan kondisi yang ada. Beberapa kali Alif bertanya "dia kenapa ? Kenapa dia kayak gitu? " tapi tak ada yang menjawab.
"Maaf Na, aku sudah menelantarkan kamu, menelantarkan anak kita, membiarkan kamu susah sendirian... Aku menyesal Na, aku minta maaf... " Aji terus menangis meminta maaf sambil bersujid.
Nana hanya diam memalingkan wajahnya lalu mundur perlahan-lahan. "Sudah, tidak apa-apa. Anggap saja tidak terjadi apa-apa toh aku hanya ***** yang kamu sewa. Bukan begitu katamu dulu? Dia bukan anakmu, anggap saja dia ku gugurkan waktu itu! " ucap Nana berusaha tegar menolak Aji meskipun air matanya berlinang.
"Na... Aku bener-bener minta maaf Na... Aku dosa sudah menelantarkan kamu, lari dari tanggung jawabku... Na... Aku minta maaf... " tangis Aji lalu bersimpuh menatap wajah Nana meskipun tak begitu jelas karena matanya yang buram pasca menangis.
"Sudah ku maafkan! Pergi sana! " usir Nana dengan kesal.
"Na... Tolong maafin anak mama, maafin mama juga... " Siwi ikut berlutut meminta maaf pada Nana juga bapaknya yang ada di sana.
Pak Janto hanya diam tak kuasa melihat Siwi yang memohon untuk meminta maaf. Ingatannya akan mendiang istrinya kembali terputar saat istrinya waktu itu memaksa meminta restu dari keluarga agar bisa menikah. Berlutut sampai bersujud meminta restu, sambil menangis memohon.
"Pulanglah... " ucap pak Janto setelah lama diam.
Perlahan Aji menatap pak Janto, lalu merangkak mendekatinya. "Pak, saya minta maaf... Saya sudah jahat... Saya sudah salah... Ijinkan saya menebus semua kesalahan saya... Dosa-dosa saya... Meskipun sudah jauh terlambat... " ucap Aji masih memohon.
"Pulanglah... Berhentilah berbohong dan menjilati ludahmu begitu... Pergilah seperti sebelumnya... " usir pak Janto.
"Pergilah, tidak usah di tebus segala... Anggap saja impas... Anggap saja lunas... " ucap Nana sambil membuka pintu mengusir Aji juga ibunya.
Alif masih saja bersembunyi di balik mamanya dengan ketakutan. Siwi tersenyum lembut menatap Alif dan Nana, berusaha tegar meskipun masih terisak. Aji terus menatap Nana dan Alif.
"Na... Percayalah, aku benar-benar bersungguh-sungguh..." ucap Aji serius yang tetap di acuhkan Nana.
●●●
Nana berkali-kali menyeka air matanya. Tangisnya tak terbendung lagi. Alif terus memeluk Nana sambil mengelus-elus punggungnya, sesekali Alif juga menyeka air mata Nana.
"Mama jangan nangis terus... " ucap Alif sedih.
Arif hanya bisa diam melihat Nana menangis. Ingin pergi sungkan, menetap sejenak pun tak nyaman. Makin banyak lagi pertimbangan Arif sekarang untuk mempersunting Nana setelah apa yang barusan terjadi. Hampir semua kriteria pendamping hidupnya ada pada Nana. Terlepas dari wajah cantik polosnya, juga pembawaannya yang kalem. Nana sudah menjadi idamannya.
.
.
.
Aku mau crazy up lagi enaknya kapan?