My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
part 130 #2



"Papa, aku pengen punya kakak... " ucap Alif pada aji begitu mendapati aji sudah berdiri menantinya.


"Hah?! Kakak gimana? Kan alif mau jadi kakak... " ucap aji kaget dengan permintaan Alif yang begitu mendadak.


"Ya kakak. Temenku Ria punya kakak tiga, aku juga pengen punya kakak... Satu aja gapapa... " Alif memperjelas permintaannya.


Waduh ya mana bisa, kalo minta adek masih bisa di urus... Lah kalo kakak.... Batin aji bingung.


"Papa punya kakak gak? " tanya alif.


"Punya dua... " jawab aji ragu.


"Tuh kan punya... Aku masa tidak punya... " rengek alif kesal sambil masuk ke dalam mobil.


"Kakak kenapa cemberut? " tanya nana menyambut alif di mobil.


"Aku pengen punya kakak... " jawab alif yang seketika membuat nana terdiam sambil memandangi aji bingung.


Aji mengedikkan bahunya, sama bingungnya dengan nana.


"Kita mau belanja ke supermarket nanti kita makan di food court aja ya... " ucap aji mengalihkan pembicaraan.


"Iya kita makan di luar aja ya... Alif mau makan apa nak? " tanya nana yang ikut mengalihkan pembicaraan.


"Iya... " jawab alif yang langsung teralihkan perhatiannya.


Sepanjang jalan alif asik menonton kartun paw petrol. Sementara nana dan aji di buat bingung kenapa alif bisa minta punya kakak begini. Sesampainya di supermarket dan tengah memesan makanan di foodcourt dekat parkiran. Nana sudah siap menjelaskan pada alif bila menjadi kakak lebih menyenangkan dari pada punya kakak. Tapi belum ia mulai menjelaskan tampak sebuah keluarga tengah menunggu pesanan bersama dua anaknya yang asik bermain.


"Tu kalo aku punya kakak nanti bisa bermain bersama-sama... " ucap Alif pada nana dan aji.


Alif masih saja mengungkit soal keinginannya memiliki kakak. Sampai ice creamnya habis, pesanan kwetiau nya datang. Alif masih betah membahas keinginannya untuk punya kakak.


"Makan dulu kak... " ucap aji sambil memberikan semangkuk kwetiau yang sudah di aduknya untuk alif.


Nana sudah enggan membahas atau menanggapi ucapan alif soal kakak. Melihat suaminya menjelaskan saja sudah cukup membuat nana pusing dan harus berfikir dua kali untuk membujuk alif dan pikirannya.


"Ga makan? " tanya aji yang melihat nana tak kunjung memakan kwetiau di depannya. "Mau di adukin juga? " tanya aji lagi.


Nana hanya menggelengkan kepalanya. "Di bungkus aja mas, ga selera... " jawab nana lalu duduk bersandar sambil mengaduk es teler pesanannya.


"Di suapin mau ya? " tanya aji yang kembali di tolak nana sengan gelengan. "Ini yang gak mood makan mamanya apa dedek bayinya? " tanya aji lagi.


"Semuanya pa... Lagi ga mood... " jawab nana.


"Sesuap deh ya... " bujuk aji sambil menyuapkan kwetiaunya pada nana.


"Nanti mama kalo ga makan laper loh. Kasian adekku... " ucap alif ikut membujuk nana.


"Kan alif ga mau punya adek, maunya punya kakak... " ucap nana. "Gapapa dong dedek bayinya laper... " sambung nana yang langsung membuat alif berhenti meminta punya kakak.


"Tidak tidak... Aku mau punya adek... Aku sudah tidak mau punya kakak... " ucap alif yang jadi khawatir pada adiknya. "Mama makan ya... " bujuk alif.


Aji dan nana langsung tersenyum lega mendengar ucapan alif yang langsung berhenti memaksa minta kakak.


"Mama makan nih ya... " ucap nana lalu mulai mengaduk kwetiau di mangkuknya.