
"Tadi gimana kok bisa takut? " tanya nana sambil membantu alif naik ke tempat tidur.
"Aku liat monster kalo kamarnya gelap, lampunya kecil... " jawab alif polos.
"Ah apa iya? Coba papa cek... " ucap aji.
"Beneran! Ayo! " ajak alif lalu turun lagi dari tempat tidur dan menarik tangan Aji agar mengikutinya. Tapi belum alif membuka pintu ia sudah merentangkan tangannya minta di gendong. "Kita keluar nanti aku tunjukin... " ucap Alif yang sudah di gendong aji.
"Oke... " jawab aji menuruti alif.
Aji berjalan keluar dan langsung menutup pintu. Alif menunjuk ke arah ruang tamu. Aji berjalan dengan hati-hati ke ruang tamu lalu menyalakan lampu. "Tidak ada... " ucap aji.
Alif kembali menunjuk ke ruang tengah. Aji kembali menuruti alif dan berjalan ke ruang tengah. Alif mengeratkan pegangannya pada aji. Aji kembali menyalakan lampu. "Tidak ada... " ucap aji.
"Dapur... " ucap alif. Kembali aji menuruti permintaan alif untuk membuktikan ketakutannya. Alif dan aji hampir berkeliling rumah untuk menyalakan lampu dan membuktikan tidak ada monster berbentuk beruang berwarna pink seperti yang alif takutkan.
"Sudah kan kita sudah keliling rumah tidak ada monsternya... " ucap Aji lalu menurunkan alif dari gendongannya di depan kamarnya.
"Iya, tapi kenapa di kepalaku ada kayak monster gitu... Kayak dia melihat aku... Intip aku... "
Aji mematikan lampu lalu menyalakannya kembali. "Yang adek liat itu bayangan... Adek kan pinter jadi imajinasinya adek itu gabung-gabungin bentuk bayangannya jadi adek ngira ada monster... Monster itu ga ada dek... " jelas aji.
Alif terdiam sejenak lalu cemberut. Ingin membantah tapi apa yang di sampaikan papanya benar. Tapi bila di benarkan alif yakin ia melihat monster yang sedang mengintainya.
"Hmm... Gini... " aji mengajak alif masuk ke dalam kamarnya lalu menyalakan lampu. "Tidak ada monster... Kan bobo sama bapak... Di jagain bapak... " ucap aji lalu kembali menidurkan alif ke tempat tidurnya.
Aji mengambil senter lali menyalakannya. Aji meletakkan kedua tangannya dan membentuk bayang-bayang seekor burung. "Liat kan, tangannya papa biasa aja juga bisa jadi kayak burung bayangannya... " jelas aji lagi lalu mengajari alif untuk ikut bermain bayangan bersamanya.
Aji terus bermain dengan alif sampai alif puas dan paham bila tidak semua bayangan sama dengan benda aslinya. "Berdoa... " perintah aji saat alif sudah menguap beberapa kali.
"Bismillahirahmanirahim bismika allahumma ahya wa bismika amut... Aamiin... " aji dan alif berdoa bersama.
"Papa temenin adek sampe adek tidur... " ucap Aji yang di angguki Alif sambil mulai terpejam.
"Aku sudah jadi pemberani... Aku tidak takut gelap lagi... " ucap alif.
"Pinter...." puji Aji lalu mengecup kening alif dan mengusap-usap punggungnya hingga alif benar-benar tertidur dengan nyenyak kembali.
●●●
"Alif mana mas? Ga jadi bobo sini? " tanya nana yang sedari tadi menunggu.
"Enggak dong. Alif bobo sendiri dia kan jagoan... " jawab aji bangga lalu tiduran di samping nana sambil mengelus perutnya dengan lembut. "Aku pengen minta jatah, kamunya hamil muda banget... " ucap aji lalu ******* bibir nana yang tersenyum jail melihatnya harus menahan diri tidak mendapat jatah malam.
"Sabar ya pa... " ucap nana. "Tapi kalo maksa mau minta sekarang banget juga boleh kok... " ucap nana.
"Enggak usah... Ntar aja aku ga mau kenapa-napa... " tolak aji.
"Kalo aku yang minta? Gimana? " tanya nana lalu mengarahkan tangan aji untuk menjamah tubuhnya.
"Gas lah! Bismillah ayo... " jawab aji semangat.