My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 47



Arif kembali memikirkan keputusannya untuk serius dengan Nana. Sudah hampir di tiap solatnya Arif hanya menyebut nama Nana dan minta di kuatkan agar segera bisa menghalalkan hubungannya dengan Nana. Tapi saat tadi melihat Aji yang memohon hingga bersujud di kaki Nana juga ibunya yang ikut melakukan hal yang sama, Arif jadi ragu untuk menikah dengan Nana.


Bukan karena Arif goyah akan rasanya, goyah hatinya, merasa minder dengan Aji. Tapi ia ingin memberikan yang terbaik untuk Alif, untuk tumbuh kembangnya nanti, untuk masa depannya. Karena mau bagaimanapun Aji tetap ayahnya, orang tuanya. Entah apapun kesalahan dan dosanya, kenyataan itu tak bisa di elakkan lagi.


Tapi Arif kembali mempertimbangkannya, toh Alif tak pernah menerima perhatian dari Aji. Mungkin juga baru tadi Aji menemui Alif, bahkan Alif sampai menyerangnya dengan pralon meskipun tak seberapa kuat serangannya. Dari situ saja sudah dapat di simpulkan kalau Aji benar-benar tidak pernah memberikan kasih sayangnya pada Alif atau Nana, jangankan kasih sayang sepertinya bertemupun tidak.


"Ya Allah... Kalau memang Nana jodohku... Maka dekatkanlah... Lancarkanlah... Mudahkanlah... Kalau bukan... Jodohkanlah Nana dengan pria lain yang lebih baik dariku... Baik pula untuk Alif... " bisik Arif dalam do'anya.


Tak ada tempat meminta dan mengadu lebih baik daripada kembali pada-Nya dan berserah, begitu pikir Arif sebelum ia mulai mengambil keputusan.


Sambil menunggu penampungan air penuh untuk wudhu subuh nanti. Arif terus berdzikir, beristighfar berusaha tenang dan tak terburu-buru mengambil keputihan. Sampai ia melihat sebuah mobil mewah melewati masjid dan lagi-lagi berhenti di depan rumah pak Janto.


Karena khawatir dan penasaran dengan siapa yang datang Arif langsung mengikutinya. Kalau-kalau yang datang Aji lagi.


"Assalamu'alaikum... " ucap seorang wanita yang turun dari dalam mobil.


"Wa'alaikumsalam... " jawab pak Janto yang keluar dari dalam rumah.


Arif yang melihat wanita itu turun seorang diri merasa aman dan yakin tak ada apa-apa di sana. Mungkin hanya pelanggan pak Janto yang akan mengambil jahitan atau menjahitkan kainnya.


"Eh mas ustadz... Sini... " ucap pak Janto ramah begitu melihat Arif. "Sudah makan belum? " tanya pak Janto lagi.


"S-sudah... " jawab Arif canggung karena sudah sering makan di rumah calon mertuanya itu.


"Mas, makan yuk... Aku abis ngangetin baso... " ajak Nana yang di angguki Arif.


Keluarga ini... Wanita itu... Ah... Memang sudah jodohku... Dewi Fortuna masih di pihakku... Batin Wulan.


"Eh! Itu tante yang di pasar beliin aku jajan itu loh Ma! " pekik Alif sambil menunjuk Wulan.


"Halo... " sapa Wulan sambil berusaha mengingat nama bocah di depannya. "...Alif..." ucapnya.


Ah... Ini anaknya mas Aji... Batin Wulan senang dan sedih juga sedikit takut bila Aji benar-benar meninggalkannya dengan segala cara demi kembali.


"Oh iya... Ada perlu apa mbak kok sampai sini... " sapa Nana ramah.


"Ini mau jahit... " jawab Wulan lalu menunjukkan paper bag berisi kain.


"Yasudah ayo masuk dulu Mbak..." ajak pak Janto.


"Eh Alif diem dong tante foto dulu kamu gemesin sekali... " ucap Wulan sambil memfoto Alif yang mau diam sejenak dan berpose.


"Liat! " pekik Alif sambil melompat-lompat.


"Ini... " jawab Wulan sambil menunjukkan foto yang baru di ambilnya. "Bagus ga? " tanya Wulan yang di angguki Alif dengan malu-malu kucing.


"Insyaallah seminggu jadi mbak... " ucap Nana lalu menggendong Alif.


"Oke deh... " jawab Wulan lalu menerima brosur berisi nomer telpon dari Nana. "Kamu mau ikut aku ga Alif? " tanya Wulan sambil masuk ke mobilnya.


Alif langsung menggeleng cepat sambil tersenyum.


"Oh iya aku ada jajan... " ucap Wulan lalu memberikan bingkisan parsel berisi cemilan pada Alif yang di terima Nana. "Abis dateng ke ulang taun jadi dapet jajan deh... " ucap Wulan sebelum muncul pertanyaan dari Nana atau Alif.


"Trimakasih ya... " ucap Alif sambil sesekali bertepuk tangan senang.


"Terimakasih mbak... " ucap Nana sambil tersenyum canggung.


"Yaudah nanti kabar-kabar ya... " ucap Wulan lalu pergi begitu saja.


●●●


"Tantenya baik ya... " ucap Alif senang sambil membuka bingkisan yang ia terima dengan senang.


"Iya... " jawab Nana yang mendampingi Alif membuka bingkisan.


"Tadi aku khawatir kalo yang datang si Aji lagi jadi aku kesini eh malah di kasih makan... " ucap Arif pada Nana. "Jadi ngerepotin... " sambungnya.


"Gapapa Mas... " jawab Nana santai. "Terimakasih sudah khawatir... " sambung Nana.


"Aku mau kita kencan, ngobrol berdua... Boleh? " tanya Arif dengan wajah tertunduk malu. "Tapi kalo ga bisa gapapa... Anu... Aku cuma... Em... "


"Insyaallah ya Mas, besok... " jawab Nana memotong ucapan Arif yang gugup. "Tapi dekat saja... " sambungnya.


"A-aku mau balik dulu... " jawab Arif yang sudah deg-degan tak karuan saat Nana mau berkencan dengannya.