
Alif tidak mau makan, pertama kalinya Alif menolak membuka mulut untuk makan. Alif hanya diam sambil bersandar di tembok. Di ajak belajar juga tidak mau, bahkan di tawari beli mie ayam juga masih tidak mau.
"Aku tidak suka ustadz.... " ucap Alif menyampaikan keberatannya pada Nana. "Aku tidak suka mama menikah... " larang Alif.
"Kenapa tidak suka? " tanya Nana.
"Tidak suka ya tidak suka!! Aku tidak tau kenapa! " jawab Alif yang bingung harus memberikan alasan bagaimana untuk menunjukkan kalau ia tidak setuju. "Kan aku sudah bilang mama tidak usah menikah, neyel terus! " sambung Alif yang makin meninggikan nada bicaranya agar tidak terlihat sedih dan menahan tangis.
"Terus maunya adek apa? Masa mama ga boleh nikah? Kasian dong mama sendirian terus... " bujuk pak Janto.
"Kan ada aku! Ada bapak... Hiks... Aku kan sudah bilang aku maunya mama tidak menikah... Aku tidak suka! " jawab Alif sambil menampik tangan orang-orang yang ingin menyentuhnya.
Pak Janto hanya bisa diam melihat cucunya yang marah-marah begini, padahal biasanya Alif senang dengan orang baru. Apalagi Alif juga cukup dekat dengan ustadz Arif yang akan di nikahi Nana ini.
"Adek kok marah-marah siapa yang ajarin? " tanya pak Janto heran.
"Aku sendiri, pikiranku... " jawab Alif sambil menyeka air matanya yang mulia jatuh.
Semuanya diam tak bisa bicara atau mengomentari apapun setelah Alif menjawab. Mungkin Alif selama ini anak baik, kalem, penurut, tapi kadang orang-orang lupa kalau Alif juga seorang manusia dan anak-anak yang di bentuk olah lingkungannya.
"Adek kenapa sih kok nyebelin? " tanya Nana yang mulai habis kesabaran melihat Alif membantah dan marah-marah atas apa yang sudah ia putuskan.
"Aku tidak nyebelin aku anak baik! " jawab Alif jelas tak mau kalah.
Alif membelalakkan matanya tak menyangka mamanya akan memarahinya dan membentaknya juga dengan limpahan kesalahan yang tak jelas apa. Bahkan tanpa sadar Alif sampai menahan nafas agar tidak menangis hingga usai Nana marah ia masih saja menahan nafasnya hingga tersengal berusaha menangis.
"Istighfar kamu Na, ga pantas kamu bilang gitu ke Alif... " ucap pak Janto sambil memeluk Alif dan berusaha membuatnya merasa lebih baik.
●●●
Zulia menangis dalam diam di kamarnya tak sampai hati ia kalau harus menceritakan kalau Arif akan menikahi wanita lain. Sesak sekali rasanya. Bahkan setelah ia merasa menang dari Sarah dalam mendekati Arif, ternyata ia merasakan hal yang sama juga.
Tak hanya itu ingatannya akan sikap yang di tunjukkan Arif padanya selama ini hingga ia nyaman benar-benar membuatnya makin sesak. Menemaninya makan siang, membeli cat, mengurus pajak, pergi ke kampus, ke perpustakaan, kepondok. Semuanya benar-benar terasa Indah dan rasa dalam hatinyapun begitu nyata.
Tulus tanpa maksud lain, nyata senyata air yang menyegarkan. Jantungnya terus bersebar tiap bertemu Arif, hatinya pun berbunga-bunga tiap mendapat segala perhatian dari Arif. Tapi itu dulu sebelum fakta menyedihkan itu muncul.
Mau tidak mau ia harus merelakan Arif dengan wanita pilihannya. Meskipun seorang pria di perbolehkan memiliki empat istri, tapi bagi Zulia menjadi madu haram hukumnya. Tak ada satupun wanita yang mau di madu, bila ia jujur.
Zulia terus merutuki kesalahannya. Bahkan beberapa minggu lalu ketika Arif mengecup keningnya sudah membuatnya yakin kalau Arif akan jadi suaminya salah. Nyatanya Arif begitu mudah mendaratkan kecupan dari bibirnya. Bahkan teringat tadi setelah isya dan masjid sepi Arif kembali mengecup keningnya sambil meminta maaf sudah mematahkan hatinya.
Ah sial, Arif ini terlalu hangat untuk di tinggali, tapi terlalu dingin untuk di padamkan.
"Harusnya aku paham! Harusnya aku lebih peka! Kenapa jadi gini sih ya allah!!! " adu Zulia dalam doanua sebelum tidur pada Allah.