
Satu minggu kemudian...
Nana tampak panik mengingat ini adalah hari ujian seleksinya. Di temani Arif yang mengantar dan menunggunya ujian seleksi, sementara Alif di titipkan di rumah om Bram.
Di kejauhan terlihat Sarah yang datang bersama Arman, keduanya juga ikut ujian seleksi. Tapi tampak jelas keduanya tak akur lagi. Sarah terus-terusan menghindar dan menatap Arman jijik. Sementara Arman tampak susah payah mengikuti Sarah.
"Nanti jangan panik ya, di kerjakan yang mudah dulu... " ucap Arif mengingatkan Nana yang tampak cemas.
Nana tersenyum lalu mengangguk. "Terimakasih sudah mau nganterin aku... " ucap Nana malu-malu.
Arif hanya mengangguk pelan sambil tersenyum mendengar ucapan Nana. Tak selang lama Nana masuk ke ruangan. Arif menunggu di luar sambil membaca buku mengenai pengolahan sampah, maklum Arif baru mendalami soal bank sampah dan pengolahannya.
Tapi tetap saja rasanya Arif tak bisa fokus atau tenang. Selain deg-degan saat menemani Nana yang ujian, ucapan Nana yang ingin mengenalkan Alif pada Aji terlebih dahulu juga membuatnya makin tak tenang. Ketakutan bila pada akhirnya Nana akan kembali ke pelukan Aji membuat Arif takut. Meskipun Arif juga tau bila jodoh tak mungkin tertukar, semua sudah di naskan Allah.
Arif tetap tak bisa membayangkan betapa sesaknya nanti bila Nana benar-benar pergi. Tapi Arif juga membayangkan bila Alif akan di sambut dengan hangat oleh Aji juga keluarganya, Alif akhirnya memiliki keluarga yang utuh. Ada yang melindunginya, ada rumah yang layak huni, ada mainan yang akan ia perolah, alif tidak akan memohon atau memainkan kerdus kosong lagi, Alif bisa jajan tanpa perlu minta secuil jajanan temannya, paling tidak ada yang melindungi Nana dan Alif pada akhirnya.
Tumbuh di besarkan oleh orang tua tunggal bagi Arif memang menyenangkan, tapi pasti lebih menyenangkan lagi kalau ada figur yang lengkap. Arif paham betul apa yang di rasakan Alif dan betapa berat apa yang Nana jalani. Arif bisa maklum dan mengerti kondisi saat ini, apalagi sejak ayahnya meninggal ibunya juga enggan menikah lagi dan pilih menjanda hingga saat ini.
Arif juga berkali-kali menanyakan pada dirinya sendiri apa ia yakin pada Nana, apa mungkin ia bisa menjadi ayah sambung bagi Alif. Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya, bagaimana kalau ada sikap buruk Aji yang juga menurun pada Alif? Bagaimana kalau ia tak sanggup menghadapi saat-saat tersebut? Apakah ia bisa 100% mencintai Nana juga Alif, atau ia hanya bisa mencintai Nana? Apakah benar ini perasaan cinta? Bukan hanya iba dan kagum pada Nana juga Alif?
Ketakutan-ketakutan dan pertanyaan-pertanyaan soal seberapa yakinnya Arif untuk Nana juga Alif terus menghantui pikirannya. Solat tahajud untuk mencari jawaban atas segala keraguannya juga sudah ia lakukan. Tapi tiap kali ia meminta kelancaran atas pilihannya masih terngiang di telinganya soal penyesalan Nana waktu itu. Belum lagi ucapan Nana yang mengatakan ia berhak atas wanita lain yang lebih baik darinya. Makin pusinglah kepala Arif.
"Mas... " panggil Nana lembut setelah selesai ujian. Wajahnya masih tegang, panik dan sedikit pucat. "Aku takut ga lolos... " ucap Nana lalu duduk sebelum mulai minum.
"Jeda sebentar nanti lanjut ujian lagi... Yang kayak potensi akademik kayak-kayak gitu... " jawab Nana lalu membuka bekal makan siangnya, juga memberikan bekal makan yang sudah ia siapkan untuk Arif dari rumah. "Aku masak sendiri... " ucap Nana.
Arif mengangguk pelan lalu mulai makan siang bersama Nana.
●●●
Alif masih berdiri si belakang jendela yang ia tutup sambil membawa pralonnya. Tante Yuni sibuk memasak sementara om Bram masih bekerja. Alif yang di minta jaga rumah benar-benar berjaga, meskipun permintaan dari tante Yuni itu hanya agar ia bisa meninggalkan Alif sebentar untuk memasak.
"Paket! " teriak kurir paket dari luar pagar.
Alif membuka pintu lalu mengibas-ngibaskan tongkatnya di depan pintu.
"Paket! " teriak kurir itu lagi saat melihat ada pralon dan tangan kecil yang bergerak-gerak.
"Kamu orang baik apa jahat?!" tanya Alif sambil mengintip dan berteriak ke arah kurir paket.
"Orang baik, antar paket... Ibu ada? " tanya si kurir.
"Mamaku lagi pergi... Kamu pergi aja kayaknya kamu jahat... " ucap Alif lalu membanting pintu dan berlari masuk melapor pada tante Yuni. "Ibu ada orang aneh bilang paket-paket terus..." lapor Alif.
"Oh iya sebentar..." tante Yuni buru-buru keluar setelah mendengar laporan Alif.