My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
part 101 #2



karena banyak yg bingung wp apaan jadi aku up di sini juga. biar tuntas 💕


.


.


.


Aji hampir selalu membeli mainan atau memesan makanan dengan bonus mainan. Di kumpulkannya satu persatu sambil mengingat Alif. Mengingat anaknya yang akan menerima dengan wajah polos yang sumringah, betapa menyenangkannya.


"Aku mau balik ke Indonesia... " ucap Aji tiba-tiba pada Alice yang sedang menikmati makanannya.


Alice hanya menaikkan alisnya sebelah menanggapi ucapan kakaknya itu.


"Kamu nikah aja sama siapa pilihan eyang... Aku mau ngejar Nana buat Alif... " Aji melanjutkan ucapannya.


"Lama? " tanya Alice setelah menelan nasinya.


"Seminggu aja ini, tapi kamu tetep harus nurut dek... Setidaknya martabatmu terjaga... " jawab Aji lalu masuk kamarnya untuk berkemas.


"Aku ga mau... "


"Apa kamu punya pilihan lain yang lebih baik dan rasional?" potong Aji yang sudah tak mau berdebat.


Bentar lagi aku ketemu Alif... Batin Aji senang sambil mengemasi mainan yang sudah di kumpulkannya.


◆◆◆


"Kapan kamu cerai? " tanya Zulia terang-terangan pada Arif yang kembali mengapelinya di pagi hari.


"Sabar butuh waktu... Istriku belum berbuat salah... " jawab Arif apa adanya.


Zulia mendengus kesal sambil memalingkan wajahnya. "Aku ga suka kayak gini terus... " ungkapnya penuh emosi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Arif menghela nafas panjang lalu tersenyum. "Aku dapet banyak duit dari bapaknya Alif, kalo aku cerai mau dari mana duitku nanti? Kamu kan tau ngisi pengajian duitnya ga seberapa... Jual peci sama minyak wangi juga ga seberapa..." Arif berusaha menjelaskan realitas kondisinya.


"Terus gimana ? Mau sampai kapan? " desak Zulia.


"Belum tau, tapi secepatnya kita bakal sama-sama... " jawab Arif meyakinkan Zulia untuk kesekian kalinya..


◆◆◆


Aji melihat jam memberangkatannya, pesawat terlambat seperti biasa. Aji tak sabar untuk bisa segera bertemu Alif, tak sabar untuk bisa mengunjungi rumah Alif yang sekarang lengkap orang tuanya. Meskipun hanya ayah sambung.


Terbayang betapa layaknya kehidupan Alif sekarang. Apa lagi Aji sudah rajin mengiriminya uang. Pasti Alif begitu bahagia dan bisa tinggal dengan sangat layak.


Sepanjang penerbangan juga Aji terus membayangkan Alif. Aji yakin kedatangannya nanti akan menjadi surprise hebat untuk Alif.


"Langsung ke pondok.... " pinta Aji pada sopirnya yang menjemput.


Tapi semua brubah. Pikirannya dan angan-angannya pupus. Hancur semua, tak satupun yang sesuai ekspektasi begitu sampai di depan rumah Alif.


Nana masih berjualan cilok dan es. Alif masih kurus dan berpakaian seadanya. Kemana perginya uang kiriman Aji selama ini langsung menjadi tanda tanya besar.


"Assalamualaikum... Alif... " sapa Aji.


Alif yang tengah asik bermain pasir dan truk mainan menatap ke arah Aji, sejenak ia menatap berusaha mengingat siapa pria yang menyapanya. "Om anehku! " pekik Alif sambil berlari menghampiri Aji.


◆◆◆


"Apa kita nabung dulu? Biar Abah setuju ?" tawar Arif pada Zulia.


"Apa maksudmu nabung dulu? " tanya Zulia bingung dengan ambiguitas Arif.


"Ya nabung, kalo kamu hamil pasti kan boleh nikah. Lagian kalo sama kamu kita punya anak jelas anakku, ga kayak dari Nana... " jawab Arif.


"No!..." belum Zulia melanjutkan ucapannya pesan masuk ke ponsel Arif yang mengabarkan kedatangan Aji sudah membuatnya panik bukan main bahkan tanpa pamit Arif langsung tancap gas pulang.


Arif panik bukan main, bisa hilang sumber uangnya kalau sampai Aji curiga dan bertanya macam-macam pada Nana. Bisa batal niatnya untuk menikahi Zulia kalau sampai terjadi.


Sesampainya Arif dirumah benar saja, Alif sudah berada di gendongan Aji yang memberikan banyak oleh-oleh. Entah beruntung entah sial begitu ia menatap wajah istrinya yang sudah tampak begitu marah dan kesal.


"Ayah... " sapa Alif sambil melambaikan tangannya pada Arif.


"Aku dah minta buat pergi tapi ga mau Mas... " lapor Nana panik yang membuat Arif lega.


Arif langsung tersenyum. "Gapapa Dek... " jawab Arif lembut agar Nana tenang.


Aji menatap Arif penuh curiga. Bagaimana bisa ia dan keluarganya bentuknya tak karuan begini, separah apa inflasi di Indonesia? Atau seboros apa pengeluaran hanya untuk mengasuh Alif? Banyak pertanyaan terlintas di pikiran Aji. Sampai ia heran sendiri, sepuluh juta perbulan kenapa bisa kurang.


Aji yang berniat hanya seminggu tinggal kini berubah. Terlalu banyak kejanggalan yang perlu ia luruskan. Meskipun ia pernah menolak kehadiran Alif dulu, ia tetap tak terima bila Alifnya hidup tak layak.


Apa aku di tipu? Batin Aji akhirnya.


"Mau beli ayam tepung sama om ga? " tawar Aji pada Alif yang jelas membuat Alif senang.


"Ga usah! " tolak Nana sengit yang membuat Alif sedih.


"Ustadz boleh gak? " tanya Aji meminta ijin pada Arif yang jelas membuatnya bingung dan langsung kalang kabut.


Kalo di biarin sendiri tanpa pengawasan Alif bisa di culik, tapi kalo aku tolak dia curiga. Nana aja yang ikut, ah jangan nanti di tanyain aneh-aneh... Batin Arif menimbang-nimbang.


"Ajak mama sama ayah juga aja... " saran Alif yang kekeh ingin pergi bersama Aji.


Arif menatap Nana yang sudah tampak tak suka dengan apa yang Alif minta. "Yaudah sama ayah aja... " putus Arif yang akhirnya memutuskan untuk pergi bersama Alif dan Aji.