
Aji sedikit takut menghadapi rasa cemburu nana. Aji takut bila nana akan pergi meninggalkannya bila terus cemburu. Jangan jauh-jauh meninggalkannya, nana mendiamkannya saja aji sudah tidak suka.
"Na kalo kamu cemburu aku takut... " ucap aji setelah nana diam.
"Mas sendiri posesif... " protes nana lagi lalu menatap aji dengan alis bertaut.
"Iya mas tau, mas paham... Tapikan aku cemburunya jelas, sama mantan suamimu. Kamu nikah ga di paksa, di selingkuhin kamu nangis, alif juga akrab sama dia... Aku jelas... "
"Tapi mbak Wulan di sukai keluargamu. Aku enggak! " potong nana yang membuat aji langsung mingkem.
Aji menghela nafas bingung harus menghibur istrinya bagaimana. Tapi jangankan nana, mamanya saja rasanya masih sulit di terima di keluarga papanya. Bahkan setelah memberikan anak dan cucu, mamanya masih di perlakukan buruk.
"Kamu ga usah mikirin itu na, yang penting kita dah nikah, dah sama-sama. Kamu ga usah mikirin keluargaku gimana... Cuekin aja... " ucap aji lalu mengecup kening nana.
"Tapi mas... "
"Kali ini jangan ngeyel, kita abaikan keluargaku. Yang penting mama sayang kamu, aku full punyamu sama anak-anak. Kamu ga usah khawatir... "
"Aku takut kamu di minta keluargamu buat... "
"Enggak! Gak bakalan! Aku janji... " ucap Aji meyakinkan nana.
Nana terdiam lalu turun dari tempat tidur. Tapi belum juga nana beranjak aji sudah menahannya. "Kita sama-sama terus Na... Aku janji kita sama-sama terus... " ucap aji.
Nana menghela nafas lalu mengangguk lesu.
"Mama jangan sedih lagi ya... " ucap aji masih berusaha menghibur nana.
"Dah yuk istirahat... " ucap nana.
"Di sini aja kalo mau istirahat... Aku kangen istriku... " pinta aji yang di turuti nana.
●●●
"Mama mana? " tanya alif setelah selesai solat subuh di awasi aji.
"Mama tidur, kemarin begadang... Kakak sama papa ya... " jawab aji yang di angguki alif.
"Yang bikin makan bekalku siapa? " tanya alif sambil melepaskan piamanya bersiap mandi.
"Em... Papa yang bikin... " jawab aji ragu lalu berjalan ke dapur dan mendapati tidak ada nasi yang tersedia, tidak ada lauk dan bahan masakan yang bisa di masaknya juga.
"Mas... " panggil nana yang baru keluar kamar.
"Iya sayang... " jawab aji dari dapur sambil memandangi kulkas. "Kok bangun... " sambut aji lalu merangkul nana yang menghampirinya.
"Belum siapin sarapan buat alif... " jawab nana lalu mengecup pipi aji lembut.
"Ga ada nasi... " ucap aji lalu mengecup kening nana sebelum nana overthinking.
"Kan bisa di masakin mie, tinggal tambahin sayur, sama bawain buah, sarapannya roti tawar... " ucap nana sambil mulai menghandle dapur. "Mas urusin alif aja... " pinta nana.
"Oke siap! " jawab aji lalu mulai membantu alif bersiap sekolah.
Setelah alif siap berangkat dan sudah sarapan, aji langsung bersiap mengantarkan alif sekolah. Sementara nana yang terlanjur bangun jadi mengurus rumah.
"Nanti aku beli sarapan buat kita, jangan sarapan pakek mi instan... " pesan aji yang hafal sekali bila istrinya suka mi instan.
Nana hanya tersenyum lalu mengangguk mendengar perintah suaminya. "Beliin bubur ayam ya... " pinta nana.
"Itu aja? " tanya aji.
"Sebenernya pengen makan pentol mercon... "
"Hus aneh-aneh aja! Dah mam bubur aja nanti... " potong aji yang langsung tidak setuju dengan permintaan nana.