
Nana rencana menjalani dua hari kedepan di rumah mertuanya sembari menunggu Aji pulang. Bukan tanpa alasan Aji menyuruh Nana untuk menginap, ia tak mau bila Arif menemui Nana saat ia tak di rumah. Atau menghindari bila Alif tak ada yang mengantar sekolah dengan aman. Atau juga Nana tergoda pria lain. Tapi terlepas dari itu semua Aji memang jadi jauh lebih protektif pada Nana sejak menikah dengannya.
Apa lagi pernikahannya berjalan begitu sederhana. Tanpa resepsi, tanpa pesta, hanya syukuran. Bahkan waktu sunatnya dulu saja lebih meriah dari acara nikahnya dengan Nana. Padahal Aji sudah banyak menabung mempersiapkan diri untuk mengabulkan pernikahan impian Nana. Ya paling tidak pasti tiap perempuan punya mimpi soal pesta pernikahannya, gaun, make up, dekorasi, apapun itu. Tapi Nana tetap pada mimpinya dulu, menikah yang penting sah dan sederhana. Mimpinya saat menemani Aji yang masih merintis karir.
Nana juga tak keberatan ketika ia harus bersabar ketika Aji bilang Alice hamil duluan dan perlu perhatiannya juga saat mengurus anaknya. Nana tak keberatan harus tinggal di rumah mertuanya, toh Nana tau mertuanya juga bisa menerima Alif dan menyayanginya dengan baik.
Bahkan mertuanya sendiri yang mendaftarkan Alif ke berbagai kurus, seperti bahasa inggris, berenang, bela diri, padahal Alif masih dalam masa bermain di taman kanak-kanak. Karena Aji tak suka Alif terus mengingat Arif setiap berdoa Aji juga mendatangkan guru ngaji khusus untuk Alif kadang Siwi juga ikut belajar sekaligus menemani Alif.
"Na, mama pengen punya cucu cewek dari kamu. Pasti asik, dah langsung pas sepasang. Cowok cewek... " ucap Siwi sambil memotong-motong wortel yang sudah di kupas Nana.
Nana menghela nafas. "Aku belum siap hamil lagi ma... Aku masih takut... " jawab Nana sedih.
"Loh kenapa? Aji ga mau anak lagi? " tanya Siwi syok sampai menghentikan aktivitasnya untuk menatap wajah Nana.
"Mas Aji minta juga ma... Cuma dulu waktu aku hamil Alif... "
"Astaghfirullah... Na udah jangan mengungkit masalalu terus... Hidup itu berjalan maju, kamu sama Aji kan sudah makin dewasa, sudah berproses masing-masing juga... Sekarang juga sudah beda dari sebelumnya... "
"Tapi ma... "
"Mama ga maksa kamu, ini tubuhmu, kamu yang punya aturan. Kalo Alice bilang itu my body my rule kalo ga salah. Kamu berhak menolak juga. Tapi mama pengen kamu tau, nana ga perlu takut apa-apa lagi nana anaknya mama juga... Aji juga suaminya nana, papanya alif... " nasehat Siwi panjang lebar lalu kembali merajang wortel.
Nana hanya diam, ucapan Siwi rasanya benar-benar membekas di hatinya. Toh tak ada salahnya juga punya anak lagi, sekarang ia sudah menikahi orang yang di cintainya. Tak masalah untuk hamil.
Nana hanya menggelengkan kepalanya.
"Yaudah nanti mama sama alif aja yang jemput... " ucap Siwi santai lalu merebus wortelnya sebentar dan meniriskannya. "Na dulu waktu kamu ngelahirin Alif sakit ga? " tanya Siwi tiba-tiba.
"Sakit, waktu itu aku dah kecapekan duluan, ketubannya juga pecah duluan. Aku khawatir anakku kenapa-napa. Dah mau nyerah tapi sadar ga ada uang buat oprasi jadi aku kuat-kuatin diri buat lahirin normal, " jawab Nana menceritakan proses melahirkannya dulu.
"Masyaallah... Maaf ya Na mama ga bisa temenin waktu Nana susah... " ucap Siwi sedih.
"Gapapa ma, aku bisa paham kondisinya... Mas Aji dah cerita... " jawab Nana santai menepis rasa empati mertuanya.
Nana kembali fokus mengupas kentang lalu memotonginya panjang-panjang. Pikirannya masih saja menimbang-nimbang apakah ia siap hamil lagi. Ketakutannya akan di usir keluarga Aji masih saja menjadi momok baginya. Meskipun di hati kecilnya ia ingin menuruti permintaan suami dan mertuanya. Ah trauma itu masih saja ada.
.
.
.
follow, like, vote, komen juga ya 💕 makasih mau baca 💕💋