My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 34



Aji dan Wulan hanya diam saat eyang Tini mulai tenang dan siap menengahi pertengkaran mereka. Wanita tua itu menatap Wulan dan Aji bergantian lalu mulai buka suara.


"Nana sama anaknya itu sudah bukan urusan kita lagi... Dia yang murah, hamil di suruh gugurin ga mau, kita kasih uang buat ganti untung masih ga mau... " ucap eyang sambil beberapa kali menghela nafas.


"Kamu ini wanita tua tidak punya hati ya?! " Wulan menanggapi dengan sinis dan kesal. "Bagaimana bisa seorang wanita yang paham bagaimana punya anak, hamil, melahirkan, berkeluarga, berpasangan, bisa berkata begitu kejam sepertimu!" kesal Wulan yang sudah tak habis pikir lagi dengan keluarga suaminya yang seborok ini.


Aji langsung menampar pipi Wulan dengan cukup keras. Eyang langsung menutup mulutnya dengan tangan keriputnya saat melihat Aji menampar Wulan.


"Apa-apaan kamu ini?!! " bentak Wulan tak sabar lagi.


"Kamu ini kelewat kurang ajar ke eyang! Ga masalah kalo kamu maki-maki aku! Tapi jangan kurang ajar ke eyang!! " balas Aji membentak Wulan.


Wulan dan Aji bersitegang soal tata krama, Wulan yang enggan menghormati dan tunduk di bawah perintah Aji dan para tetua di keluarganya. Sementara Aji yang memaksa Wulan untuk menjaga sikapnya.


"Bahkan aku tidak pernah sekejam kamu dan keluargamu itu!! " bentak Wulan setelah banyak percekcokan.


"Apa maksudmu kejam? Kamu bakar pasar lama, menggusur kota tua, menyogok KPU. Apa itu tindakan terpuji? Apa itu bentuk kelembutan? Apa itu bentuk keadilan? " serang Aji tak mau kalah.


"Itu sudah lagu lama! Bahkan pembantaianpun sah dalam politik! Setidaknya aku tak sekejam Hitler tak sekeras Kim Jong-un. Toh aku tidak memaksa orang lain untuk menggugurkan anakku, aku tidak merusak moral dan masadepan gadis polos tak berdosa itu, aku tak menculiknya secara paksa dengan embel-embel asrama, aku tidak menipu! Aku berlaku dengan adil! Toh kotornya aku di dunia politik itu hal wajar! Semua halal di dalam politik. Suap, sogokan, penggusuran, kampanye, pencitraan. Semua halal! Setidaknya aku tidak mengemis pada besanku untuk jabatan ceceremehan!! " ucap Wulan yang benar-benar memojokkan Aji dan eyang Tini.


Keduanya hanya bisa tutup mulut, bingung membalas bagaimana. Tangan Aji mulai terangkat kembali siap menampar Wulan lagi. Tapi belum tangannya mendarat pada tubuh Wulan, Hari langsung menangkap tangan Aji dan menghempaskannya sebelum mengenai Wulan.


Tak selang lama wanita paruh baya yang di panggil Wulan itu datang dengan tergopoh-gopoh. "Ada apa Non... " tanyanya siap menerima perintah.


"Kemasi semua barang-barang punya Aji. Besok siang harus sudah selesai..." perintah Wulan. "Keluarkan dia dan tua bangka itu! " ucap Wulan pada Hari.


Aji kaget bukan kepalang, tak menyangka Wulan akan setegas ini padanya. Ia tak menyangka wanita yang begitu ia bela dan ia banggakan itu akan mengusirnya dengan tanpa hormat. Ia tak menyangka bahkan setelah banyak pengorbanan dan begitu banyak kepercayaan keluarganya pada Wulan, ia bisa dengan teganya membuang nenek juga dirinya.


"Wulan... Dek... " panggil Aji yang mengejar Wulan. Tapi sayang Wulan langsung mengunci pintu begitu ia masuk tanpa peduli lagi dengan Aji yang menggedor-gedor dan memanggilnya di luar sana.


●●●


"...sudah jangan galau lagi, nanti kalo emang jodohmu pasti ada jalannya... Tapi ibu ga menghalangi kamu, kamu yang lebih paham gimana calonmu, gimana cewekmu... Selama kamu nyaman ibu meresrui... " ucap Jamilah, ibu Arif dari telfon.


"Iya Bu... Insyaallah kalo sudah mantap sudah yakin nanti Arif ajak ketemu... " ucap Arif lega setelah menceritakan semua tentang Nana secara detail pada ibunya.


Benar-benar tak ada yang ia tutupi, dari siapa Nana, orang tuanya, Alif, bahkan masalalu kelam Nana juga. Arif berusaha sejujur dan seterbuka mungkin pada ibunya, daripada ia harus menyimpan bom waktu dalam ketakutan.


[crazy up to day, previously thanks to meπŸ˜‹]