My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 56



Nana mulai menghitung hari dan memperketat persiapannya untuk ujian masuk perguruan tinggi. Rasanya hampir semua anak lulusan sekolah menengah atas tengah bersaing untuk melanjutkan langkahnya. Melangkah menuju karir dan cita-cita masing-masing. Ada yang langsung berebut mencari pekerjaan, menjadi buruh pabrik, seles, membuka bisnis sendiri atau malah ada yang langsung menikah. Tapi tak sedikit pula yang memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi baik negri maupun swasta, dalam maupun luar negeri, dengan atau tanpa beasiswa.


Nana benar-benar harus bekerja ekstra keras untuk bersaing dengan mereka yang baru lulus, mereka yang terus di gembleng, di biayai, dan yang jelas tanpa menganggur sepertinya. Harus mengurus Alif dan mengajarinya membaca, mencari nafkah, membantu bapaknya, juga belajar untuk mempersiapkan diri sebelum ujian. Itupun masih di ganggu Aji yang membuatnya tak bisa tenang.


"Na... Aku mau tinggal di rumah orang tuaku lagi beberapa hari kedepan... Alice mau kemah... Kamu jagain Alif ya... " pamit Aji yang berdiri di depan rumah pak Janto pada Nana yang tengah menyapu meskipun Nana tak memperhatikannya.


"Urusannya apa sama aku, mau pergi ya pergi aja! " ketus Nana lalu menatap tajam wajah Aji.


Aji hanya tersenyum lalu mengangguk. "Na, kalo ada apa-apa, butuh aku langsung bilang aja ya... " ucap Aji sebelum Nana membanting pintu didepannya.


Apa kamu beneran serius Mas waktu bilang mau kembali? Apa kamu bisa melawan kemauan eyang? Batin Nana sambil menatap Aji yang berjalan menjauh dari rumahnya melalui sela-sela pintu.


●●●


"Besok aku ada acara galang dana buat anak-anak cancer... Mau jual bajuku... " ucap Alice di depan keluarganya saat makan malam tiba.


"Papa belum dapat kabar soal itu... " saut Broto.


"Ini masih rencana, tapi kemungkinan bakal jadi... Aku mau jadi yang paling cetar! Aku mau jadi pengumpul dana tertinggi! " ucap Alice berusaha menepis ucapan ayahnya sebelum timbul kecurigaan.


Eyang dan Broto langsung tersenyum sumringah mendengar Alice yang begitu ambisius.


"Kalo gitu mama bakal ikut sumbangin baju mama... " ucap Siwi lalu tersenyum lembut seperti biasa.


"Nanti papa kirim dana buat kamu... " ucap Broto tak mau kalah.


Alice mengeluarkan buku tabungan barunya. "Kirim saja kesini... " ucap Alice lalu memfoto nomor rekeningnya.


"Eyang sama mas Aji juga harus ikut nyumbang ya... " ucap Broto ikut membantu putri bungsunya menggalang dana.


Alice hanya mengangguk pelan dengan wajah datarnya lalu melanjutkan makan.


"Eyang mau ikut donasi apa engga?! " bentak Alice untuk menutupi kecurigaannya.


"Ahaha kalem... Cucu eyang ini galak banget... "


Alice langsung bangun dari duduknya dan berjalan ke kamar, meninggalkan amakan malamnya yang belum habis.


"Aku mau siapin barang buat donasi dulu... " pamit Siwi lalu ikut meninggalkan meja makan.


Aku ga yakin sama Alice, ga mungkin bakal ada galang dana jelang UN... Batin Aji curiga melihat kelakuan Alice.


●●●


Alif meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Nana, sembari menatapnya dengan murung.


"Kenapa? " tanya Nana lalu mengecup kening Alif dan memeluknya.


"Mama sedih terus sejak ada om-om aneh di depan rumah... " jawab Alif lalu membalas pelukan Nana.


"Mama ga sedih... " Nana mengelak.


"Tapi bibirnya mama begini... " Alif menurunkan bibirnya kebawah dengan kedua telapak tangannya. "Cemberut terus... "


Nana menggeleng. "Mama pusing mau sekolah juga kayak adek... Mama takut nanti ga bisa masuk... Ga bisa di terima... " jelas Nana agar Alif tidak khawatir.


"Mamakan pinter, bisa baca, bisa jahit, bisa masak, bisa hitung... Mama tidak usah takut... " Alif menyemangati mamanya dengan serius.


Nana langsung tertawa kecil begitu mendengar Alif yang berusaha membesarkan hatinya. "Iya... Mama itu cuma takut kalo teman-teman mama nanti juga pintar-pintar... " jelas Nana lagi.


"Kan mama bisa semuanya... Tidak usah takut... Nanti aku temenin ke sana kalo mama takut! " tegas Alif lalu menguap.