
Aji sudah menawarkan alif untuk pindah sekolah saja karena sudah kelewat kesal dengan sekolahan alif yang sampai kecolongan begitu. Tapi karena alif sudah terlanjur nyaman dengan sekolahnya, aji memutuskan untuk memindahkan alif ke kelas exclusive bersama anak-anak lain yang membayar lebih mahal di sekolah. Muridnya cukup sedikit hanya dua puluh orang termasuk alif. Tapi setelah di amati beberapa minggu belakangan rasanya kelas baru alif lebih baik dan menyenangkan.
Alif juga begitu senang di kelasnya memakai AC dan ada TV juga tempat minumnya sendiri. Ke masjid sekolah juga lebih dekat dari kelas barunya. Meskipun pulangnya sedikit lebih lama dari pada kelasnya yang sebelumnya karena ada pelajaran tambahan selama setengah jam setiap harinya.
"Kakak tadi gimana di sekolah? " tanya aji sambil membantu nana menyajikan makan malam.
"Aku belajar, terus tadi aku tonton film pakek bahasa arab. Aku tidak paham tapi filmnya bagus sekali... " ucap alif menceritakan kegiatannya sambil duduk menunggu makan malam semua siap.
Nana hanya tersenyum mendengar cerita alif yang tampak jauh lebih ceria setelah pindah kelas. "Ada yang nakalin ga? " tanya nana.
"Tidak, temanku di kelas banyak yang cewek. Yang cowok cuma empat sama aku... Temanku baik, suka berbagi tidak suka pukul-pukul... " ucap alif membuat nana lega.
"Kakak mau makan pakek apa? " tanya Nana yang semula akan mengambilkan nasi untuk alif tapi tiba-tiba langsung terduduk kembali.
"Kenapa na? " tanya aji khawatir yang melihat nana tiba-tiba terduduk dan tampak menahan sakit. "Kontraksi? " tanya aji.
Nana hanya mengangguk sambil mengatur nafasnya agar tenang.
"Mau lairan? " tanya aji panik bukan main.
"Harusnya belum... Kata dokter masih bulan depan aman.... " ucap nana sambil menggenggam tangan suaminya kuat-kuat.
"Sakit? " tanya aji bingung harus apa.
"Aw... Shhh... " desir nana.
"Ke rumah sakit aja ya... " ucap aji tak tahan melihat istrinya kesakitan.
Nana hanya menggeleng pelan lalu berusaha bangun untuk istirahat sejenak di kamar. Tapi baru ia bangun rasa sakit karena kontraksinya makin terasa. Tanpa persetujuan dari nana lagi, aji langsung menggendong nana dengan hati-hati ke mobil.
"Dah dah kita kedokter aja. Gapapa kamu ga melahirkan sekarang yang penting aku ga kecolongan kalo anakku kenapa-napa! " ucap Aji lalu kembali masuk untuk mengajak alif juga mengambil tas persiapan melahirkan nana yang belum sepenuhnya siap.
Aji menyetir dengan begitu panik dan hati-hati. Aji juga terus memerintahkan alif dan nana yang dari tadi tak banyak bicara untuk tidak panik. Padahal jelas-jelas aji yang panik sendiri.
"Mas kayaknya beneran mau lahir sekarang deh... " ucap nana yang sudah punya pengalaman melahirkan.
"Sabar ya sayang... Bentar lagi sampai... " ucap aji yang langsung menuju ke UGD.
●●●
Aji langsung mengabari keluarganya juga keluarga nana kalau nana melahirkan lebih awal. Alif menunggu di luar bersama mbak rin yang datang sambil membawakan makan malam untuk alif sembari menunggu keluarga yang lain datang sesuai yang di perintahkan aji.
Sementara aji selalu berada di samping nana tanpa ada keinginan meninggalkan sama sekali meskipun nana bilang tidak apa-apa kelahiran kali ini tak sesakit saat melahirkan alif. Aji tetap saja tak mau meninggalkan nana.
"Aku yang bikin kamu hamil, aku temenin kamu terus na... " ucap aji sambil mengecup kening nana.