
Sepanjang jalan pulang Alif memikirkan terus pertanyaan Lila. Apa benar yang selama ini ia panggil bapak bukan papanya? Apa selama ini ia benar-benar tidak punya papa? Itu terus yang terbersit di pikiran Alif.
"Iya bu insyaallah bisa jadi nanti sore... Nasi goreng sama telur aja kan? " tanya Nana memastikan pesanan dari tetangganya.
"Iya mbak, dua lima bungkus ya... Buat bagi-bagi di TPA nanti... " jawabnya.
Alif langsung berlari menghampiri mamanya yang tengah berbincang di depan rumah lalu memeluk dengan erat.
"Kok mainnya cepet? Doni ga ada? " tanya Nana lalu menggandeng Alif masuk.
"Ma aku punya papa tidak sih? " tanya Alif sambil berjalan masuk.
●●●
"Udah mau tiga taun loh kita berusaha punya anak... Eyang dah makin tua, sakit-sakitan juga sekarang. Mau di tunda sampe kapan? " tanya Aji cukup ketus pada Wulan.
"Kan kita lagi usaha mas, lagian aku loh baru sembuh... " ucap Wulan berusaha menahan diri agar lebih sabar pada Aji yang makin ketus padanya. "Dulu juga mas bilang ga bakal nuntut... " lirih Wulan lalu menatap keluar jendela.
"Kamu ini kok bisa bermasalah sama rahim segitu parahnya sih? Kalo sampe taun ini ga punya anak aku dah ga tahan lagi sama kamu... " ucap Aji lalu memarkirkan mobilnya di pasar.
"Aku bisa kasih anak, mungkin kamunya aja yang mandul! " kesal Wulan lalu turun untuk berbelanja.
Di pikir-pikir kembali Wulan memang sakit hati dengan ancaman Aji untuk meninggalkannya, tapi di sisi lain ia juga yang salah. Buat apa dia sampai masuk pergaulan bebas hingga kumpul kebo dengan Charles, mantan bulenya. Mungkin kalau ia tetap yakin dan mau bersama Charles, minimal sampai melahirkan ia tak akan seperti ini. Tak mungkin ia jadi sulit punya anak sampai rahimnya bermasalah.
"Aku kok mandul... " gumam Aji menertawai Wulan yang berjalan masuk pasar sendirian.
Wulan terus berjalan masuk lalu berhenti di salah satu kios sayur. Tampak seorang anak kecil yang diam sambil memegangi kaos ibunya dari tadi. Mata kecilnya melihat kesana kemari, terlihat begitu menahan diri untuk minta beli permen atau mainan.
Pelan-pelan Wulan mendekatinya lalu mencolek pipinya dengan gemas. Anak itu langsung menyembunyikan wajahnya di balik tubuh ibunya. "Hihi pemalu ya... " ucap Wulan sambil tersenyum ramah.
Si ibu hanya tersenyum meliat Wulan. "Adek pengen jajan apa? Ambil satu aja ya... " ucap si ibu yang akhirnya membolehkan anaknya untuk jajan.
"Adek atau anaknya mbak? " tanya Wulan.
"Anak... " jawabnya lalu mencium si anak.
"Aku mau jajan dua ma... " bisik anak itu yang di jawab dengan gelengan oleh ibunya.
"Kamu mau apa? Ambil tante yang bayar... " ucap Wulan yang hanya mendapat tatapan dari si anak dan ibunya.
"Tidak usah... " tolak si ibu. "Adek ambil satu... Kalo ga kita nanti jajan es aja gimana? " tawar si ibu yang di angguki putra kecilnya.
"Adek namanya siapa? " tanya Wulan.
"Alif... " jawabnya lalu kembali bersembunyi malu-malu kucing tapi tetap mengulurkan tangannya. Karena sadar wanita yang mengajaknya berkenalan tak menjabat tangannya Alif kembali menatapnya. "Ei kalo kenalan itu harus salim dong... " ucap Alif mengingatkan yang malah mengundang tawa.
Bocah gemesin amat... Coba anakku kayak gitu... Batin Wulan sambil menjabat tangan kecil Alif.
"Ayo pulang... Duluan mbak... " pamit si ibu lalu berjalan keluar bersama putra kecilnya yang baru saja berkenalan.
Dengan tas belanjaan yang penuh dengan sayur dan bahan-bahan masak, si ibu yang belum sempat berkenalan dengan Wulan tadi berjalan keluar sambil menggandeng anaknya dan tampak begitu sangat melindunginya.
Pasti suaminya sayang sekali... Orang penyayang pasti banyak yang sayang... Batin Wulan yang memperhatikan Alif yang terus berjalan sambil bercerita atau bertanya pada ibunya dengan ceria.
●●●
Aji duduk mengantri membeli dawet tanpa menyadari kehadiran Nana dan Alif. Begitupun Nana dan Alif yang tidak begitu peduli dengan pengunjung pasar lainnya.
"Es dawetnya komplit... " ucap Alif memesan.
"Satu aja... " ucap Nana menyambung ucapan Alif.
Aji yang merasa tak asing dengan suara Nana dan gemas dengan suara Alif barusan, langsung tercengang. Tak menyangka dapat bertemu Nana dan Alif di pasar seperti ini.
"Nana... " panggil Aji lirih.
Nana hanya menoleh lalu membelalakkan matanya saat bertemu Aji. Ia begitu terkejut, kesal, marah, kecewa, sedih, rindu jadi satu. Matanya langsung berkaca-kaca. Ingin rasanya ia lari kalau saja belum memesan.
"Na... " panggil Aji lagi. Sungguh Aji begitu rindu tapi ia juga begitu malu dan tak berani mengakuinya.