My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 38



Arif mengangguk yakin dengan keinginannya untuk menjalin hubungan dengan serius. Tanggapan positif juga di tunjukkan Jamilah, ibunya ustadz Arif yang datang. Bahkan Jamilah juga membawakan masakan buatannya juga untuk bertamu kali ini.


Pak Janto hanya bisa terheran-heran setelah ia menceritakan semuanya pada Arif atas segala kekacauan yang ada dalam keluarganya, kini Arif malah datang dengan maksud baik dan ingin melindungi putrinya. Pak Janto langsung saat itu juga mengabari Nana juga om Bram dan tante Yuni agar datang menemui tamunya. Tentu saja tanggapan pak Janto yang sangat positif ini membuat hati Arif dan ibunya senang.


Tak selang lama Nana datang bersama om, tante juga Alif. Alif langsung turun dari mobil dan memeluk pak Janto lalu di susul Nana dan tante Yuni juga om Bram. Jamilah langsung menyalimi calon besannya itu begitu pula Arif.


"Jadi kedatangan saya dan ibu saya ini untuk ta'aruf dengan Nana, pak bu. Saya sudah memikirkan banyak hal, sudah dengar cerita dari bapak sendiri... " Arif menunjuk pak Janto dengan ibu jarinya. "Saya tidak keberatan, saya juga cukup dekat dengan Alif. Kebetulan saya ini guru ngajinya tiap sore..." ucap Arif melanjutkan perkenalannya lagi pada keluarga Nana yang baru datang.


"Tapi kami ini juga bukan dari keluarga mampu, bukan keluarga pejabat. Kulo niku nggih mung tiang alit... (Saya hanya orang kecil, istilah Jawa untuk menyebutkan diri kalau bukan seorang pejabat atau dari kalangan menengah keatas)" ucap Jamilah merendah. "Dulu saya ini cuma biduan campur sari, bapaknya Arif meninggal waktu jadi TKI... " sambung Jamilah dengan mata yang berkaca-kaca.


Nana dan yang lain hanya diam mendengarkan perkenalan dari Arif juga ibunya yang cukup emosional itu. Sementara Alif duduk di pangkuan pak Janto sambil memainkan legonya.


"Maaf saya jadi keinget masa lalu... " ucap Jamilah sambil tersenyum menguatkan diri.


Ibunya mas ustadz ini kayak aku... Apa mas ustadz gini gara-gara keinget masalalunya... Batin Nana penuh tanya. "Tapi aku baru mau kuliah mas..." ucap Nana yang akhirnya buka suara.


"Tidak apa-apa, aku juga masih mau sekolah. Rencananya aku mau jadi pengurus pondok, jadi ustadz, pengajar di sana. Insyaallah ada fasilitas rumah di sana selama aku belum bisa bikinin rumah. Nanti kamu kuliah, aku juga kuliah... Setidaknya Alif nanti tidak kehilangan figur bapak, dia dapat sayang yang imbang... " jawab Arif. "Jangankan kuliah, Nana mau berkarir juga boleh selama tidak melanggar syariat... " sambung Arif.


"Apa ini tidak terlalu cepat? " tanya om Bram.


Arif hanya tersenyum lalu mengangguk. "Saya berusaha menyegerakan segala niat baik... " jawab Arif.


●●●


Aji yang kembali masuk ke mobilnya hanya bisa diam sambil menyandarkan kepalanya ke stir mobilnya. Wulan masih mengejarnya lalu mengetuk-ngetuk kaca mobilnya berusaha mengajak Aji bicara. Sampai akhirnya Aji menurunkan kaca mobilnya untuk mendengarkan Wulan dengan segala penjelasannya.


"Mas, ini bisa ku jelaskan... " ucap Wulan.


"Bukannya sudah jelas? Apa lagi yang harus ku dengar? " tanya Aji kesal dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Wulan hanya menggeleng lalu mengusap wajahnya dan mulai menangis. "Ini ga kayak yang ada di pikiranmu! " ucap Wulan sambil berteriak histeris.