My Baby Need a Daddy

My Baby Need a Daddy
part 96



Sejujurnya Aji merasa sangat sedih atas apa keputusan Nana untuk menikahi Arif. Aji merasa dirinya lebih pantas untuk menikahi Nana dari pada pria manapun. Ingin sekali saat ini Aji melenyapkan Arif, tapi ia tak mau membuat Nana sedih lagi. Apalagi kalau nanti Alif ikut sedih, toh sebentar lagi Aji tak tinggal di sini beberapa waktu kedepan.


"Adek kamu mau mainan juga ga? " tanya Aji ketika Alif memilihkan sebuah barbie yang di kemas dalam tabung mika bening untuk kado.


Alif menggeleng malu-malu kucing sambil tersenyum.


"Gapapa adek ambil juga... " ucap Aji. "Nanti habis ini temenin om makan ya... " pinta Aji yang di angguki Alif.


Alif memilih buku gambar satu pack ukuran A4 yang tengah diskon. Hanya itu yang paling di inginkannya dan terlintas tidak apa-apa bila meminta itu pada Aji. "Nanti aku mau gambar... " ucap Alif memberitahu alasannya memilih buku gambar.


"Oh yaudah sama ini juga kalo gitu ya... " Aji langsung mengambilkan crayon 48 warna, pensil, spidol, pensil warna, penghapus. "Nanti adek belajar gambar ya... " ucap Aji semangat.


Aji tak mau larut dalam sedih, ia hanya mau terlihat bahagia setidaknya untuk Alif. Ia mau membahagiakan Alif sebelum di tinggalnya lagi. Aji kembali berusaha mengesampingkan egonya atas rasa kepemilikan pada Nana. Aji hanya ingin memberikan waktu terbaik pada Alif.


Usai membeli kado Aji mengajak Nana dan Alif untuk makan siang bersama. Aji membiarkan Alif memilih mau makan apa. Tentu saja Alif tidak langsung memilih, ia berkali-kali bolak-balik dengan bingung mau makan apa di temani Aji yang menggandengnya. Sesekali Aji juga menggendong Alif agar bisa melihat menu.


"Kita makan di rumah aja kalo bingung... " ucap Nana yang kesal menunggu.


"Jangan... Eh! Oke... " ucap Alif bingung, antara ingin makan di mall atau pulang saja agar mamanya tidak kesal menunggu.


"Gapapa kita makan di sini, beli terus kita bungkus makan di rumah... Nanti makan sama bapak juga... " ucap Aji memberi jalan tengah.


Alif mengangguk. Aji segera memesan secara random, jadi hanya membeli ayam keprabon di bungkus lalu buru-buru pulang.


●●●


Broto terus membawa Siwi kemanapun ia pergi, baik bekerja atau pergi olahraga seperti golf bersama rekan-rekannya. Broto tak membiarkan istrinya diam di rumah bersama ibunya lagi. Belum, saat ini bukan waktu yang tepat untuk siwi dan eyang kembali menghabiskan waktu bersama seperti dulu.


"Mas... " panggil Siwi lirih begitu bangun dari tidur saat perjalanan pulang.


"Iya dek? " jawab Broto yang masih memandang tabletnya.


"Aji kok ga pernah balik rumah lagi ya... " ucap Siwi sambil menatap suaminya.


"Lagi main sama anaknya... Katanya baru mau nemanin Alice kalo dah puas main sama anaknya... " jawab Broto yang akhirnya melihat Siwi.


"Tapi ga cek-cok sama mas kan? Sama ibu? " tanya Siwi khawatir.


"Enggak lah... Ga ada kayak gitu... " tepis Broto lalu mengecup kening istrinya.


"Aku pengen anaknya Aji main kerumah... Sehari aja... " pinta Siwi.


Broto terdiam sambil mengerutkan keningnya bingung. "Nanti ya di omongin sama Aji... Biar bujuk anaknya... " ucap Broto berusaha menuruti kemauan Siwi.