
Alif duduk menunggu pesanannya datang sambil bercerita soal aktivitas di sekolahnya pada Nana. Alif sama sekali tak tertarik untuk bermain prosotan saat menunggu makanannya datang, Alif lebih memilih mengerjakan pr nya karena Aji sudah menjanjikan untuk pergi melihat desain kamarnya.
"Nanti ke tempat adek Ken tidak sih? " tanya Alif.
"Enggak, kan mau ke rumah bapak... " jawab Nana.
"Oh iya aku lupa! Tapi aku pengen ketempat adek... " ucap Alif sambil merapikan barang-barangnya setelah mengerjakan pr. "Papa adek ken di ajak pulang boleh tidak? " tanya Alif.
"Ya gak boleh dong, nanti kalo adeknya kangen mamanya gimana? " jawab Aji.
"Ya kan ada mama, nanti kalo dia nangis tinggal di ajak mama aja, di diemin mama... " Alif tak mau kalah.
"Nanti adeknya bobo dimana kalo nginep? " tanya Aji.
"Ya sama kita... " jawab Alif kekeh.
"Ga bisa adek, nanti mama repot... " tolak Nana. "Kalo adek pengen main sama adek Ken, adek nginep di rumah oma... " sambung Nana.
Alif langsung cemberut mendengar kedua orang tuanya yang menolak keinginannya untuk membawa Ken pulang.
"Nanti aku yang urus... " paksa Alif.
"Adek nginep tempat oma... "
"Aku terus yang menginap... " sela Alif lalu menggebrak meja.
Aji hanya diam menatap perdebatan anak dan istrinya. Bingung ingin memihak pada siapa, apa lagi Alif sudah mulai tantrum. "Em... Hari ini kan kita mau renovasi kamar... " Aji berusaha mengalihkan pembicaraan.
Tak selang lama setelah Aji mengalihkan pembicaraan datang makanan yang di pesan, sungguh bagai penyelamat bagi Aji. "Kita makan dulu yuk... Nanti kita liat desain kamarnya adek... " ucap Aji berusaha menghibur Alif.
"Iya nanti adek pilih meja belajar ya... " ucap Aji dengan senang hati menuruti permintaan Alif.
●●●
Pertemuan Arif dan Alif saat sedang membuang sampah di bandara benar-benar membuat Arif merindukan Alif dan Nana. Masih terlukis dengan Indah dan jelas dalam memorinya, setiap saat yang di habiskannya bersama Nana dan Alif.
Berumah tangga dengan Nana terasa sangat berbeda saat bersama Zulia yang apa-apa tak bisa menghandle. Masak tak becus, rumah tak terawat, tubuhnya juga jadi begitu membengkak karena hamil. Itupun tubuhnya sendiri tak terawat. Rambutnya kusut, wajahnya kusam. Belum lagi tuntutan yang di minta Zulia setiap kali Arif pulang kerja.
Terbayang kehidupannya yang begitu terurus saat bersama Nana. Bisa mengurus rumah, mau membantu keuangan, tubuhnya begitu molek terawat, wajahnya berseri, dan yang paling penting tak banyak menuntut. Menghidupi Nana dan Alif rasanya lebih mudah dari pada harus menghidupi Zulia dan calon anaknya.
Memang zulia dulu masih perawan, anak di perutnya juga jelas anaknya. Tapi rasanya begitu argh... Tiap keluhan terus saja bisa terucap tiap hari. Melelahkan.
"Kalo saja aku ga selingkuh... " itu terus penyesalan yang terlintas dalam pikiran Arif sambil memandangi tudung saji yang selalu kosong tanpa makanan di dalamnya.
Sangat berbeda saat bersama Nana dimana selalu ada makanan di balik tudung saji. Sekarang nasipun tidak ada, kalaupun ada harus ia sendiri yang menanaknya. Zulia benar-benar berbeda jauh dari pada Nana. Zulia tidak dewasa, belum siap berumah tangga, ingin rasanya bercerai saja dan mengajak Nana kembali. Tapi rasanya tidak mungkin.
.
.
.
Jangan lupa buat ikutan giveaway ku ya 💖