My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
part 10



Sudah hampir menginjak usia 8 bulan masa mengandung, rasanya melahirkan tinggal menghitung hari saja. Kontraksi sudah mulai di rasakan Nana. Segala kesulitan menjalani aktivitas juga sudah mulai Nana rasakan. Betapa sulitnya hanya sekedar bangun dari tidur, atau berjongkok untuk buang air.


Tiap kali memeriksakan kandungannya Nana juga hanya bisa menahan rasa sedih. Saat semua bayi di nanti dan akan di sambut dengan suka cita oleh keluarganya, ibu dan ayahnya secara lengkap. Bayinya tak bisa merasakan semuanya, jangankan di nanti dan di sambut saat masih belum berbentuk saja sudah di minta mati.


"Sehat-sehat ya dek... " ucap Nana tiap mau tidur sambil mengelus perutnya.


Hampir tiap malam pula Nana menangis dalam diam, dalam tiap solatnya. Entah solat tahajud maupun solat tobat. Nana benar-benar merasa berdosa tiap kali menatap pantulan dirinya di cermin. Belum lagi saat para muda mudi yang datang untuk membeli dagangan jajanannya sambil sengaja menanyakan terkait kondisi dan statusnya saat ini yang sudah jelas.


Bahkan kadang samar terdengar di telinga Nana kalau ia di jadikan contoh buruk pergaulan bebas. Bahkan ketika ia tetap berusaha mempertahankan penampilannya yang menutup aurat tetap saja ia di hujat dalam tiap gunjingan tak berdasar.


Kalo ada mas Aji sama aku... Pasti ga ada yang anggap aku buruk... Batin Nana sedih.


Keluarga Nana juga perlahan berusaha memahami kondisi Nana yang di rasa tengah membayar perbuatannya. Jadi baik bapaknya maupun om tantenya sudah tak ada lagi yang merasa berkeberatan untuk menerima bayinya.


Bahkan om Bram mengijinkan Nana dan bayinya nanti untuk tinggal selama asi ekslusif di rumahnya. Sekalian untuk pancingan agar tante Yuni bisa hamil juga.


●●●


"Maaf ya Mas... " ucap Wulan penuh sesal dan hanya bisa menunduk sedih.


Sudah 4 bulan sejak pernikahannya dan ia baru tau kalau memiliki masalah di tiroidnya. Tentu saja ia akan kesulitan dalam memiliki keturunan. Belum lagi beberapa masalah lain terkait kesehatannya karena sebelumnya selain Wulan seorang perokok, pola hidup tidak sehatnya selama sekolah di USA membuatnya jadi kesulitan untuk memiliki keturunan seperti sekarang.


"Tidak apa-apa... " ucap Aji tenang lalu menyantap makan siangnya.


"Tidak usah, kita baru saja menikah... Tidak usah buru-buru begitu... Toh masih bisa di obati... " ucap Aji santai. "Ada kakakmu, ada dua kakakku juga... Tidak usah buru-buru toh orang tua kita sudah dapat cucu... "


Wulan yang tadinya sedih langsung tersenyum sumringah mendengar ucapan Aji yang tak ambil pusing dan mempermasalahkan soal anak padanya. Bahkan meskipun eyang sudah mendesak dan berkali-kali memberi kode keras. "Trimakasih mas... "


"Untuk apa? Sudah kewajibanku membuatmu bahagia... " jawab Aji lalu mengecup kening Wulan.


"Ih mas... Berminyak bibirnya... " keluh Wulan lalu tertawa bersama Aji.


Rasa bersalah yang kadang menyeruak di hati Aji kini perlahan mulai pudar. Entah sejak kapan. Tapi kini baginya membahagiakan Wulan dan menjaga pernikahannya adalah bentuk penebusan dosanya. Meskipun tiap ia melihat wanita hamil, anak SMA, dan bayi yang di fikirannya tetap Nana dan rasa bersalahnya. Aji berusaha untuk tak mengacuhkannya.


Aji akui menikah dengan Wulan tidak menyiksanya sama sekali, bahkan Wulan juga tak semenyebalkan yang ia bayangkan. Tapi tetap saja... Ah sudahlah toh Aji tetap tak berani bertanggung jawab, terlalu bermimpi untuk seorang Aji mau tanggung jawab. Berani menemui Nana dan bertanya soal calon bayinya saja sudah seperti mimpi di siang bolong.


Apa ini gara-gara aku pernah aborsi dulu ya... Batin Wulan khawatir dan mulai menyesali perbuatannya dulu.


.


.


.


Turut berbelasungkawa atas meninggalnya God Father of Broken Heart, Didi Kempot. Beristirahatlah dengan tenang Lord... 🖤