My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
part 18



Alif yang melihat ada mobil terparkir di depan rumahnya langsung berlari pulang mendahului kakeknya. Begitu sampai Alif langsung tersenyum lalu menutupi wajahnya dan berucap, "Assalamu'alaikum... " dengan malu-malu lalu memeluk mamanya.


Alif langsung menyalimi om Bram dan tante Yuni yang di panggilnya Bapak dan Ibu, lalu kembali bersembunyi di balik mamanya. "Makan yuk! " ajak Nana lalu mengajak Alif ke dapur.


Nana melanjutkan aktivitas membungkus nasi goreng pesanannya sementara Alif makan dengan sayap goreng kremes dan nasi goreng. Alif tampak sangat senang dengan menu makan siangnya kali ini.


"Mama, mau tambah..." pinta Alif yang makannya masih setengah.


"Tunggu mama selesai bungkus ya... " jawab Nana. "Itu kan belum habis... " sambung Nana.


"Sama nasi yang putih itu loh ma... " pinta Alif yang langsung di ambilkan secentong nasi dan tambahan kremes juga kecap.


Alif kembali melanjutkan makannya dengan lahap.


"Loh kok makan nasi goreng sama nasi putih... " ucap tante Yuni yang ikut membantu Nana sementara pak Janto dan om Bram mengobrol dengan suguhan teh dan cilok.


"Iya... Aku suka... " jawab Alif.


"Tiap hari kayak gini Na? " tanya tante Yuni.


"Enggak tante... Biasanya sayur, ini kebetulan ada pesanan aja... " jawab Nana.


"Suka nak makan ayam? " tanya tante Yuni yang di angguki Alif.


"Ibu sudah makan belum? " tanya Alif sambil mengunyah tulang.


"Sudah... " jawab tante Yuni.


"Kalo mama sudah belum? " tanya Alif.


"Nanti habis bungkusin mama makan... " jawab Nana.


"Sip begitu dong! " ucap Alif lalu mengacungkan jempolnya.


●●●


Bila benar alhamdulillah, bila salah anggap sedekah. Begitu pikir Aji saat mentransfer melalui m-banking.


"Siapa nama anakku ya... " gumam Aji penuh tanya.


"Sayang... Makan yuk! " ajak Wulan lalu memeluk Aji dari belakang. "Kamu habis transfer siapa? " tanya Wulan mengecek m-banking milik Aji.


"Nana... Muridku.... Ku dengar dia punya anak dan ya... Dari keluarga tidak mampu... Jadi aku mengiriminya uang... " jawab Aji berusaha menutupi soal Nana dan anaknya.


"Oh ya? Apa aku perlu memberinya santunan juga? Sepertinya bagus di blow up... " ucap Wulan lalu berjalan beriringan dengan Aji keluar.


"Aku tidak yakin... Tapi coba ku cari alamatnya... " jawab Aji berusaha tenang.


Wulan hanya mengangguk. Sungguh mencari orang susah yang terpinggirkan dan mau di blow up sebagai program pencitraan sulit sekali. Apa lagi dari orang netral dan benar-benar di kenalnya. Huft... Cukup sekali ia kecolongan saat salah beri bantuan pada juragan bambu waktu itu. Sekarang tidak lagi. Jangan sampai citranya rusak.


"Kamu tau dari mana soal Nana muridmu itu? " tanya Wulan pada Aji saat sudah duduk di tengah keluarga Aji.


"Ya... Aku tak sengaja bertemu dengannya tadi saat menemanimu ke pasar... " jawab Aji ragu sementara keluarganya langsung menghentikan aktivitas sejenak.


Mendengar Wulan menyebut nama Nana sebagai murid Aji benar-benar membuat keluarga Aji terkejut bukan kepalang, terlebih eyang, bunda, dan ayah. Ingatan bagaimana Aji yang menghamili Nana kembali terputar. Tapi melihat cara Aji menjawab dan Wulan dengan reaksi positifnya rasanya tidak ada yang terbongkar sejauh ini.


"Ehm... " deham eyang. "Apa tidak sebaiknya kita bahas soal yang lain? " tanya eyang kikuk agar bahan pembicaraan soal Nana hilang.


"Ga bisa gitu eyang... Ini tuh penting! Eyang kan tau aku mau maju ke dewan pusat... " ucap Wulan kekeh.


Orang tua Aji hanya saling tukar pandang lalu kembali melanjutkan makan. Tak satupun keluarga Aji yang buka suara menanggapi Wulan selain Aji. Itupun rasanya Aji enggan membahasnya.


"Oh iya hari ini nanti aku mau ke pembukaan mall baru... Aku mau siap-siap dulu... " ucap Wulan menyudahi makannya lalu berjalan ke kamar.


Eyang dan yang lain hanya mengangguk sambil tersenyum. Tak selang lama Wulan kembali keluar dengan tas jinjingnya. Eyang yang semula ingin bicara dengan Aji langsung terdiam menatap Wulan.


"Mas, aku mau ambil bajuku dulu... " pamit Wulan lalu mengecup pipi suaminya dan melangkah pergi.


Eyang dan yang lain masih diam menunggu sampai suara mobil Wulan menjauh.