
"Mama ga bawa ponsel? " tanya Alice saat tengah menunggu jemputan Joe di bandara.
"Wah ketinggalan! Kayaknya kemarin mama charger deh... Tau ah biarin... " jawab Siwi setelah mengecek tasnya.
Alice hanya tersenyum lalu bersandar di bahu Siwi. Alice tampak begitu bahagia, begitu juga dengan Siwi. Apalagi ini kali pertama keduanya pergi kabur. Alice juga sudah tak membawa ponselnya yang biasa, ia bahkan sudah membawa dan menyiapkan ponsel baru.
Tak lama Alice dan Siwi menunggu kedatangan keluarga Joe yang datang menjemput. Sambutan hangat dari orang tua Joe membuat Alice dan Siwi lebih nyaman dan tak canggung meskipun tetap menjaga kesopanan, terutama bagi Siwi. Alice sendiri sudah akrab sejak lama dengan orang tua Joe.
"Mama... Aku janji kita bakal bersenang-senang... " ucap Alice sambil menggenggam tangan Siwi.
Siwi hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia senang bisa pergi dari rumah suaminya. Ia senang ini kali pertamanya merasakan kebebasan, terlepas dari tali kekang di lehernya. Tak akan ada lagi yang memarahinya, mencambuk punggung atau kakinya, tidak ada pula yang akan memakinya di depan umum.
"Aku ga nyangka... " ucap Alice dengan tatapannya yang mulai tegak lurus melihat kedepan. "Aku ga nyangka bisa kabur dari rumah, pergi dari papa sama eyang... " sambung Alice sambil mengeratkan genggamannya.
"Kamu hebat... " puji Joe lalu mengecup kening Alice di depan Siwi.
Alice hanya mengangguk lalu bersandar di bahu Joe dengan tangan yang masih menggenggam ibunya.
"Kita sama-sama... Semuanya bakal baik-baik saja... " ucap Joe menguatkan Alice.
Alice hanya mengangguk tanpa berucap.
"Alice... Tapi bentar lagi kan kamu masuk kampus... " ucap Siwi teringat tentang rancangan masa depan putrinya.
"Biarkan saja... " ucap Alice acuh.
Siwi hanya menghela nafas. Berusaha memaklumi putrinya dengan segala keinginannya yang tengah meledak-ledak. Siwi juga enggan merusak mood dan perasaan Alice untuk saat ini, meskipun Siwi tau waktu seleksi datang dalam hitungan hari.
●●●
"Gapapa... Habis di obati nanti semuanya baik-baik saja... " ucap Nana menenangkan Alif lalu menggecup keningnya.
"Iya... " jawab Alif sambil mengangguk pelan dan memeluk Nana.
Sarah menatap Nana dan Alif penuh tanya. Mungkin saudaranya Arif, tak mungkin istri atau anaknya kan Arif masih bujang... Batin Sarah yang dari tadi terus berada di sisi Arif.
"Mama... " panggil Alif lalu tiduran berbantal pangkuan Nana. "Ustadz kenapa di pukul orang? " tanya Alif sedih.
Nana hanya tersenyum sambil menggeleng pelan. "Mama juga tidak tau... " jawab Nana lembut lalu mengusap kepala Alif dengan lembut.
"Kasian ustadz jadi sakit ya..." ucap Alif lalu memeluk pinggang Nana.
Nana hanya mengangguk pelan lalu mengelus kepala Alif sambil berdoa agar Arif baik-baik saja. "Adek berdoa biar ustadz gapapa ya... " ucap Nana yang di angguki Alif.
"Dari tadi aku doa... Alfatihah..." jawab Alif.
"Mbak siapanya mas Arif? " tanya Sarah yang memberanikan diri untuk mendekati Nana.
"Saya... Em... Saya... Saya tetangganya dulu... " jawab Nana takut salah jawab.
Sarah langsung menghela nafas lega. Harapannya untuk menyanding Arif dan lepas dari Arman makin dekat dan nyata.
"Na... " panggil Arif lirih.
"Sebentar... " jawab Nana lalu berjalan masuk kedalam sementara Alif duduk manis menunggu bersama Sarah.