
Nana langsung menerima Alif dari gendongan ustadz Arif lalu menyerahkan tas belanjanya yang berisi bungkusan nasi goreng yang ia buat tadi.
"Mas, maaf boleh minta tolong ambilkan tasnya Alif? Sepertinya hari ini ga sampai selesai dulu... " pinta Nana yang langsung di turuti ustadz Arif.
Mamanya Alif kayak ibuku... Batin ustadz Arif yang melihat Nana berjalan menjauh dari masjid sambil menggendong Alif dan menenteng tas milik Alif dengan pralonnya yang mencuat.
"Cup... Adek jangan nangis... " ucap Nana menenangkan Alif. "Katanya mau jagain mama kok baru jatuh sudah nangis? " goda Nana yang masih berusaha menghibur Alif.
Nana langsung berjalan pulang sementara ustadz Arif berusaha mengkondisikan TPA lagi, meskipun sesekali tetap memperhatikan Nana yang terus berlalu.
●●●
Perasaan ustadz Arif makin merasa tak enak hati saat membagikan bungkusan makanan yang di bawa Nana. Meskipun ia tau Nana sendiri juga hanya menjalankan amanah. Ustadz Arif yang lumayan dekat dengan Alif merasa cukup sedih karena Alif jadi tidak bisa ikut makan bersama teman-teman yang lain.
Tapi saat akhir membagi ustadz Arif mendapati kotak bekal makanan yang di bawa Nana. Kotak berwarna biru dengan tutup berwarna hijau, bekas kemasan makanan siap saji hokben yang beberapa waktu lalu di bagikan oleh keluarga muridnya.
Beberapa ibu yang melihat ustadz mengeluarkan dan membuka bekal yang tertinggal itu langsung saling bisik, tampak asik apalagi barusan dapat bahan. Tuduhan-tuduhan tak jelas langsung terhembus dan bersahut-sahutan, bagai berita pamdemi yang di komentari para pembuat cerita konspirasi.
"Nyoba mau ngegoda mas ustadz itu... Pasti sengaja di bikinin khusus... "
"Kamu kasih uang lebihan ya jeng? "
"Yaudah lain kali gausah pesen sama mamanya Alif... Kan dah tau kalo dia genit... "
Gunjingan demi gunjingan terus berlanjut dengan seru di antara para ibu-ibu. Bahkan sesekali mereka menertawakan entah apa yang mereka bicarakan hingga tertawa. Tapi yang jelas terdengar pembahasan soal Nana adalah yang paling seru.
"Kamu ini anak haram! Ibukmu itu cewek gak bener! Bukannya ngurus kamu malah kelayapan ga jelas! Ya pantes aja bapakmu mati gak kuat dia ngadepin kamu sama ibukmu! " omel nenek sambil memandikan Arif kecil yang pulang penuh lumpur setelah bermain bola di lapangan.
Yani neneknya terus mengguyur badannya dengan air dingin yang baru di timbanya dari sumur tanpa henti. Tak peduli seberapa kencang Arif menangis meminta ampun agar tidak di siram terus.
"Ampun... Susah... Ampun... " ucap Arif sambil menangis dan mengusap air yang mengenai wajahnya dengan tangan kecilnya yang sudah keriput karena terlalu lama kena basah dan kedinginan.
Bibir Arif juga sudah mengungu karena kedinginan, tubuhnya juga sudah menggigil. Neneknya kembali menariknya masuk dan mengeringkan tubuhnya lalu menyuruhnya memakai baju sendiri dan pergi meninggalkan Arif sambil mengomel, kembali ke aktifitasnya memipili jagung kering.
"Nek... Aku lapar... " ucap Arif setelah pakai baju dan menyisir rambut sebisanya.
"Nanti tunggu ibumu balik! Kalo ga balik ga ada makan buat kamu! " jawabnya ketus.
"Tapi itu ada makan di dapur... " tunjuk Arif.
"Ibukmu itu ga kasih duit buat makan! Enak banget kamu mau makan! Kamu ini ngerepotin terus! Kenapa ga kamu aja sih yang mati? Kenapa harus anakku! " bentak neneknya sambil menunjuk-nunjuk Arif lalu mencubitnya dan mendorongnya pergi.
Arif hanya menatap neneknya dengan mata yang berkaca-kaca, perutnya lapar. Tapi yang lebih membuatnya sedih selain karena tidak boleh makan dan di marahi adalah di maki soal mendiang ayahnya yang meninggal karena pesawatnya jatuh saat akan berangkat ke Tiongkok menjadi TKI. Sementara ibunya yang bekerja menjadi biduan terus saja pentas dari satu tempat ke tempat lain, dari tempat nikahan satu ke yang lain.
Flash back off~
Ustadz Arif memejamkan matanya erat-erat, ia hanya diam lalu kembali memasukkan kotak bekal yang ia temukan ke dalam tas yang Nana tadi.