
Dering nyaring ponsel Nana tertera nama om Bram di layar. Bagai ditarik kembali dalam sadarnya Nana langsung mendorong Arif yang tadi saling mencumbu dengannya. Arif hanya menundukkan pandangannya.
"Pulang... " ucap Nana singkat lalu membuka pintu.
Arif hanya mengangguk, pikirannya masih belum tenang. Tapi ia tak mau membuat Nana menunggu lama, segera di susulnya dan diantar pulang sebelum khilaf lagi.
Kembali tak ada pembicaraan di antara keduanya. Hening, saling mendiamkan. Sampai di rumah pun Arif langsung menurunkan Nana, tidak menyalimi pak Janto atau om Bram yang duduk di depan. Linglung. Nana juga langsung masuk kamar, mengabaikan Alif yang memamerkan wafer yang ia terima dari tante Yuni.
Astaghfirullah... Batin Arif yang terus beristighfar sepanjang jalan.
Astaghfirullah.... Aku lupa diri... Batin Nana penuh sesal.
●●●
Aji dan Alice duduk di ruang tamu dengan cemas. Alice tampak sangat ketakutan, Aji pun begitu. Tapi yang paling mereka takutkan saat ini bukan soal Broto yang akan memukul atau menampar mereka, namun Siwi. Mamanya yang sudah rela minggat bersama demi mengawasi dan menjaga agar Alice aman tapi malah kecolongan begini.
Apa yang akan di lakukan Broto nantinya pada Siwi? Apa yang akan di lakukan eyang juga nantinya? Apalagi sekarang Broto dan Siwi tengah saling memperbaiki hubungan kembali. Tak kuat hati betul bila Alice harus merusak semuanya.
Tapi bila di beri pilihan untuk hamil atau menggugurkan kandungannya tentu Alice tetap kekeh dengan pilihannya untuk hamil. Apa lagi ia masih optimis bila Joe akan bertanggung jawab nantinya.
"Apa kita cari dulu aja mas? Baru nanti bilang ke papa kalo aku hamil, gimana?" saran Alice yang masih saja ingin mengulur waktu.
"Gak!! Terakhir kamu nekat jadi bunting. Ga usah aneh-aneh! Jujur dulu biar nanti di bantu! " tolak Aji dengan tegas.
Sayup terdengar suara gerbang yang di buka, tak lama di susul suara mobil menderu masuk ke pekarangan. Aji dan Alice langsung bangun bergegas melihat siapa yang datang. Entah sial atau beruntung, eyang muncul dengan begitu banyak tentengan bingkisan yang ia bawa. Itu belum seberapa karena sopir dan pembantu juga ikut bantu membawakan.
Aji dan Alice saling tatap tak nyaman dengan kehadiran eyang yang pasti akan kembali berusaha merusak kebahagiaan keluarganya ini.
"Tadi eyang bawa oleh-oleh, sedikit... " ucap eyang merendah lalu duduk dengan nyaman di ruang tamu. "Papamu mana le? " tanya eyang.
"Kencan sama mama... " jawab Aji singkat lalu menarik Alice kekamarnya tanpa permisi.
Tapi belum lama Aji dan Alice di kamar, bahkan Aji belum sempat bicara apapun. Kembali terdengar suara mobil yang terparkir di halaman.
"Broto... " sapa eyang yang menyambut putranya.
Aji dan Alice hanya menatap apa yang di lakukan eyang dari atas. Muak sekali rasanya Aji melihat tingkah eyangnya. Begitu pula dengan Alice dan ya semua orang paham bagaimana sikap wanita tua itu.
"Kita sampaikan nanti saja kalo eyang ga di rumah... " bisik Aji pada Alice.
Alice hanya diam, sambil menatap Aji yang sudah kembali memperhatikan interaksi eyang yang entah apa maksudnya itu.
"Ibu kira kamu ga bakal pulang lagi... " sindir eyang yang terdengar halus tapi cukul menusuk itu.
★★★
📛 Perlu di ketahui cerita ini based on a true story . Enjoy your day ♥