
Arif mengambilkan buku absensi dan catatan spp TPA. Nana diam duduk di depan masjid bersama Alif yang memakan bekal. Alif berusaha makan sendiri dengan hati-hati agar tidak berceceran dan mengotori masjid, sementara Nana menunggu Arif menunjukkan apa yang akan ia tunjukkan.
"Ini mama Alif... Kemarin Alif ga masuk empat hari ya? " tanya Arif membuka pembicaraan sambil menunjukkan buku absen.
"Ah iya maaf mas, kemarin sempet sibuk jadi ga bisa antar Alif... " jawab Nana berbohong, karena sebenarnya bukan sibuk tapi masih sakit hati anaknya di bully.
"Oh iya, tidak apa-apa... Ini spp bulan ini... " ucap Arif melanjutkan.
"Loh ada SPPnya... " ucap Nana. "Yang lain yang bayar siapa ini?" tanya Nana.
"Hamba Allah... " jawab Arif sambil tersenyum lembut.
"Jadi berapa mas? " tanya Nana sambil mengeluarkan dompetnya.
"Tidak usah biar hamba Allah lagi saja yang bayar... " jawab Arif santai.
"Jangan begitu... Aku masih kuat bayar buat anakku... " Nana kekeh.
"Lima belas ribu... " jawab Arif.
Nana langsung mengeluarkan uang lembaran sepuluh ribu dan tiga lembar dua ribuan. "Bilang ke hamba Allah... Nanti kalo ada waktu dan uang ku ganti semua... " ucap Nana.
Arif langsung tersenyum dan mengangguk. "Tidak pulang? " tanya Arif.
"Nunggu maghrib... " Nana menundukkan pandangan sambil membenarkan kerudungnya. "Oh iya mas ustadz... Alif mau pindah... Jadi kemungkinan hari ini terakhir TPA... " ucap Nana.
"Loh kenapa? Kok buru-buru sekali? " tanya Arif kaget.
"Aku mau kuliah, Alif juga perlu masuk TK. Jadi mau pindah ke rumah om biar Alif ada yang jagain... " jawab Nana.
"Loh kan kalo di sini Alif bisa TPA... " ucap Arif berat berpisah dengan Alif.
Nana kembali menundukkan wajah sambil tersenyum lembut. "Mas ustadz... Jujur saya sudah tidak nyaman di sini... Kalau mau bahas ini juga tidak nyaman ada kalo Alif dengar... " ucap Nana lembut lalu mengelus rambut Alif.
Nana mengangkat pandangannya menatap Arif sambil mengangguk.
"Apa benar mama Alif cerai? " tanya Arif ragu.
"Tidak... " jawab Nana singkat.
"Ah maaf... Sudah ku duga ini cuma gosip! Jadi aku cuma memastikan saja... Maaf menyinggung... Ah aku lancang sekali tanya seperti itu... " Arif langsung salah tingkah dan kelimpungan dengan jawaban Nana yang singkat dan tidak melanjutkan ucapan sama sekali.
"Aku tidak pernah menikah... " lirih Nana.
Arif langsung terdiam, mati-matian ia berusaha menyembunyikan rasa terkejut atas jawaban Nana.
●●●
"Dek... " panggil Aji sambil berjalan masuk ke kamar.
Wulan menurunkan buku yang di bacanya menatap Aji yang menghampirinya.
"Ada hal serius yang mau ku bicarakan... Tapi khusus hal ini tolong jangan kamu sentuh atau kamu ganggu... " ucap Aji serius.
Wulan langsung menutup bukunya dan meletakkan di atas laci. Pandangannya langsung serius. "Iya mas... " jawab Wulan sambil mengangguk.
"Berjanjilah... Ini satu-satunya permintaan terakhirku dan satu-satunya hal yang ingin ku lindungi... " ucap Aji lalu duduk berhadapan dengan Wulan.
"Iya mas aku janji... " ucap Wulan serius.
Aji langsung mengeluarkan ponselnya dan mematikan perekam suaranya. Aji kembali bangun untuk mengunci pintu kamarnya sebelum mulai bicara serius dengan Wulan.
"Dek... Jujur aku sudah punya anak... " ucap Aji.
Wulan langsung terperanjat kaget, tangannya langsung menutupi mulutnya. Tangan itu mulai turun perlahan dengan sedikit getar dan wajah terkejut yang tertunduk. "Ahaha... Kamu bercanda... "