My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
part 14



Pagi-pagi sekali Nana sudah membawa roti goreng dan kue bolu buatannya ke tukang sayur untuk menitipkan dagangan. Nana juga sudah sudah mulai menyiapkan dagangan cilok dan esnya di depan rumah. Setelah membangunkan Alif dan menyuapinya sarapan dengan sayur bayam buatannya, Nana kembali duduk membacakan buku sambil merendam cucian. Pak Janto juga sudah mulai menjahit dan memotong kain.


"Ma aku mau main dulu ya... " pamit Alif sebelum pergi ke rumah temannya.


"Jangan main lama-lama ya... " ucap Nana sambil masih mengurusi rumah.


"Oke..." jawab Alif lalu melangkah pergi dengan riang.


Tidak ada apa pun yang di bawa Alif saat pergi main. Tidak mainan, tidak juga uang meskipun hanya koin seribu atau lima ratusan. Sandalnya juga hanya sandal jepit biasa, pakaiannya kekecilan karena di beli sejak dia umur satu tahun dan masih saja di pakai. Hanya satu tempat tujuan Alif bermain, yaitu kerumah Doni.


Kondisi ekonomi keluarga Doni tak jauh beda dengan keluarga Alif. Hanya saja Doni memiliki ayah dan ibu juga kakak laki-laki yang sudah masuk SMP. Ibunya kerja sebagai buruh pabrik karak, sementara ayahnya hanya buruh harian itupun serabutan. Hanya keluarga Doni yang bisa dan tak masalah bila Alif main kesana.


Ada TV dan mainan milik Doni yang boleh di mainkan Alif. Sayang Doni bukan seorang muslim jadi tidak bisa menemani Alif TPA. Hampir tiap hari Alif main ke rumah Doni hanya untuk menonton TV, entah apa yang di tonton Alif ikut saja tidak berkomentar. Kalaupun berkomentar ingin menonton kartun juga tak bisa frontal.


"Kayaknya nonton Tom Jerry bagus... " kira-kira seperti itu cara Alif bila meminta di putarkan kartun di rumah Doni.


Atau saat meminta apa yang di makan Doni, Alif akan menemukan dan membuat kalimatnya sendiri. "Doni aku mau coba dong dikit saja, aku belum pernah rasakan... " seperti itu kurang lebihnya.


Beruntung Doni tidak pelit dan senang-senang saja membagi secuil makanannya dengan Alif. Doni juga kerap bermain ke rumah Alif sambil membawa mainannya yang sudah rusak tapi tetap saja ia mainkan bersama Alif. Doni juga senang saat mendengar cerita yang di bacakan Nana dan selalu berterimakasih bila Nana memberikan sebutir cilok untuknya juga Alif.


"Alif papanya siapa sih? " tanya Lila yang saat itu ikut bermain bersama di rumah Doni.


Alif hanya diam, seumur-umur baru ini dia dengar ada yang menanyakan siapa papanya.


"Papanya Alif kan lagi jahit di rumah... " saut Doni lalu meletakkan mainannya.


Doni dan Alif hanya saling pandang, tak selang lama Alif meletakkan mainannya. "Aku tanya mamaku dulu ya... " ucap Alif.


"Tanya apa? " tanya Lila.


"Tanya papaku gitu loh... " jawab Alif lalu memakai sandalnya dan berjalan pulang.


"Gara-gara kamu sih! Alif jadi pulangkan!" kesal Doni pada Lila lalu cemberut dan langsung tak minat bermain.


"Kan aku cuma tanya... Kata bundaku kalo ga tau harus tanya... " ucap Lila membela diri.


●●●


Sepanjang jalan pulang Alif memikirkan terus pertanyaan Lila. Apa benar yang selama ini ia panggil bapak bukan papanya? Apa selama ini ia benar-benar tidak punya papa? Itu terus yang terbersit di pikiran Alif.


"Iya bu insyaallah bisa jadi nanti sore... Nasi goreng sama telur aja kan? " tanya Nana memastikan pesanan dari tetangganya.


"Iya mbak, dua lima bungkus ya... Buat bagi-bagi di TPA nanti... " jawabnya.


Alif langsung berlari menghampiri mamanya yang tengah berbincang di depan rumah lalu memeluk dengan erat.


"Kok mainnya cepet? Doni ga ada? " tanya Nana lalu menggandeng Alif masuk.


"Ma aku punya papa tidak sih? " tanya Alif sambil berjalan masuk.