My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
Part 43



...Cumi goreng tepung adalah yang terbaik!... tulis Alice dalam captionnya setelah selesai makan dan sedikit mengedit.


Hanya Aji dan kakak-kakaknya yang tau apa yang ia kerjakan. Tentu saja semua diam saling menutupi dan mensuport satu sama lain. Menutupi hobi dan apapun yang mereka sukai atau sayangi. Seperti saat Aji bersama Nana kedua kakaknya juga Alice ikut menutupi. Bahkan saat itu Alice sengaja membully temannya agar orang tuanya juga eyang berhenti menyudutkan Aji.


Aji juga menutupi hobi adiknya itu dan kerap memfasilitasi adiknya untuk bolos bila sudah terlihat suntuk. Aji juga kerap masum kedalam konten milik adiknya tiap kali membolos untuk makan bersama. Meskipun memang sejak ia menghamili Nana, Alice jadi kecewa dan menjauhinya. Terlebih saat ia menyerah untuk melawan dan memilih untuk tidak tanggung jawab.


●●●


Nana mulai menata kembali hidupnya dan menerima Arif yang datang tiba-tiba untuk ta'aruf dengannya. Keluarganya jelas merestui hubungannya dengan Arif yang lebih aman dan dapat di awasi. Kuliahnya pun juga mulai berjalan di semester awal dengan baik, punya teman baru, kelompok belajar yang kompak, bahkan Nana boleh menitipkan dagangan di koprasi fakultasnya. Alif juga mulai sekolah di paud dekat rumah. Berangkat dan pulang naik sepeda sendiri, lalu mengerjakan PR di temani tante Yuni sebelum makan siang dan menunggu Nana pulang kuliah.


Tak pernah ada masalah lagi, tak pernah berkonflik dengan tetangga. Fokus Nana hanya kuliah dan anaknya. Masalah Arif dan hubungannya juga begitu fleksibel. Arif tak banyak menuntut, ia juga fokus mencari uang untuk menikahi Nana dan menghidupi Alif.


Berkomunikasi dan berkirim kabar tiap hari, bertemu tiap minggu. Tak ada cemburu tak ada kekangan. Meskipun di akui Nana sebenarnya ia tak ingin menikah dulu. Terlalu nyaman dengan kesendirian dan kesibukannya. Terlalu fokus pada hidupnya yang begitu keras dan penyebab itu semua sebenarnya hanya satu, benteng pertahanan di hatinya yang sudah di buatnya selama itu di gempur dengan mudah oleh Aji yang datang mengejarnya meski tak sengaja dan Aji yang rela menerima amarah bapaknya meskipun akhirnya bapak drop.


"Na, nanti ini kasih bapak ya... " ucap tante Yuni yang memberikan kotak makan siang yang di isi teri balado.


"Iya tante... " jawab Nana lalu memakai helem.


Sepanjang jalan Alif begitu cerewet mengobrol dengan mamanya sambil melemparkan lelucon. Sebelum sampai Nana juga mengajaknya membeli baso dulu yang membuat Alif makin bahagia tiap kali pulang ke rumah pak Janto.


"Nanti ustadz di kasih juga ya... " ucap Nana yang masih tak mau membiasakan Alif memanggil Arif dengan sebutan papa atau sejenisnya.


"Iya, nanti aku yang antar... " ucap Alif semangat.


Jalan masuk ke rumah terutama masjid sedikit terhalang oleh sebuah mobil mewah. Tapi Nana tetap melewatinya begitu saja.


"Aduh mobilnya penuhi jalan... " komentar Alif.


Sesampainya di rumah Alif langsung turun dari motor dan berlari masuk ke dalam rumah. Pak Janto langsung menyambut Alif yang datang dengan ceria. Nana langsung masuk dan menyiapkan makan juga mengurus rumah sementara Alif dengan kakeknya.


Tapi saat Nana dan keluarganya tengah berbahagia dengan kesederhanaannya. Tamu yang tak pernah di harapkan lagi kedatangannya muncul. Aji, ia datang bersama ibunya. Kali ini masih di temani Arif yang terus-menerus menghalangi langkah Aji dan Siwi.


"Alif itu anakku... Kenapa kamu terus menghalangi? " tanya Aji pada Arif begitu sampai dekat rumah Nana.