
PART 60 UPDATE DI GOOGLE PLAY BOOK KARENA TIDAK LOLOS SELEKSI DI SINI! CERITA SELANJUTNYA TETAP UPDATE DI SINI!
⛔⛔⛔
"Ah! Sial! Kenapa mimpi itu lagi! " Aji terlonjak bangun dengan terkejut.
Keringat dingin di telapak tangan Aji sudah begitu banyak hingga tampak seperti baru saja cuci tangan. Aji mengatur nafasnya berusaha menenangkan pikirannya. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang ia lihat dalam mimpi hanya sekedar mimpi. Bunga tidur.
Drrt... Drrt... Drrt...
Getar ponsel Aji yang tergeletak di atas laci. Aji mengerutkan alisnya lalu mencabut ponselnya dari charger semalam. Aji tersadar bila ini hari putusan sidang pengadilan agama, hari dimana palu diketuk dan ia sah menjadi duda.
Aji kembali menjatuhkan kepalanya ke atas bantal lalu menatap langit-langit kamarnya. Ponselnya kembali berbunyi begitu nyaring. Aji kembali mengambil ponselnya dan melihat ada nomor tak di kenal menelfonnya.
"Ya halo? " ucap Aji mengangkat telfonnya.
"...Mas Aji, kirimin uang... " ucap suara gadis yang tak asing lagi di telinga Aji.
"ALICE! Kamu kemana aja? Ini kamu di mana? Kamu sama mama? " cerca Aji yang langsung bangun.
"...iya sama mama, abis di rumah ga enak aku sebel yaudah aku minggat aja... " saut Alice santai.
"Mama mana? " tanya Aji yang sudah ingin bicara dengan mamanya.
"...halo assalamualaikum... " suara lembut yang begitu lama ingin di dengar Aji akhirnya kembali terdengar.
"Ma, mama kemana? Kok nekat? Aku khawatir ..."
"Mama gapapa sama Alice... Mama nginep di rumah Joe, di Bali... " ucap Siwi agar Aji tenang.
"Bali? BALI? Mama sampe Bali? Astaga... Kenapa mama ke Bali ga ngabarin aku? Mama di cariin Papa loh... " ucap Aji panik.
"..." tak ada jawaban dari Siwi maupun Alice. Rasanya Aji sendiri juga sudah lebih paham bagaimana kondisinya.
"Yaudah mama sama Alice butuh uang berapa? Nanti kirim nomer rekeningnya... " Aji mengalah.
"...makasih ya le... Maaf mama banyak ngerepotin... " saut Siwi lalu mematikan sambungan teleponnya sepihak.
Aji yang awalnya hari ini ingin bertemu Wulan di pengadilan jadi mengurungkan niatnya kembali. Ada hal penting yang harus ia selesaikan dirumah. Ada keluarganya yang bermasalah dan harus ia urus.
●●●
"Sayang... " sapa Joe yang baru bangun tidur pada Alice yang duduk sambil menonton TV di ruang tengah.
"Be! " pekik Alice lalu menghampiri Joe dan memeluk erat pria blasteran itu dengan manja.
●●●
Flashback ~
Siwi yang sudah bersiap untuk menyambut Broto pagi itu sudah berdandan rapi. Urusan rumahnya juga sudah ia selesaikan. Memasak untuk ke enam adiknya dan tiga kakaknya. Ibunya yang sudah menuju senja itu juga sudah rapi menunggu tamunya di ruang tengah.
"Kok belum dateng-dateng... " keluh Siwi tak sabaran menunggu kekasihnya yang akan melamarnya hari ini.
"Ya sabar bentar lagi datang, orang makanannya belum siap semua loh... " ucap mbak Ruri, kakak perempuan siwi.
Siwi hanya tersenyum lalu masuk ke kamarnya lagi, kembali mematut diri di depan meja riasnya. Tak selang lama Broto datang bersama keluarganya menaiki mobil sedan Toyota Corona keluaran tahun 1970-an yang masih tampak begitu mewah saat itu. Apalagi sedan itu di bawa datang ke rumah Siwi yang hanya seorang anak peternak.
"Nduk, calonmu dah dateng... " panggil mbak Ruri mengabari Siwi yang jelas sudah tau.
Siwi tersenyum sumringah tak bisa menutupi kegembiraannya. Rasanya seperti mimpi melihat Broto yang benar-benar datang dengan kedua orang tuanya yang jelas menentang hubungannya.
"Rumahnya bau sekali... Kayak kandang... " sinis Tini dengan jelas. "Besanku kayak gini... " Tini kembali menatap sekeliling dengan pandangan merendahkan. "Tidak berkelas! " pungkasnya.
"Ibu aku tetap menikahi Siwi, aku hanya mau bersamanya... Terserah ibu mau bilang apa soal keluarganya, aku ga denger... " bela Broto.
"Sudah... Sudah... " sela Djarot ayah Broto yang berusaha sebisa mungkin untuk tetap sabar melerai perdebatan anak dan istrinya sebelum makin besar.
Siwi yang mendengar keluarganya di hina secara terang-terangan jelas sangat kesal, orang tuanya pun begitu. Tapi saat mereka mendengar pembelaan dari Broto kekesalan itu sedikit terobati.
Broto langsung menyalimi orang tua Siwi begitu melihatnya keluar rumah untuk menyambut dengan wajah sumringah. Djarot ikut menyusul menyalami calon besannya itu dengan ramah. Sementara Tini tampak ogah-ogahan menyalimi besannya yang dirasa tak setara dengannya itu.
"Pembantu... " bisik Tini di telinga Siwi saat mengalaminya lalu tersenyum sinis berusaha menciutkan perasaan Siwi.
"Aku cinta kamu dek... Ini pembuktianku... " ucap Broto tegas namun lembut pada Siwi.
Flashback off~
Siwi kembali menyeka air matanya. Perasaannya memang lebih bebas tapi ini tidak benar. Pergi meninggalkan suaminya juga mertua serta anaknya tanpa memberi kabar hanya untuk bersenang-senang sendiri. Siwi kembali diam merenung menatap cincin kawinnya yang masih melingkar di jari manisnya.
Harusnya kalau aku mau pergi, mau ninggalin mas Broto sebelum nikah dulu.. Ga kayak gini... Ini salah... Aku bebas tapi apa artinya kebebasan saat aku sudah tua begini? Aku dah jadi istri, jadi ibu... Batin Siwi menyesal dan melupakan semua kesalahan Broto padanya.
⛔⛔⛔
**PART 60 UPDATE DI GOOGLE PLAY BOOK KARENA TIDAK LOLOS SELEKSI DI SINI! CERITA SELANJUTNYA TETAP UPDATE DI SINI!
tulis di pencarian google play book : dasp.98**