
Alif tampak begitu nyaman dalam dekapan Aji sambil memakan kripik kentang di atas tempat tidur sembari menonton film Minions bersama. Aji juga beberapa kali menciumi Alif yang berada dalam dekapannya.
"Om kangen sama adek loh... " ucap Aji beberapa kali meskipun hanya di angguki Alif yang fokus menonton film. "Adek jadi anaknya om mau tidak? " tanya Aji.
"Aku anaknya mama... " jawab Alif sambil menyuapkan kripik kentang ke mulutnya.
"Ya sama anaknya om juga kalo gitu! Jadi panggil om papa begitu... " Aji menjauhkan kripik kentang dalam dekapan Alif.
"Aku anaknya mama sama ayah... " Alif menatap Aji sambil tersenyum geli. "Om lupa ya? " Alif mengingatkan sambil cekikikan.
Nana hanya tersenyum mendengar percakapan Aji dan Alif. Bahkan Alif lebih kekeh mempertahankan diri untuk memanggil Aji om, bukan papa.
"Om ini papanya Alif yang asli loh... " ucap Aji meyakinkan Alif.
"Apa iya? Buktinya mana? " tanya Alif yang langsung menskak mat Aji yang pernah menolak kehadirannya dulu.
Aji hanya diam tak bisa menjawab pertanyaan Alif yang rasanya begitu menohok. Aji bahkan tak bisa menutupi wajah sedihnya karena pertanyaan Alif yang membuatnya terpental jauh mengingat kembali awal ia menolak kehadiran Alif. "Kalo aku mau adek panggil aku papa, caranya gimana? " tanya Aji terus terang sekaligus mengalihkan pertanyaan Alif.
"Ya harus tidak aneh, harus baik... " jawab Alif santai lalu kembali meraih kripik kentangnya.
"Aku kan baik, tidak aneh... " Aji langsung menguatkan dirinya.
Nana kembali tersenyum mendengar negosiasi Aji dan Alif yang tak kunjung menemukan titik terang.
"Habis makan kripik kita sikat gigi ya dek... " ajak Nana yang di angguki Alif.
"Na bantuin dong... " rengek Aji.
"Ya kamu lah mas, kan dulu kamu yang ga mau... Urusanmu... " saut Nana acuh tak acuh.
Tapi terlepas dari negosiasi dengan Alif yang begitu alot, hari ini adalah hari terbaik Aji. Bisa menghabiskan waktu bersama, makan malam bersama orang tuanya pula, bahkan ayahnya mau bermain dengan Alif, tak sampai di situ bahkan Nana dan Alif mau menginap. Betapa senangnya Aji.
"Sudah ayo sikat gigi! " ajak Alif pada Nana.
Aji menatap Nana dan Alif yang berjalan bersama masuk ke kamar mandi di dalam kamarnya. Menatap punggung dan badan Nana yang perlahan menjauh meskipun masih bisa di pandangnya. Tak ada yang berubah darinya. Ralat. Ada sedikit perubahan dari dirinya, aura keibuannya yang sexy begitu terasa sekarang. Begitu menggoda iman.
Ada Nana dan Alif dalam jangkauan pandangannya, tinggal satu atap, menemani Alif hingga terlelap lalu menghabiskan waktu berdua. Sungguh mimpi yang begitu Indah bagi Aji. Bahkan bisa seperti sekarang saja sudah membuatnya senang bukan main. Terasa seperti suami istri sungguhan.
"Doa mau tidur... " ucap Nana sambil tiduran bersama Alif yang berada di tengah kasur dan menyisakan tempat untuk Aji tidur nanti.
Aji menghela nafas masih menatap Nana dan Alif tanpa bosan. Aji bahkan mencuri beberapa foto, mengabadikan momen langka ini. Rumah kali ini terasa lebih hangat dan menyenangkan.
"...halo... " terdengar suara Alice di ujung sana dari panggilan telepon Aji.
"Apa? " Aji berbisik enggan membangunkan Nana dan Alif.
"...kapan balik?... "
"Belum tau, aku disini lebih lama lagi... Aku kangen anakku... "
"...aku ga mau kemana-mana sendirian, bawa bayi, ribet... "
Aji hanya diam mendengarkan keluhan adiknya sambil menatap Nana. Betapa nelangsanya Nana dulu tergambar dalam benak Aji. Tak punya tempat kabur, tak punya uang lebih, tak punya tempat bersandar, tak ada tempat mengeluh. Bahkan pertemuannya dengan Alif di pasar kala itu saja Nana sambil membawa belanjaan dan menggendong buah hatinya yang sudah besar.
Aji merasa benar-benar berdosa pada Nana yang sudah ia hancurkan sehancur-hancurnya dan Alif yang kena getahnya. Harusnya Alif tinggal di tempat layak seperti sekarang. Makan tinggal ambil, mainan tinggal pilih, tontonan... Ah jangan di ambil pusing apapun jelas tersedia.
Air mata Aji mulai menetes tak kuasa membayangkan betapa keras jalan yang di lalui gadis kecilnya yang harus membawa anaknya pula. Seorang diri melawan segala cibiran dan hidup yang terlunta-lunta.
"Mas... " Nana membuka matanya menatap Aji yang sudah berlinang airmata menatapnya dari tadi. "Mas kenapa? " tanya Nana lembut lalu bangun dari tidurnya.
Aji menggelengkan kepalanya tak kuasa bila harus bicara. Sudah jelas ia akan terisak menangis dan mungkin akan membangunkan Alif.
Nana menghela nafasnya lalu berjalan mendekati Aji. "Alice? " tebaknya. Aji langsung menggeleng. Nana terdiam sejenak lalu duduk di hadapan Aji. "Kamu mau antar aku sama Alif pulang sekarang? " tanya Nana sambil mengikat rambutnya.
"Jangan! " Aji langsung tersentak mendengar pertanyaan Nana. "Maksudku enggak, disini aja dulu... " ralatnya sambil menatap Alif yang masih terlelap.
Nana tersenyum melihat reaksi Aji yang takut kehilangannya.
"Aku masih mau sama-sama, aku suka liat kamu di kamarku. Tidur sama Alif, kayak mimpi kita dulu... " ucap Aji lirih agar tak membangunkan Alif.
Nana hanya diam menatap Aji lalu mengalihkan pandangannya sebelum beranjak dari hadapan Aji. Tapi tak mau membuang kesempatan yang ada di hadapannya Aji langsung memeluk Nana dari belakang. Aji langsung mendekap erat tubuh Nana lalu menggendongnya masuk ke kamar mandi.
Nana yang terkejut atas apa yang dilakukan Aji hanya bisa diam. Tapi saat Aji mulai mendekatkan bibirnya untuk ******* bibir Nana atau bahkan mencumbu tubuhnya yang begitu ia rindukan, Aji hanya terdiam. Seolah ada sesuatu yang menahannya.
"Kamu bukan Nanaku lagi, kamu istri orang. Kamu istrinya pembohong sialan yang ngaku-ngaku jadi ustadz, kamu di peristri orang yang salah. Dan aku tidak bisa memilikimu. Aku sudah berani sekarang, tapi aku tetap tidak punya kesempatan buat kamu sama Alif anakku... " bisik Aji dengan giginya yang bergemeletuk menahan nafsu, rindu, juga amarah dalam dirinya.
Nana hanya bisa meneteskan air mata dengan tatapan kosong, tanpa bisa berkata apapun. Rasanya pilihan untuk menikah dengan Arif terasa terlalu salah saat ini. Nana menyeslai amarahnya saat Aji kembali berlari padanya. Aji yang terbaik untuk Alif dan dirinya. Tapi bagaimana... Ia sudah jadi istri orang.