
Nana memikirkan banyak hal sebelum akhirnya memilih untuk pindah saja. Awalnya Nana malah memikirkan untuk memberikan kesempatan kedua pada Aji. Tapi mengingat Aji yang mengabaikannya setelah sekian lama dan tak pernah memberi kabar atau mengiriminya entah apapun itu.
Nana sengaja ikut ke masjid untuk mengantar Alif ke TPA hari ini. Rencananya Nana ingin berpamitan pada pengajar Alif sekaligus menyampaikan bila Alif dan dirinya akan pindah.
Nana juga sudah mulai membicarakan tentang rencananya ini pada om tantenya yang jelas di sambut dengan hangat. Bahkan om tantenya juga sudah siap bila harus menyekolahkan Alif di sana nantinya. Sudah ada TK yang di pilih tante Yuni untuk Alif. Bahkan kamar untuk Nana dan Alif juga sudah di siapkan. Ada sepeda roda empat juga yang sudah di beli meskipun bekas, untuk Alif nantinya.
Arif tampak senang dan begitu sumringah saat melihat kedatangan Nana yang mengantar Alif. Nana juga duduk diam di luar masjid menunggu Alif. Mengabaikan gunjingan yang kembali berdengung dari mulut ibu-ibu di sekitarnya.
"Ku kira dah murtar ..." sindir seorang ibu pada Nana.
"Kemarin aku baru sibuk ngurus mau pindah bu... Jadi ga bisa ke TPA... " ucap Nana yang akhirnya menanggapi sindiran ibu-ibu di sekitar.
Para ibu yang tadinya begitu benci dengan Nana langsung mendekat dengan wajah sumringah dan senang.
"Loh kok pindah? " tanya salah seorang ibu.
"Alif butuh sekolah, aku juga masih mau kuliah... Jadi mungkin mau pindah kerumah om lagi biar aku sama Alif bisa berpendidikan... " jelas Nana. "Sebenarnya aku suka tinggal di sini... Aku bisa jualan, bisa mandiri... Alif juga bisa TPA... Ada temen mainnya... " sambung Nana yang membuat para ibu jadi terenyuh dan merasa malu sendiri.
"Mama... " panggil Alif yang sudah selesai mengaji sambil melambaikan tangan pada Nana yang dari tadi di perhatikannya.
Nana ikut melambaikan tangan sambil tersenyum. Arif ikut memperhatikan interaksi Nana dan Alif yang begitu hangat. Entah Nana yang super sabar dan kuat, atau memang sengaja menyembunyikan siapa suaminya pertanyaan itu masih menghantui Arif.
"Terus pindahnya kapan? " tanya salah seorang ibu.
"Insyaallah besok di jemput... Tapi nanti masih sering ke sini kok. Kan bapak masih di sini... " jawab Nana.
"Do'ain ya bu biar keterima kuliah... " pinta Nana tulus yang langsung di amini.
"Jadi ini nanti terakhir dong TPA-nya? "
"Insyaallah begitu..." jawab Nana sedih.
Tak selang lama TPA selesai. Beberapa anak yang di tunggu ibunya sudah langsung pulang. Bahkan ada ibu yang sengaja buru-buru pulang agar bisa segera membagi kabar baik soal Nana yang pindah pada yang lain. Beberapa anak yang masih piket tetap berada di masjid, ada yang menyapu ada yang menggelar sajadah sebelum pulang. Alif sendiri memang biasa di masjid sampai maghrib usai.
Biasanya Alif akan belajar mengaji lagi, kalau tidak dia akan mengintili ustadz sambil bertanya ini dan itu. Mendengar cerita atau tiba-tiba minta di gendong atau di peluk begitu saja. Awalnya ustadz Arif memang bingung dengan yang Alif lakukan dan Alif minta. Tapi lama-lama ia terbiasa malah kadang merasa kehilangan bila Alif tidak ada untuk menunggu adzan maghrib.
"Mama Alif... " sapa ustadz Arif yang begitu senang akhirnya ada waktu untuk bicara dengan Nana.
"Mas ustadz biar Sita aja yang ngomong sama mbak Nana... " ucap Sita yang tau bila Arif akan bicara dengan Nana.
"Tidak usah... Kamu pulang saja... Trimakasih sudah di bantu ya... " jawab Arif sambil menggandeng Alif berjalan menghampiri Nana.
Sita langsung sedih dan cemburu begitu mendengar jawaban Arif barusan. Ia yang awalnya berusaha menaruh simpati pada Nana langsung lenyap begitu saja. Rasanya apa yang sudah Nana lalui tetap tak setimpal menderitanya bagi Sita yang tengah kalab begini.
"Saya mau tanya seputar Alif... " ucap Arif membuka obrolan dengan Nana.
"Ah iya kebetulan... " jawab Nana sambil sedikit tersenyum, bukan untuk Arif senyum itu tersungging tapi untuk Sita yang melengos di depannya.
Manis sekali mama Alif ini... Batin Arif terpesona.