
Nana duduk bersandar pada suaminya sambil menonton TV di rumah pak Janto setelah membantu memotong kain. Sementara Alif yang baru saja pulang dan mandi kembali main ke rumah Doni. Alif masih seperti dulu, begitu pula dengan Doni. Keduanya juga masih saja asik bermain dengan mainan yang sudah rusak milik Doni. Bahkan mainan baru yang di bawa Alif juga tak di mainkan. Keduanya lebih memilih bermain dengan mainan lama Doni.
"Alif, dah mau maghrib. Pulang dulu besok main lagi... " ucap ayah Doni mengingatkan Alif.
"Iya... " jawab Alif lalu menepuk-nepuk tangannya membersihkan dari pasir lalu berjalan pulang.
"Baru mau di panggil... " ucap Aji yang berpapasan dengan alif di jalan lalu menggendong Alif.
"Tadi aku main sama Doni seru! " ucap alif yang mulai bercerita seperti biasanya. Alif menceritakan apa saja yang baru di mainkannya dengan cepat sampai nafasnya tersengal-sengal sendiri karena terlalu asik bercerita.
"Adek habis mandi main lagi, keringetan lagi, bau acem lagi deh... Mana main pasir lagi..." ucap Aji lalu menurunkan Alif saat sudah sampai di depan rumah.
"Adek kotor-kotoran lagi... " sambut Nana dengan berkacak pinggang.
Alif hanya cengar-cengir lalu duduk di depan kipas angin.
"Cuci tangan sama cuci kaki dulu adek! " perintah Nana yang langsung di jalankan Alif.
"Mama aku pengen makan telur dadar... " pinta Alif sambil mencuci tangannya.
"Nanti habis sholat maghrib mama bikinin.... " jawab Nana menuruti Alif.
"Oke oke bos! " saut Alif senang lalu kembali duduk di depan kipas angin bersama Aji sembari menunggu adzan berkumandang.
●●●
Arif yang baru pulang kerja sengaja menyempatkan diri untuk sholat maghrib berjamaah di masjid dekat rumah pak janto yang sempat menjadi tempatnya pengabdian. Tapi begitu ia selesai solat dua rokaat sebelum solat, tampak Alif datang bersama Aji dan pak Janto yang ada di kanan dan kirinya.
Alif tampak begitu bahagia, baju yang di kenakannya tampak begitu bagus. Sangat jauh berbeda saat masih bersamanya. Alif tampak jauh lebih terawat, dan sedikit lebih gemuk dari sebelumnya. Alif duduk di barisan ketiga, Alif tampak sangat bahagia bersama ayah kandungnya.
Arif diam-diam melirik Alif yang duduk di samping Aji sambil bercanda dan menghitung cicak yang menempel si dinding.
"Jangan nanti mama takut. Mamakan lagi memasak, nanti mama marah sedih... " larang Alif pada Aji dengan ide usilnya. "Kita solat, pulang, terus makan, solat lagi terus belajar sebentar terus tidur... " ucap Alif mengatur apa kegiatan selanjutnya pada Aji.
"Oke oke... " jawab Aji sambil mencium leher alif yang membuatnya kegelian.
Arif tak menyangka bila Aji akan lebih mudah di terima dari pada dirinya. Bahkan Alif tak pernah tampak sebahagia ini saat masih bersamanya. Rasa iri mulai menyelimuti hati Arif. Nana harusnya masih menjadi istrinya, alif juga harusnya masih menjadi anak sambungnya. Toh Arif tak merasa pernah menalak Nana. Bukankah secara agama Nana masih menjadi istrinya?
Yang menceraikannya adalah hakim, hukum dunia, hukum negara. Secara islam talak cerai ada di tangan suami. Ide gila untuk menuntut Aji dan merebut Nana kembali mulai muncul.
Tapi saat matanya bertatapan dengan tatapan Aji yang begitu angkuh dan dingin saat menyadari kehadiran Arif, saat itulah Arif tersadar idenya akan sia-sia.
Usai solat Aji meminta Alif untuk pulang lebih awal bersama pak Janto dan beralasan akan menyusul setelah selesai berdoa. Arif yang tampak ingin segera pergi karena menyadari Aji menunggunya sudah tampak begitu tak jenak. Sialnya jamaah di belakangnya malah masih berdoa, dan tampak begitu tak sopan bila ia melangkahinya.
"Ngapain kesini? " tanya Aji yang sudah menunggu Arif di atas motornya.
"K-kebetulan lewat aja mas... "
"Ga usah macem-macem..." potong Aji lalu bangkit dari duduknya. "Ku habisi sehabis-habisnya kamu kalo banyak tingkah! " sambung Aji lalu berjalan pulang.
Arif hanya menunduk takut sambil mengangguk dengan cepat. Idenya untuk kembali mendapatkan Nana langsung di kuburnya, sebelum hidupnya yang blangsak makin blangsak lagi.
.
.
.