
2 tahun berlalu...
Nana masih fokus membesarkan anaknya, yang ia namai Alif Fadjri As-Sidiq yang biasa di panggil Alif. Kelahirannya nyaris merenggut nyawa Nana waktu itu, bahkan Alif juga hampir di sita pihak rumah sakit karena Nana tak punya BPJS dan tak cukup mampu untuk membayar rumah sakit waktu itu.
Memang hanya lima ratus ribu, tapi rasanya begitu mahal bagi Nana. Beruntung masih ada simpanan dan anting emas yang di pakainya. Jadilah Nana dapat menebus bayinya dan membawanya pulang. Nana yang tak mampu membeli susu waktu awal jadi memilih untuk memberi susu ASI saja pada putranya sampai usia satu setengah tahun, sampai akhirnya ia bisa membeli susu untuk putranya. Kadang putranya juga hanya minum teh manis atau air mineral saja yang di campur gula.
Tapi putranya dapat tumbuh dengan baik dan sehat, ceria dan begitu pintar dalam mengerti kondisi ibunya yang serba berkesulitan. Tidak mudah pengen dengan mainan teman-temannya rasanya sangat membantu bagi Nana. Tak banyak menuntut ini dan itu. Hanya kadang memang putranya tanya kenapa di tolak main kerumah tetangganya.
"Ma... Baca ini... " pinta Alif yang membawa buku cerita bergambar yang di beli Nana di pasar buku loak bulan lalu.
Kisah-Kisah Teladan Al-qur'an (untuk anak), judulnya. Masih ada stiker harga dari toko sebelumnya sekitar seratus lima puluh ribu tapi karena di beli di pasar loak jadi harganya hanya dua puluh lima ribu itu juga di dapat Nana setelah menawar dan putranya terus merengek.
Pemilik kios jelas ingin mempertahankan harganya apa lagi saat tau si anak menangis merengek begitu. Tapi begitu Nana menanyakan harganya dan tau uangnya tak cukup, setelah tawarannya dengan semua uang di kantongnya waktu itu di tolak. Nana hanya bisa murung dan bilang pada pemilik kios untuk menyimpan buku agar tak di beli yang lain.
...uang mama cuma dua lima, kalo beli bukunya adek ga beli susu loh...
...pak, uang saya cuma tinggal dua lima. Saya minta tolong bapak simpankan bukunya, dua hari lagi saya datang saya beli bukunya, boleh?...
Ucap Nana dengan tawaran terakhirnya sambil mengambil buku dalam genggaman Alif. Mendengar ucapan Nana jelas membuat hati si pedagang terenyuh, baru kali ini ada yang memberikan tawaran seperti itu. Akhirnya dilepaslah buku bacaan itu dengan harga dua puluh lima ribu. Nana senang bukan main setelah mendapat harga begitu murah untuk menyenangkan putranya, meskipun setelahnya ia jadi tak bisa membeli susu dan telur.
"Adek belajar baca dong biar bisa baca sendiri... " ucap Nana sebelum mulai membacakan cerita untuk Alif.
Sejak tvnya di jual untuk membenarkan mesin jahit pak Janto memang hanya buku bacaan bergambar itu jadi hiburan bagi Alif tiap kali teman bermainnya tak boleh bermain dengannya. Nana juga tak mau banyak bertingkah untuk menanyai para ibu atau bersikap keras menghadapi tekanan yang ia hadapi. Selama ia masih mampu untuk membesarkan hati putranya dan berusaha membesarkannya sendiri itu cukup.
"Aku mau belajar baca tapi aku tidak mengerti... " ucap Alif lalu duduk bersandar di samping mamanya dan meminum teh manis dalam dotnya.
"Kalo mama ada uang nanti mama beli poster abjad kita belajar ya... " ucap Nana lalu mengecup pipi dan kening Alif. "Kamu mau dibacain yang mana? "