My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 36



"Assalamu'alaikum... " ucap Wulan sambil mengetuk pintu rumah pak Janto.


"Wa'alaikumsalam... " saut Arif dari dalam. "Wah pak Jantonya ga ada mbak, kemarin sakit... Ini baru di rumah sodaranya kayaknya... " ucap Arif.


"Oh! Wah sayang sekali... " sesal Wulan. "Mas ini siapa? " tanya Wulan yang menyadari kalau harusnya tak ada orang lain selain Nana dan bapaknya di rumah itu.


"Saya Arif, guru ngaji... Kebetulan kemarin saya yang bantu pak Janto, jadi saya sekalian malam ini di minta nginep semalam... " jelas Arif yang hanya di angguki Wulan.


"Yasudah saya langsung saja... Ah iya boleh minta nomernya pak Janto?" tanya Wulan sebelum masuk ke mobilnya sambil menyodorkan ponselnya.


"Pak Janto jarang pegang hp mbak, tapi ini nomernya mbak Nana anaknya... " kata Arif yang langsung memberikan nomer ponsel pak Janto juga Nana. "Ini mau jahit apa ambil jahitan? " tanya Arif lagi.


"Mau jahit... " jawab Wulan sekenanya. "Yasudah mas, trimakasih. Nanti saya kesini lagi saja... " ucap Wulan lalu masuk kedalam mobilnya dan berlalu begitu saja meninggalkan Arif sendirian.


●●●


Wulan kembali ke rumahnya dengan suasana hati yang tidak baik. Sudah di omeli keluarganya, mencari Nana yang tak ketemu, Aji dan keluarganya yang memuakkan, belum lagi perkara berkas perceraiannya. Kalau saja tidak ada Hari yang setia menemaninya bisa gila Wulan hari ini.


"Mau ku buatkan sesuatu? " tawar Hari pada Wulan yang dari tadi diam.


"Tidak... " jawab Wulan singkat lalu masuk ke kamarnya dengan langkah gontai. "Aku mau istirahat..." ucap Wulan sebelum menutup pintu.


Hari hanya diam menghela nafas menatap seorang iron lady seperti Wulan bisa begitu kacau hanya karena cinta. Padahal sebelumnya dalam menghadapi masalah besar seperti tuduhan korupsi dan suap, juga skandal perselingkuhan ayahnya saja Wulan masih kokoh dan bisa santai menyelesaikannya.


Sementara Hari mencemaskan soal Wulan, Wulan sendiri tengah mempertimbangkan apakah keputusannya sudah tepat? Apakah ini adalah jalan yang terbaik untuknya? Apakah ini tidak akan mempengaruhi karir politiknya nanti? Semua perlu banyak pertimbangan berat, pertimbangan matang yang tidak boleh gegabah.


Bahkan Wulan yang sudah lama tak menyentuh mukena dan sajadah itu pun sampai kembali menyentuhnya. Bersimpuh dalam solatnya meminta petunjuk, meminta pertolongan atas segala keputusannya nanti. Ia benar-benar tak mau membuat kesalahan dua kali dalam hidupnya. Cukup sekali ia membuat kesalahan saat membunuh janinnya dan meninggalkan Piter, jangan ada kesalahan lagi.


●●●


Tak jauh beda dengan kondisi Wulan, kini Aji juga tengah bersimpuh dalam do'anya meminta ampunan dan kesempatan untuk memperbaiki semua. Entah hubungannya dengan keluarga, Wulan, atau Nana. Dosanya benar-benar menumpuk.


Flashback ~


"Gak usah tanggung jawab! Bikin beban aja si kere itu! " tolak Broto, ayah Aji begitu mendengar cerita dari istrinya.


Sempat terdengar cekcok di antara Broto dan Siwi. Ini pula kali pertama Siwi melawan suaminya demi orang lain pula, sampai akhirnya suara Siwi teredam setelah suara tamparan terdengar. Tak selang lama Broto keluar dari kamar dan menguncinya dari luar.


"Pa, Mama kenapa? " tanya Aji yang dari tadi menunggu di luar kamar dengan khawatir.


"Bukan urusanmu! Sudah urus saja dulu masalahmu itu! Tidak usah tanggung jawab, buang saja. Harusnya kamu ingat kamu bebas pacaran tapi menikah di tentukan! " ucap Broto yang langsung memarahi Aji.


"Pa, papa apain mamaku? " tanya Aji lagi, tak selang lama setelah pertanyaan Aji suara gedoran dari kamar orang tuanya mulai terdengar. Teriakan Siwi yang minta di keluarkan dari dalam mulai terdengar.


"Istrimu ini emang ga tau tata krama ya Le? " sinis eyang yang turun dari tangga.


"Eyang aku maunya nikah sama Nana, Nana hamil anakku! " ucap Aji.


"Hah?! " eyang terkaget-kaget mendengar ucapan cucunya itu. "Kok bisa ***** itu hamil?! " tanyanya setelah cukup tenang.


"Nana bukan *****, dia pacarku, calon ibu dari anakku. Kita lakukan semua atas dasar cinta... Aku mau nikah sama Nana! " ucap Aji kekeh.


Eyang terus menolak apapun alasan Aji dan apapun permintaannya. Sampai akhirnya ayahnya yang turun tangan.


"Kalo kamu nekat buat sok-sokan tanggung jawab, mamamu bakal nanggung akibatnya! " ancamnya lalu masuk kedalam kamar lagi.


Suara gesper yang beradu dengan entah apapun itu di tambah suara minta ampun dari Siwi benar-benar membuat hati Aji tak kuat. Ia tak mau melihat ibunya terus-menerus di sakiti ayahnya. Belum lagi ibunya juga harus menerima perlakuan sinis dari keluarga besan dan mertuanya. Hati anak mana yang bisa tega melihatnya.


"Oke pa... Oke... Aku nurut tapi jangan sakiti mama! " teriak Aji sambil menangis berlutut di depan kamar orang tuanya.


Flashback off~


Aji kembali memejamkan matanya menyesal kalo saja ia punya sedikit keberanian kala itu pasti tidak begini jadinya. Sekarang bahkan Nana jadi incaran Wulan juga, kalau hanya Nana Aji masih tak begitu khawatir tapi yang jadi masalah adalah ada Alif juga.


Hingga pagi Aji tak bisa tidur dengan tenang, tak bisa terlelap dengan nyenyak. Makan pun sudah tak selera tak tersentuh. Sampai akhirnya ia berfikir sebaiknya pulang kerumahnya dan menyelesaikan semua bersama Wulan secara baik-baik.