
Wulan langsung menutup bukunya dan meletakkan di atas laci. Pandangannya langsung serius. "Iya mas... " jawab Wulan sambil mengangguk.
"Berjanjilah... Ini satu-satunya permintaan terakhirku dan satu-satunya hal yang ingin ku lindungi... " ucap Aji lalu duduk berhadapan dengan Wulan.
"Iya mas aku janji... " ucap Wulan serius.
Aji langsung mengeluarkan ponselnya dan mematikan perekam suaranya. Aji kembali bangun untuk mengunci pintu kamarnya sebelum mulai bicara serius dengan Wulan.
"Dek... Jujur aku sudah punya anak... " ucap Aji.
Wulan langsung terperanjat kaget, tangannya langsung menutupi mulutnya. Tangan itu mulai turun perlahan dengan sedikit getar dan wajah terkejut yang tertunduk. "Ahaha... Kamu bercanda... "
"Anakku namanya Alif... Aku pernah menghamili seorang gadis... Dia muridku bimbel... Sebelum akhirnya aku di jodohkan denganmu, aku sudah meninggalkannya terlebih dahulu karena merasa itu aib dan eyang begitu tak setuju... " ucap Aji melanjutkan ceritanya. "Gadis itu namanya Nana... Hanya lulusan SMA, sudah tidak punya ibu, bapaknya penjahit... "
Plak! Tamparan keras di layangkan Wulan pada Aji. Matanya berkaca-kaca, marah, sedih dan kecewa campur aduk rasanya.
"Aku tau kamu pasti akan marah... Jadi aku memintamu berjanji untuk tidak menyentuhnya... Sebagai gantinya aku tidak akan menemuinya..." ucap Aji yang makin membuat Wulan jengkel.
Flash back~
"Piter mengertilah aku masih muda! Tidak mungkin aku hamil dan tetap kuliah! Kamu kenapa mengeluarkan di dalam? " omel Wulan ketika tau dia hamil.
Piter hanya diam menatap Wulan yang begitu benci dengan janin di perutnya.
"Aku tidak menginginkannya! Aku tidak menghendaki kehadirannya di perutku! " kesal Wulan sambil memukuli perutnya.
Piter langsung menahan tangan Wulan dan memeluknya erat sambil mengecup keningnya. "Tenang... " bisik Piter berusaha menenangkan Wulan.
Piter masih mendekapnya hingga Wulan lelah menangis. Piter sendiri juga ikut menangis. Bukan karena ia menyesali perbuatannya dengan Wulan. Tapi karena usahanya untuk mempertahankan Wulan dengan adanya bayi mereka nanti gagal.
Sekarang Wulan bukan hanya marah karenanya yang pernah bergandeng tangan berkencan dengan Lusi, tapi kini lebih parah lagi. Wulan bahkan membenci calon bayinya, Wulan frustasi dan stres bukan main melihat hasil tes yang menyatakan kalau ia hamil.
Sudah dua hari Wulan mengamuk begini, memaki tak jelas dan marah tanpa sebab. Piter juga terus berada di siainya untuk memeluknya, menenangkannya, juga meminta maaf.
"Sayang... Tolong jangan di bunuh... Biarkan dia hidup... Biarkan dia lahir... " ucap Piter dengan matanya yang sembab dan penuh harap. "Biar aku yang membesarkannya... Biar aku yang mengurusnya..." sambung Piter sambil mengelus perut Wulan.
Wulan hanya menggeleng. Sungguh ia tak mau hamil! Entah berapa kali Piter memohon, bersujud dan menangis di hadapannya keputusan Wulan masih tetap sama. Berpisah dan menggugurkan janinnya yang baru saja merasakan tiupan ruh ke tubuh ringkih yang baru mulai terbentuk itu.
"Ku mohon... " pinta Piter dengan air mata yang mulai berderai.
Wulan masih menggeleng lalu di putuskannya untuk bangun dan mengambil gunting. Piter berusaha mendekat dan menahannya. Tapi Wulan langsung mengarahkan gunting itu ke perutnya dan menusukkannya.
Flash back off ~
"Kenapa kamu tidak menikahinya dari dulu? " tanya Wulan setelah merasa cukup kuat untuk buka suara.
"Aku tidak bisa... Aku tidak boleh menikahinya... "
"Kenapa?! " potong Wulan yang kelewat kesal.
"Eyang tidak suka, dia anak pertama sementara aku anak ke tiga... Dia anak tunggal dari keluarga tak mampu... Sementara aku... Aku harus menikah dengan orang pilihan dari keluargaku... " ucap Aji berusaha menjelaskan.
Wulan menggelengkan kepalanya tak paham bagaimana bisa ia menikahi seorang pengecut dan penakut berkelakuan rendahan begini.