
Aji menatap ponselnya, memandang wajah Alif yang jadi wallpapernya. Alif terlihat begitu ceria membawa bingkisan ciki dan kunci mobil milik Wulan. Rambutnya sedikit gondrong dengan baju yang kekecilan dan sudah mulai koyak. Alif, putranya yang seharusnya hidup layak makan enak jadi harus menderita.
Di tatapnya sekeliling rumahnya. Begitu luas bahkan rumah Nana saat ini saja tidak lebih luas dari garasinya. Terbayang betapa bahagianya Alif bila tinggal di rumahnya. Bisa berlarian kesana-kemari, berenang, makan tanpa harus menunggu sisa jualan lauk, minum susu tidak hanya saat malam hari, pakaian yang bisa pilih tanpa harus pikir harga, menonton TV dan segala acaranya tanpa harus menumpang ke tetangga, mainan ? Tinggal ambil saja akan Aji tak masalah.
Aji terus saja memantau pesan dari Nana yang ia sematkan, menunggu kapan Nana bisa menemuinya. Aji berharap bisa kembali tentunya, bisa kembali memeluk Nana lalu membesarkan Alif bersama. Tetap saja pesan atau kabar apapun tak kunjung datang, malah spam WA dari Alice yang muncul.
Aji hanya memejamkan matanya erat-erat sambil memijit pelipisnya pelan. Aji masih saja tak habis pikir bagaimana bisa hidupnya jadi kacau begini. Bahkan Alice sampai kelepasan begini meskipun sudah di awasi begitu ketat belum lagi ibunya juga ikut menemaninya saat minggat. Bagaimana bisa sampai kecolongan hingga hamil duluan begini?!
"...mas aku takut... " ucap Alice setengah menangis dari telefon.
"Ini kamu di mana? " tanya Aji.
"...di kontrakan... " jawab Alice sambil menangis. "...aku kirim alamatku, mas kesini ya... Aku takut banget mas, Joe gak bisa di hubungi lagi orang tuanya juga... " Alice mulai merengek.
"Iya nanti tunggu... " Aji mengiyani adiknya yang begitu panik dan kelewat kacau.
Aji sendiri sebenarnya juga pusing harus mengatasi masalah kali ini. Harus menjelaskan bagaimana ke orangtuanya, keluarganya juga. Mungkin bila hanya menjelaskan kepada kedua kakaknya mungkin adalah hal biasa, tapi menjelaskan ke ayah juga ibunya adalah masalah yang tak bisa di remehkan.
●●●
Alif duduk bersandar di tembok sambil menatap Doni tang di gendong sambil bercanda dengan ayahnya yang beberapa kali memutar-mutarkan tubuhnya lalu menggelitikinya. Alif terus memperhatikan Doni yang dapat tertawa terbahak-bahak setiap kali Ayahnya datang.
"Dek liat ayah punya permen... " ucap ayah doni yang memberikan sebungkus permen gummy bear sebelum masuk ke kamar mandi.
"Wah! " pakik Doni senang menerima oleh-oleh ayahnya. "Ni... " Doni membagi satu dari lima permen gummy bear kecil dalam sebungkus permen yang ia bawa dengan Alif.
"Terimakasih ya... " ucap Alif senang menerima permen dari Doni.
Aku pengen bapak kayak ayah Doni... Batin Alif membandingkan pak Janto yang selama ini di panggilnya bapak dengan ayah Doni.
"Enak ya?! " pekik Doni senang yang di angguki Alif.
"Don, bobok siang dulu ya... Alif juga pulang dulu, nanti lagi bobok dulu ya... " ucap ayah Doni usai mandi.
Alif yang langsung tau diri segera merapikan mainan yang ia mainkan ke dalam kardus mainan Doni. Sementara Doni sibuk merengek tidak mau tidur siang.
"Aku pulang dulu ya... Dada... " pamit Alif sambil memakai sandal dan melambaikan tangan sebelum melangkah pulang.
Alif melepas kedua sandalnya di tengah perjalanan. Alif melempar tangkap sandalnya di udara sambil tertawa kecil membayangkan apa yang di alami Doni tadi juga bisa ia alami.
Pluk!
Salah satu sandal milik Alif masuk ke selokan, dengan hati-hati Alif mengambilnya agar tidak ikut tercebur ke dalam selokan dan terkena lumpur.
"Aduh aku tidak bisa... " gumam Alif lalu mengambil sedotan untuk membantunya yang jelas tak kuat mengangkat sandalnya.
Tak habis akal Alif mencari benda panjang lain untuk membantunya mengambil sandal.
Kring... Kring... Kring...
Segerombolan anak-anak melaju pesat sengaja melintasi Alif. Salah satu anak bahkan menendang Alif yang berjongkok berusaha mengambil sandalnya.
"AWW!! " pekik Alif yang langsung jatuh ke dalam selokan yang tak seberapa dalamnya itu, tapi tetap saja membuat Alif kesulitan naik meskipun kini kedua sandalnya kembali di dapatkannya. "Mama... " lirih Alif menahan tangis.
"Hahahah... Sukurin jatuh!! Main di selokan! Anak haram main di selokan!!! " anak-anak itu menyuraki Alif sebelum kembali satu di antaranya meludahi Alif di susul yang lain dan buru-buru melesat dengan sepedanya.
"Alif!!! Itu Alif!!! "
◆◆◆
jan lupa vote, like, komen ya guys biar semangat ♥