
"Aku minta maaf... " ucap Broto sambil menciumi tangan Siwi. "Aku ternyata ga bisa kalo ga ada kamu... Aku berantakan, ga tenang, ga nyaman... Aku minta maaf selama ini mengabaikan kamu... " tangis Broto langsung pecah saat meminta maaf pada istrinya yang terbaring lemah itu.
Siwi hanya tersenyum lalu mengusap air mata suaminya. Tangan kecil, kurus, penuh luka milik Siwi itu rasanya benar-benar di rindukan Broto.
"Aku ga pernah dengerin kamu... Aku kasar... Aku sering marahin kamu... Aku minta maaf... Kamu boleh liburan kalo kamu mau, kamu boleh ke mall, kamu boleh pergi kemanapun, kamu boleh atur anak-anak, atur aku... Kita pindah ke rumah kita sendiri, ga usah sama ibu gapapa.... Tapi kamu jangan pergi lagi... " rengek Broto yang benar-benar tak berdaya kali ini.
"Ibu gimana? Ada yang ngurus?" tanya Siwi setelah lama diam.
"Ada, ada pembantu, suster, supir, tukang kebun... Kamu ga usah khawatir... Asisten pribadi ibu juga ada... " jawab Broto cepat.
Siwi hanya diam sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Pulang ya sayang... Aku janji hidupmu bakal lebih baik... Jangan pergi... " Broto masih memohon.
Siwi tak bisa memberi jawaban. Ia hanya memalingkan pandangannya.
"Pengen apa kamu, hmm? Pengen bebas seperti apa? Ku kabulkan tapi jangan pergi jauh-jauh dari aku sendirian.... Jangan ninggalin aku... " Broto bangun lalu mengecup kening istrinya.
"Katamu dulu aku ga berguna, aku sering di hukum... Buat apa aku di sana? Ku kira dulu aku di nikahi untuk di cintai bukan jadi sasaran pukulmu... Ternyata aku cuma jadi samsak hidup, aku cuma jadi tempat memaki kamu sama ibu... " ucap Siwi lirih, air matanya pun mulai menetes. "Aku bahkan tidak tau bila selama ini ada pekerja di rumah, ku kira aku yang jadi babu di sana... Aku miskin jadi layak di rendahkan, bukan begitu kata ibu? Bukankah kamu juga yang ijinkan ibu merendahkanku dulu? " lanjut Siwi. "Ku kira kalian semua lebih suka kalo aku ga ada... " tangis Siwi akhirnya pecah.
Siwi hanya diam dalam tangisnya. Pikirannya kacau, bingung harus bagaimana. Ingin pergi tapi teringat semua niat awalnya membangun rumah tangga, ingin tinggal tapi tak ada jaminan hidupnya akan membaik.
"Satu kali ini saja... Beri aku satu kesempatan terakhir... " bujuk Broto pada akhirnya.
Siwi masih tak memberikan jawaban, hingga dua kali suster masuk ke ruang inapnya untuk mengecek kondisinya juga membawakan makanan. Broto terus duduk di samping Siwi yang berbaring lemas.
"Aku minta maaf ga pernah dengerin apa maumu, ga pernah perhatikan kamu dengan baik... " Broto masih saja terus berusaha membujuk istrinya.
Siwi masih saja diam, sambil berusaha keras menguatkan hatinya mengingat seberapa buruk suami dan mertuanya memperlakukan selama ini. Belum lagi masa depan anak-anaknya, juga segala tekanan batin selama ini.
Tapi semakin Siwi mengingat segala keburukan yang ia terima, semakin ia mengingat hal-hal manis dan perjuangan suaminya selama ini. Betapa suaminya tertekan hingga jadi terbiasa dalam kondisinya. Tak boleh memperjuangkan pilihannya sendiri, tak boleh mengambil keputusan sendiri, tak boleh memilih apapun sendiri. Harus nurut, sesuai perintah. Hanya saat menikah itulah rasanya satu-satunya dan pertama juga terakhir kalinya Broto mau melawan. Tidak ada perlawanan lagi.
▲▲▲
Fyi : cerita ini dah di kontrak sama MT/NT jadi pasti di publish sampai end di sini.
Cuma ya gitu guys aku tu lagi sibuk kuliah dah semester tua, pusing mikir penelitian. Doain lancar ya biar aku bisa cepet wisuda terus bisa fokus nulis lagi 😥