
"Mas ustadz... Hari ini Alif ga dateng lagi, dah empat hari... " lapor Sita anak marbot masjid yang ikut membantu mengajar di TPA.
"Siapa lagi yang absen? " tanya Arif.
"Lengkap... Cuma Alif... " jawabnya sambil menyerahkan buku absen.
"Alhamdulillah kalo yang lain masih semangat... " Arif mengecek absensi. "Selama saya tinggal pulang kampung ada kesulitan apa? " tanya Arif sambil menatap Sita sekilas.
"Ah... Itu... Biasa ya... Ya... Kayak biasanya... Ga ada masalah apa-apa mas... " jawab Sita yang jadi salah tingkah.
Masyaallah mas ustadz tanya keadaanku segala... Apa khawatir ya... Aduh mas ustadz... Batin Sita yang memang sejak awal jatuh hati pada Arif.
"Alhamdulillah kalo ga ada masalah apa-apa ya... Soal Alif nanti kalo ada waktu biar mas aja yang ngomong kalo ada waktu... Oh iya ngomong-ngomong kamu dah coba tanya ke pak Janto ato ibunya Alif? " tanya Arif lalu menutup buku absen dan memasukkan kedalam tasnya.
"Ga sempat mas tanya-tanya, pak Janto kalo kemesjid solat langsung pulang... Mau nyetopin malu... Kalo sama mbak Nana jarang ketemu kayaknya sibuk terus... " Sita langsung beralasan, karena memang sebenarnya ia sangat senang ketika Alif tidak datang malah ia berharap Alif tidak TPA lagi.
Selain pola pikir yang masih kolokan dalam kepala Sita, ia juga merasa harus bersaing dan memiliki saingan bila Nana berpotensi datang ke masjid entah urusan apapun itu. Sita tak mau cita-citanya untuk memiliki Arif yang jarak umurnya terpaut sekitar delapan taun itu lebih memilih Nana ketimbang dirinya.
Apa lagi isu yang beredar kalo Nana seorang janda, miskin pula. Sudah jelas Arif lebih memilih Nana yang terlunta-lunta itu. Sita jelas tak tinggal diam melihat hal tersebut.
"Aku baru tau kalo nama ibunya Alif Nana... " ucap Arif sambil menganggukkan kepalanya. "Yaudah kalo gitu gapapa... Bilangin baik-baik ya... "
"Sebenarnya semua data wali ada kok mas catatannya, coba aja di cek di berkasnya ustadzah Asnia dulu... " ucap Sita yang benar-benar senang bila bisa memberi informasi atau membimbing Arif begini. One step closer ! Begitulah rasanya bagi Sita.
Arif langsung mengangguk dengan senyum yang begitu sumringah. "Ow oke nanti saya cek... Makasih ya Sita... Saya duluan... " ucap Arif yang sudah tak sabar ingin mencari info soal Alif.
Arif sudah tak sabar ingin tau bagaimana latar belakang Alif, selain karena ia begitu gemas dan menyukai Alif. Melihat Alif di bully dan berinteraksi seperti bercermin pada masa lalunya dulu. Seperti melihat dirinya kembali. Tapi sayangnya apa yang di rasakan Arif di tangkap berbeda oleh Sita yang menganggap kalau Arif memberikan lampu hijau padanya.
Sita langsung melangkah pulang sementara Arif sibuk mencari buku data siswanya. Ada foto Alif yang tersenyum ceria bahkan saat foto yang seharusnya formal.
"Gemesin amat sih kamu Lif... " gumam Arif yang gemas pada Alif.
Diperhatikan semua data diri Alif sampai Arif cukup terperanjat saat nama ayah Alif di kosongi. Hanya ada ibunya saja. Itu berarti benar gosip bila pak Janto itu sebenarnya kakeknya Alif. Tapi kemana ayahnya? Pertanyaan itu terus menghantui pikiran Arif. Tapi paling tidak sekarang ia punya nomor telepon ibunya Alif jadi ia bisa bertanya atau mengingatkannya untuk mengantar Alif TPA.
Masa iya Alif ga punya ayah? Apa bener kalo ibunya hamil di luar nikah? Batin Arif yang jadi bertanya-tanya bahkan mulai su'udzon.
"Astagfirullah hal adzim... Mikir apa sih aku... " gumam Arif sambil mengusap wajahnya dan geleng-geleng kepala berusaha mengusir pikiran buruknya.